Masalah Finansial (Gambar oleh 1820796 dari Pixabay)

Dalam pernikahan adalah hal lazim bila kamu menghadapi permasalahan dan konflik. Konflik atau permasalahan tersebut ibarat bumbu penyedap perjalanan kamu membina rumah tangga bersama pasangan. Masalah finansial termasuk salah satu masalah pernikahan yang sering dihadapi oleh berbagai rumah tangga.

Penting bagi kamu untuk mengenali apa saja masalah finansial dalam pernikahan sehingga bisa menyiapkan antisipasinya. Dengan demikian, saat masalah itu muncul, tidak perlu itu menjadi sumber persoalan yang berlarut-larut. Yuk, ketahui apa saja 3 masalah finansial yang sering memicu konflik dengan pasangan dalam pernikahan:

  1. Tidak mau terbuka finansial

Sudah menikah berarti siap berbagi dengan pasangan. Siap berbagi artinya kamu ikhlas bersikap terbuka masalah keuangan juga pada pasangan kamu. Ada banyak masalah pernikahan yang diawali dengan ketidakterbukaan salah satu pihak perihal keuangan. Misalnya, ternyata pasangan memiliki utang yang cukup besar tapi tidak diungkapkan sehingga itu mempengaruhi keuangan rumah tangga. Atau, pasangan enggan mengungkapkan nominal gajinya secara jelas sehingga memicu prasangka dan memperburuk kualitas komunikasi.

Biasakan untuk membicarakan kondisi keuangan secara terbuka sehingga kamu dan pasangan memiliki pemahaman yang sama. Saling terbuka finansial juga akan mempermudah kamu dan pasangan menyusun strategi pencapaian cita-cita finansial bersama.

BACA JUGA:

  1. Berutang tanpa bicara dengan pasangan

Saat sudah berada dalam satu ikatan pernikahan, urusan keuangan menjadi satu antara suami dan istri. Artinya, ketika ada masalah pun itu bisa menjadi masalah suami dan istri. Sebagai contoh, ketika ternyata suami atau istri memiliki utang pada banyak orang tanpa sepengetahuan pasangan dan digugat di pengadilan, pasangan pun bisa terseret imbasnya.

Maka itu, penting sekali untuk melibatkan pasangan sebelum mengambil keputusan finansial besar yang akan berdampak pada keuangan rumah tangga. Misalnya, kamu ingin mengambil utang untuk modal usaha, ajak bicara pasangan kamu untuk mendapatkan sudut pandang lain dan juga dukungan bila perlu. Dengan begitu kamu menghargai keberadaan pasangan kamu dalam putusan tersebut.

  1. Tidak menafkahi keluarga dengan layak

Dalam keluarga konvensional, suami bertindak sebagai pencari nafkah utama keluarga. Sebagai penangung jawab utama, suami wajib memberikan nafkah pada keluarga yaitu istri dan anak agar bisa hidup layak. Kini, seiring emansipasi gender, tidak sedikit kaum wanita yang juga bertindak membantu menutup kebutuhan keluarga bahkan menjadi pencari nafkah utama keluarga. Apapun bentuk keluarga yang kamu pilih atau jalani, pastikan kamu dan pasangan masing-masing mengetahui apa kewajiban finansial terhadap keluarga. Jadi, jangan sampai ada masalah finansial di keluarga karena itu pasti akan menjadi sumber konflik yang bisa berujung fatal.

Leave a comment