Ilustrasi Istri Tidak Perawan (Foto oleh Agung Pandit Wiguna dari Pexels)

Dalam hubungan pernikahan, membicarakan isu seksualitas seringkali dianggap tabu. Meskipun sebenarnya perkara seksual menjadi salah satu persoalan penting di awal pernikahan, banyak yang merasa malu membicarakannya. Tak pelak, banyak yang merasa kecewa setelah menikah karena mengetahui istri tidak perawan.

Persoalan virginitas sebenarnya hanya salah satu persoalan yang bakal dihadapi ketika menikah. Secara umum, kebanyakan pria yang banyak menuntut keperawanan istrinya. Sementara istri merasa malu atau tidak berhak bertanya tentang keperjakaan suami.

Ini dikarenakan norma sosial di masyarakat kita berlaku timpang ketika menilai tentang virginitas. Remaja perempuan sering dihukum atau dicela jika melakukan hubungan seks pranikah dan dianggap perempuan murahan atau diisolasi dari pergaulan.

Sementara remaja laki-laki, mereka yang tidak perjaka dianggap lelaki popular, keren dan layak dikagumi. Ini juga berlanjut dalam hubungan suami istri, ketika seorang wanita menikah dalam kondisi tidak perawan, terkadang dia merasa tidak percaya diri, bersalah, dan menerima jika dicela.

Sebaliknya, suami membanggakan diri jika dia tidak lagi perjaka dan sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Jadi, banyak suami yang merasa kecewa ketika mendapati istrinya ternyata tidak perawan setelah menikahinya. Suami menggunakan mitos tentang keperawanan untuk mengetesnya. Jika ini terjadi padamu, apa yang akan kamu lakukan?

1. Jangan Percaya Mitos
Banyak mitos yang beredar untuk mengetes keperawanan seseorang, antara lain darah pada malam pertama, cara jalan yang mengangkang setelah malam pertama, perih dan sakit saat malam pertama, dan lain-lain. Kalau kamu menggunakan standar tersebut, sebaiknya kamu berfikir ulang. Karena mengukur keperawanan seorang wanita hanya bisa dilakukan dengan tes keperawanan oleh dokter. Jangan sampai karena mitos yang tidak benar, hubunganmu dengan istri menjadi renggang.

Jika memang ingin kejelasan, sebaiknya kamu bertanya langsung pada istri tentang keperawanannya. Meskipun sudah terlambat, karena dia sudah menjadi istrimu, tapi setidaknya kamu merasa tenang dan tidak berprasangka. Untuk menghindari penyesalan yang berujung pada ketidakharmonisan keluarga, kamu bisa bertanya sebelum menikah.

Komunikasikan norma yang dianut calon istri tentang hubungan seksual sebelum menikah. Dari percakapan tersebut, kamu bisa menilai apakah calon istrimu masih perawan atau tidak sebelum menikah. Jadi kamu sudah mengetahui sebelum menikah dan tidak ada penyesalan setelah menikah.

BACA JUGA:

2. Kembali ke Komitmen
Perlu diingat bahwa pernikahan bukan cuma soal melegalkan hubungan seksual. Namun ada faktor lain yang lebih penting untuk mencapai keharmonisan keluarga, yaitu kenyamanan lahir batin dengan pasangan. Ketika kamu sudah menikah, berarti kamu sudah berkomitmen untuk menata keluarga bersama istrimu. Jangan sampai alasan tidak perawan membuat komitmenmu goyah.

Kembali ke tujuan pernikahan sebagai tujuan bekeluarga. Tugas utama keluarga adalah memenuhi kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial anggota keluarganya. Mencakup pemeliharaan dan perawatan anak-anak, pembimbingan perkembangan kepribadian anak-anak, dan memenuhi kebutuhan emosional anggota keluarganya. Jangan hanya terjebak pada persoalan di awal menikah sehingga perencanaan keluarga jadi terbengkalai.

3. Ingat Alasan Kamu Memilih Dia
Kamu pasti punya alasan kuat ketika memilih si dia untuk menjadi istrimu. Ingatlah alasan kamu memilih dia saat rasa kecewa menghampirimu. Bukankah sangat disayangkan jika kamu kehilangan pasangan yang telah kamu pilih dengan baik hanya karena persoalan keperawanan?

4. Tak Ada Pasangan yang Sempurna
Menikah dengan siapapun, kamu pasti akan menemui kekurangan pasangan. Sebaliknya, kamu juga tidak bisa menjadi suami sempurna untuk istrimu. Karena itu, terimalah kekurangan istri agar istrimu juga bisa menerima kekuranganmu.

Mungkin benar, istrimu telah melakukan kesalahan di masa lalu. Tapi jika dia berniat memperbaiki masa depan bersamamu, harusnya kamu juga memberi kesempatan karena dia telah menjadi istrimu.
Keperawanan hanyalah salah satu indikator kecil dibanding kesiapan pasangan sebagai calon istri dan ibu yang baik. Pernikahan bukan cuma membahas hubungan seksual. Memang itu faktor penting, namun ada faktor lain yang lebih penting untuk mencapai keharmonisan keluarga, yaitu kenyamanan lahir batin dengan pasangan.

Leave a comment