Hamil di Masa Pandemi (Gambar oleh BRUNA BRUNA dari Pixabay)

Pemerintah menganjurkan penundaan kehamilan di masa pandemi corona. Kesehatan Ibu hamil dan janin selama pandemi menjadi alasan utama. Karena pada masa awal kehamilan, terutama 8 minggu pertama sangat rawan.

Di trimester pertama  inilah fase krusial pembentukan organ pada janin. Gangguan kesehatan atau kurangnya nutrisi ibu hamil di periode ini bisa memicu risiko cacat pada bayi.  Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, data COVID-19 tidak menunjukkan seorang ibu yang hamil memiliki risiko yang lebih tinggi terkena virus.

Kehamilan menyebabkan berbagai perubahan dalam tubuh dan menghasilkan sedikit gangguan kekebalan tubuh yang dapat menyebabkan infeksi hingga menimbulkan lebih banyak rasa sakit, cedera, dan kerusakan.

Memiliki infeksi virus pernapasan selama kehamilan, seperti flu, telah dikaitkan dengan masalah seperti berat badan bayi yang lahir rendah dan kelahiran prematur. Selain itu, memiliki demam tinggi pada awal kehamilan dapat meningkatkan risiko cacat lahir tertentu, meski jumlah keseluruhan kejadian cacat tersebut masih rendah.

Faktor yang tak terduga seperti terganggu ekonominya karena PHK atau usaha yang lesu juga berpengaruh pada kehamilan. Karena belanja untuk pemenuhan nutrisi jika istri hamil juga akan terganggu.

BACA JUGA: 

Pada masa pandemi ini, layanan untuk ibu hamil di fasilitas kesehatan juga akan terdampak. Perawatan sebelum kelahiran mungkin terlihat berbeda untuk sementara waktu karena pengendalian penyebaran COVID-19 di antara pasien, perawat, dan staf medis.

Biasanya, seorang perempuan hamil memiliki sekitar 14 kunjungan periksa sebelum melahirkan. Jumlah tersebut mungkin akan berkurang setengahnya dan membuat perawatan jarak jauh atau telemedicine akan berperan penting.

Rumah sakit melakukan apa yang mereka bisa untuk meminimalkan penularan antar manusia dan mungkin proses lahiran akan terlihat berbeda juga. Beberapa rumah sakit menyaring semua staf medis mereka, termasuk dengan cara pemeriksaan suhu tubuh pada awal shift kerja.

Pengunjung juga dibatasi, termasuk bagi mereka yang merupakan sanak keluarga dari pasangan suami-istri yang akan melahirkan dengan alasan risiko penyebaran virus corona tidak diizinkan membezuk. Ini jelas bukan suasana yang diharapkan oleh perempuan untuk persalinan mereka, tapi dengan keadaan penyakit menular yang terus meluas, ini merupakan kenyataan yang harus diterima.

Jadi sebaiknya tunda dulu rencana punya anak saat pandemi Corona. Persiapkan kehamilan dengan sebaik-baiknya. Bagaimana kalau sudah terlanjur hamil?

Terlanjur Hamil

Jika memang kehamilan tidak dapat ditunda dan sudah sangat diharapkan kehamilan tersebut tetap harus dirayakan, termasuk selama pandemi seperti ini.

Untuk menjaga kehamilan agar tetap sehat, pastikan ibu makan makanan yang cukup dan bergizi seimbang, tidak lupa minum cukup air putih. Bila tidak ada keluhan seperti perdarahan, nyeri perut hebat dan mual muntah yang berlebihan, ibu bisa melakukan kontrol kehamilan pertama dan usg di trimester pertama, selanjutnya dua bulan kemudian baru kontrol.

“Jangan lupa melakukan kegiatan olahraga ringan untuk menjaga kebugaran, cukup istirahat, hindari stress, rokok dan alkohol yang dapat mengganggu perkembangan janin dan menurunkan daya tahan tubuh ibu. Konsumsi vitamin yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh juga diperbolehkan,” ujar dr Fedrico Patria, SpOG dari POGI, Tim Ahli Siapnikah.org.

Tentunya bila ada keluhan yang mengganggu ibu dapat memeriksakan kehamilan ke RS dengan menuruti protokol kesehatan yang berlaku. “Lakukan bagian Anda untuk menjaga diri Anda tetap sehat. Cuci tangan, jaga jarak sosial, dan tetap dekat dengan penyedia layanan kesehatan Anda selama kehamilan. Mungkin itu bukan yang Anda bayangkan, tapi Anda akan punya cukup cerita untuk disampaikan kepada anak-anak Anda pada masa depan. Jaga kesehatan dan nutrisi  ibu hamil di masa pandemi Corona,” tegasnya.

Leave a comment