Bertanya Keperawanan Pasangan (Gambar oleh aliceabc0 dari Pixabay)

Tahukah kamu? Bertanya tentang keperawanan pasangan sesudah menikah itu sebenarnya sudah terlambat. Karena setelah terikat pernikahan, ada ikatan yang dilindungi oleh hukum. Kamu tak bisa begitu saja memutuskan hubungan hanya karena rasa kecewa karena istri tidak perawan.

Jangan sampai masalah ini menjadi sumber persoalan keluarga yang baru kamu bentuk. Untuk menghindari penyesalan yang berujung pada ketidakharmonisan keluarga, kamu bisa bertanya sebelum menikah.

Tapi, perlu diingat bahwa pernikahan bukan cuma soal melegalkan hubungan seksual. Pernikahan bukan cuma untuk memenuhi kebutuhan biologis. Memang itu faktor penting, namun ada faktor lain yang lebih penting untuk mencapai keharmonisan keluarga, yaitu kenyamanan lahir batin dengan pasangan.

Tujuan berkeluarga untuk mencapai kebahagiaan lahir batin, untuk meneruskan keturunan, mengasuh anak-anak adalah tujuan mulia. Jadi, sebenarnya hubungan seksual hanya satu di antara sekian banyak tujuan berumahtangga.

Meskipun begitu, banyak yang menempatkan masalah ini menjadi masalah utama. Karena itu, perhatikan 4 hal berikut sebelum kamu menanyakan keperawanan calon pasangan.

1. Mantapkan Hati dan Pilihanmu
Apakah kamu sudah yakin untuk memantapkan hubungan dengan pacarmu? Jika hatimu mantap, kamu boleh memikirkan cara untuk bertanya tentang keperawanannya. Apapun jawaban pacarmu, hatimu tak akan goyah. Karena kamu tahu nilai pacarmu lebih dari sekedar keperawanannya. Kalaupun hasilnya mengecewakan dan kamu ingin mundur, kamu tahu cara yang baik untuk tidak membuatnya terluka.

2. Jaga Komunikasi
Komunikasi adalah hal penting sebelum menikah, sehingga kamu tidak kecewa. Oleh karena itu sebaiknya lakukan pendekatan yang baik tanpa menyinggung perasaan calon istri. Kepercayaan dan kejujuran adalah kunci dari sebuah komitmen pernikahan. Pertanyaan jangan dilakukan terlalu lugas.

Kamu bisa memulai bertanya dengan membahas nilai-nilai yang diyakini pasangan tentang keperawanan. Bicarakan tentang norma di masyarakat secara umum terlebih dahulu, baru menanyakan tentang pola pergaulan calon pasangan.

Kamu akan mengetahui apakah calon pasangan akan tersinggung atau bersedia terbuka tentang keperawanannya setelah serangkaian dialog terbuka. Hindari pertanyaan interogatif, tapi dengan berbagi. Ciptakan suasana yang nyaman dengan pasangan sebelum berdialog.

BACA JUGA:

3. Mulailah dengan Jujur Pada Diri Sendiri
Kejujuran adalah kunci, kamu bisa memulai dengan jujur padanya tentang keadaanmu sendiri. Jangan sampai ketika kamu ditanya balik tentang keperjakaan lalu tidak bersedia menjawab, tapi tetap berharap calon pasangan terbuka tentang keperawanannya.

4. Banyak Mitos Keliru tentang Keperawanan
Kamu harus tahu banyak mitos keliru tentang keperawanan. Banyak yang menganggap perawan atau tidaknya istri dilihat dari ada tidaknya noda darah pada hubungan malam pertama. Atau dengan melihat cara berjalan pasangan untuk menebak keperawanannya. Atau rasa perih saat hubungan pertama kali. Jangan terpancing mitos seperti itu ya.

Satu hal yang harus kamu tahu, selaput dara setiap orang memiliki tingkat elastisitas yang berbeda-beda. Jadi, ada yang tidak pecah dan tidak berdarah pada saat pertama melakukan hubungan seksual. Sehingga, ketika di malam pertama tidak ada darah, jangan langsung menuduh pasangan.

Kamu bisa membahas keperawanan dengan pasangan secara baik-baik. Tempatkan cinta dan kasih sayang sebagai pegangan utama. Caramu mengatasi keraguan sebelum menikah akan menjadi medium pembelajaran dalam rumah tangga kelak.

Leave a comment