Bekerja Setelah Menikah (Foto dari Pexel.com)

Persiapan menikah dan hidup bersama dengan pasangan membutuhkan banyak penyesuaian. Tentu saja penyesuaian itu diperlukan agar bisa mencapai tujuan rumah tangga. Salah satu persiapan yang perlu didiskusikan adalah bagaimana kesepakatan bekerja setelah menikah.

Seringkali pasangan menghendaki calon istri untuk tidak bekerja lagi setelah menikah agar fokus pada rumah tangga. Namun, kendala calon istri bekerja bukan cuma untuk mendapatkan nafkah diri sendiri tetapi juga keluarga. Selain itu calon istri juga membutuhkan ruang untuk mengekspresikan kemampuan dirinya.

Jangan sampai beda pandangan tentang pekerjaan menjadi masalah saat merencanakan pernikahan.  Prinsip awalnya adalah keterbukaan, sampaikan ke pasangan mengapa kamu masih butuh kerja setelah menikah. Sampaikan bagaimana kondisi orangtua yang membutuhkan dukungan finansial dari hasil kerjamu.

Kalau memang pasangan tidak bisa menerima kamu tetap bekerja setelah menikah, tanyakan bagaimana sebaiknya mensiasati kondisi finansial kamu. Diskusikan dengan pasangan kondisi finansialmu yang sesungguhnya.

Dari diskusi ini diharapkan ada masukan membangun untuk kamu dan pasangan. Misalnya, pasangan ingin kamu tidak kerja karena langsung progam hamil. “Minta masukan bagaimana cara memberi dukungan finansial ke orangtua, misalnya pasangan menyanggupi memberikan dukungan finansial seperti yang selama ini kamu lakukan berarti masalah terpecahkan,” ujar Emeldah Suwandi MPSi, Psikolog Keluarga dari Tim Ahli Siap Nikah dalam IG Live beberapa waktu lalu.

Emeldah menambahkan jika pasangan tidak menyanggupi, bisa dibicarakan lepas pekerjaan kantor lalu membuka usaha di rumah. “Mengumpulkan ide dengan pasangan bisa memberi masukan tidak terduga. Kita tidak tahu jalan kesuksesan bersama menanti ke depan jika tidak mencoba,” katanya.

BACA JUGA:

Diskusikan dan sepakati soal pekerjaan dan finansial sebelum menikah. Jangan langsung menempatkan asumsi negatif calon suami ingin membatasi ruang gerak setelah menikah. Lakukan diskusi, bicarakan dalam kondisi rileks.

“Kendala paling utama dalam komunikasi adalah kita selalu berfikir bagaimana kita merespons. Padahal yang utama adalah mendengarkan dulu. Ketika kita mendengarkan kita akan tahu apa maunya apa. Coba terapkan cara ‘I statement’, mulailah pembicaraan dengan mengungkapkan perasaanmu seperti ‘Aku merasa takut kalau nggak bisa mengirimi orangtuaku.’  Fokus pada apa yang kamu rasakan, jangan menyalahkan pasangan dengan mengatakan ‘Kamu begini, Kamu begitu’. Ini bisa membuat calon pasangan terintimidasi jadi sulit untuk diskusi,” papar Emeldah.

Emeldah menyarankan agar mencari waktu yang tepat untuk membicarakan keinginan bekerja setelah menikah. Yang terpenting, lanjut Emeldah, adalah bicarakan kemauanmu dengan nada yang rendah.  “Persiapan menikah memang sering bikin galau. Kuncinya komunikasi, komunikasikan dengan baik maka akan baik hasilnya,” pungkasnya.

Leave a comment