Malam Pertama (Gambar oleh mohamed Hassan dari Pixabay)

Setiap pasangan yang baru menikah tentu ingin memiliki malam pertama yang berkesan dan tak terlupakan. Banyak yang berpikir kemesraan pasangan di malam pertama menjadi landasan hubungan rumah tangga yang harmonis. Apa yang terjadi di malam pertama akan membekas dalam ingatan.

Banyak mitos yang beredar tentang malam pertama. Sayangnya, banyak pasangan yang memilih percaya mitos dibanding mempelajari ilmu seksologi dengan benar.

Kenyamanan menjadi faktor penting dalam melakukan kegiatan seksual pertama kali, namun banyak yang melakukannya dengan tergesa-gesa. Supaya kamu tak kecewa di malam pertama dan mendapat kenangan yang manis, pelajarilah teori seksologi sebelum menikah.

Ketahui 5 mitos di malam pertama yang tidak benar berikut ini.

1. Harus Dilakukan di Malam Pengantin
Penantian panjang akhirnya selesai di malam pengantin. Banyak pasangan yang ingin langsung melakukan malam pertama di malam pengantin. Kenyataannya, pernikahan biasanya melibatkan keluarga besar. Rumah akan menjadi ramai. Ingin istirahat juga susah, apalagi untuk melakukan malam pertama. Jadi malam pertama tak harus selalu dilakukan di malam pengantin.

Mungkin sebagian pasangan masih memiliki energi dan ruang yang nyaman untuk bisa melakukan itu pertama kali di malam pengantinnya. Namun, sebagian pasangan cenderung memilih untuk menunda itu dan melakukannya di lain waktu setelah kondisi tubuh kembali pulih dan suasana sekitar mendukung. Pasalnya, badan yang lelah setelah seharian beraktivitas dan keluarga yang masih ramai di dalam rumah membuat kebanyakan pasangan enggan untuk melakukannya langsung.

Karena itulah banyak pasangan memilih langsung bulan madu setelah menikah. Tujuan bulan madu adalah mencari suasana tenang dan nyaman. Karena itu, jika kamu tidak berbulan madu, bersabarlah ketika ingin melakukan hubungan suami istri pertama kali. Tunggu rumah menjadi tenang kembali dan nyaman.

2. Rasa Perih
Banyak pasangan yang merasa nyeri dan kesakitan saat melakukan hubungan suami istri pertama kali. Penyebab nyeri secara fisik diantaranya adalah adanya kondisi patologis di saluran vagina, seperti infeksi atau endometriosis, atau gangguan ekskresi pada kelenjar bartolin yang terdapat di muara vagina, yang memiliki fungsi mengeluarkan cairan pelumasan saat melakukan hubungan intim. Dengan pengetahuan yang cukup, hubungan suami istri di malam pertama seharusnya tidak bikin perih.

Kamu bisa menghindari nyeri saat berhubungan intim pertama kali, penting menjaga situasi yang nyaman untuk kedua belah pihak, kesehatan dan kebersihan alat kelamin baik untuk suami maupun istri, dan hindari hubungan intim yang dilakukan terburu-buru, supaya dapat menghindarkan timbulnya rasa nyeri saat berhubungan intim pertama kali.

3. Darah Perawan Tanda Kesucian
Banyak pria yang antusias menanti malam pertama setelah menikah. Alasannya, ingin melihat apakah istrinya masih perawan dengan berdarah atau tidak saat melakukan hubungan seksual. Ada yang meyakini bahwa darah pada malam pertama adalah darah perawan.

Padahal sebenarnya itu hanya mitos yang tidak benar, karena tidak selamanya wanita mengalami hal tersebut meski pertama kali melakukan hubungan seksual. Setiap wanita memiliki tingkat elastivitas selaput dara yang berbeda-beda. Selaput dara ini bisa robek pada sekali berhubungan, ada pula yang tetap utuh meskipun berhubungan berkali-kali.

Keperawanan bukan suatu tanda bahwa seseorang sudah melakukan hubungan seksual. Selaput dara yang ada pada seorang perempuan berbeda-beda. Ada yang rapuh, ada yang kuat. Ini tidak bisa menjadi pertanda. Sehingga darah yang muncul karena pecahnya selaput dara tidak selalu ada di hubungan seksual pertama kali.

Contohnya ada perempuan yang jatuh dari kuda, kemudian selaput dara/hymennya sobek. Ada juga yang sudah berkali-kali melakukan hubungan seks, tapi selaput daranya masih utuh. Jadi kalau tidak ada darah di malam pertama, jangan sembarangan menuduh istri.

BACA JUGA:

4. Makin Besar Makin Puas
Mitos tentang cara memuaskan pasangan di malam pertama banyak beredar. Salah satunya adalah semakin besar ukuran Mr P semakin besar kepuasan pasangan yang didapatkan.

Dilansir Timesofindia, mitos tersebut salah. Karena memuaskan pasangan tidak dilihat dari ukuran, tetapi bagaimana cara merangsangnya dan performa kehidupan seksnya. Kepuasan pasangan juga tidak selalu ditandai dengan orgasme.

Kamu tak perlu mengkonsumsi suplemen yang menyebut bisa memperbesar ukuran Mr P. Karena kepuasan pasangan bisa tercapai dengan adanya pemanasan yang cukup. Bukan ukuran besar kecilnya penis yang bisa memuaskan pasangan. Melainkan, kekerasan penis itu sendiri. Bila penis besar tetapi tidak bisa melakukan hubungan seks dengan baik, bukan tak mungkin justru ejakulasi dini yang terjadi.

5. Orgasme Tanda Keberhasilan
Kebanyakan orang beranggapan kalau orgasme menjadi tujuan utama dalam berhubungan seks. Namun, seorang peneliti seks sekaligus terapis hubungan Sarah Hunter Murray mengatakan, jika terlalu fokus agar pasangan mendapatkan orgasme malah akan membuat keduanya frustasi dalam berhubungan seks.

“Ini (orgasme) hanya bagian dari perjalanan dan bukanlah tujuan. Terlalu fokus untuk mendapatkan orgasme saja dalam berhubungan seks, malah akan membuat kamu kehilangan sensasi, kesenangan, momen bercumbu, sentuhan lembut, hingga perasaan yang dekat dengan pasangan,” jelasnya.

Banyak pasangan yang gagal berhubungan seks akibat pengetahuan seksualitas yang minim. Umumnya, mereka menikmati hubungan seks yang baik justru setelah berhari-hari mencoba, yaitu 10-14 hari. Sebetulnya, hal ini tidak boleh terjadi jika kamu mau belajar tentang seksologi dengan benar. Tetapi, kebanyakan orang jarang mau belajar soal seksualitas, situasi seperti ini akhirnya dianggap wajar.

Orgasme, khususnya pada wanita, tidak bisa dicapai dengan mudah. Tiap wanita memiliki karakteristik yang berbeda. Ingatlah bahwa kenikmatan dan kualitas seks tidak hanya ditentukan oleh orgasme. Jadi, nikmati saja waktu berdua kamu dengan pasangan di malam pertama. Kualitas yang sebenarnya berada pada hati kalian berdua.

Leave a comment