Pacaran Tanpa Hubungan Seks (Gambar oleh Bianca Mentil dari Pixabay)

Pacaran merupakan wujud ketertarikan pada lawan jenis. Masa pacaran juga menjadi masa pendekatan dan penilaian calon pasangan sebelum melangkah lebih jauh ke jenjang pernikahan.

Namun, kamu harus waspada sampai sejauh mana gaya pacaranmu agar tidak menyesal kemudian. Jangan sampai kamu terjerumus ke seks pra nikah karena pacaran yang sehat itu ada kok!

Survei RPJMN 2017 pada remaja 15-24 tahun di Indonesia tentang perilaku pacaran menunjukkan sebesar 65% dari 13.238 remaja laki-laki dan 10.639 remaja perempuan yang disurvei mengaku sudah pacaran. Sebesar 81,4% dari total 23.877 remaja yang disurvei mengaku melakukan pegangan tangan, 40,4% mengaku berpelukan, 19,9% berciuman bibir, dan 6,2% meraba bagian tertentu saat pacaran. Adapun yang mengaku melakukan hubungan seksual saat pacaran adalah laki-laki 5,3% dan perempuan 1,7%.

Dorongan seksual membuat kamu merasa tertarik pada orang lain, bahkan menjurus ingin memeluk, mencium, dan seterusnya yang bertujuan mencapai kepuasan seksual. Perilaku-perilaku yang diarahkan pada tujuan untuk mendapatkan kenikmatan/kepuasan seksual itulah yang disebut sebagai perilaku seksual.

Perlu kamu ingat, setiap perilaku memiliki konsekuensi. Selain itu, karena terkait dengan orang lain, ada nilai-nilai dan aturan baik agama maupun hukum, serta norma di masyarakat yang mengatur tentang perilaku seksual itu.

Hubungan seks sebelum menikah biasanya dimulai dari pacaran. Ada beberapa hal yang dilakukan remaja dalam pacaran sebagai ungkapan kasih sayang misalnya berpegangan tangan, berciuman, meraba bagian tubuh, berpelukan, dan melakukan hubungan seksual.

Pada komunitas remaja dan sebayanya ada istilah KNPI sebagai aktivitas/perilaku seksual remaja. KNPI singkatan dari Kissing, Necking, Petting, dan Intercourse.

Kissing diartikan mencium dengan hasrat seksual. Necking itu artinya mencium di bagian leher atau merangsang di bagian telinga pasangan. Petting diartikan bercumbuan dengan cara menggesek-gesekkan penis ke vagina dengan masih memakai baju, memegang alat vital pasangan, atau mengeluarkan sperma di luar vagina. Intercourse atau melakukan hubungan seksual/bersetubuh selayaknya suami istri.

Pacaran Sehat

Banyak yang bilang seks sebagai pembuktian kesetiaan dan keseriusan. Itu bohong! Pacaran yang sehat pasti akan bertanggung jawab. Oleh karena itu, sebelum resmi menikah, pacarmu tidak akan memaksakan hubungan seks pra nikah.

Pasangan yang masih dalam tahap pacaran sebaiknya saling menjaga satu sama lain. Gaya pacaran sehat bisa menjadi solusinya. Ciri-ciri pacaran sehat yaitu saling menghargai, komunikasi yang nyambung, saling percaya, menjadikanmu pribadi yang lebih baik, dan no free sex.

Debora Basaria, M.Psi., Psikolog – IPPI, Tim Ahli Siapnikah.org saat live IG bersama GenRe beberapa waktu lalu mengatakan pacaran yang sehat adalah menjalani hubungan yang saling menghargai, menghomati, dan jujur. Ini bisa terjadi jika ada komunikasi aktif dan kepercayaan antarindividu.

“Gaya pacaran yang sehat akan memberi efek positif untuk jiwa raga, mendorong pribadi menjadi lebih baik karena saling memoivasi dan memberikan dukungan. Meningkatkkan support dan imun karena lebih happy sehingga fisik dan psikis lebih ok,” kata dia.

Pacaran yang sehat akan menjadi ajang untuk mengenal calon pasanganmu sebelum sampai pada pilihan pasangan untuk selamanya. “Ini bisa meminimalisasi konflik ketika menikah. Banyak yang bilang satu dua tahun pertama banyak konflik setelah menikah. Pasangan yang sebelumnya pacaran sehat tidak akan menghadapi masalah ini. Karena sudah selesai di masa pacaran penyesuasaiannya,” kata Debora.

Hubungan seks sebelum menikah perlu kamu hindari karena banyak akibat yang merugikan. Di antaranya perasaan berdosa, berpotensi terjadi kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), secara fisik belum siap melalui itu (hamil dan melahirkan), belum siap menghadapi pernikahan karena bila terjadi kehamilan biasanya pasangan remaja akan dinikahkan oleh
keluarganya.

BACA JUGA:

Kemudian juga akan berdampak ke bayi yang dilahirkan, akan berhenti sekolah, akses ke pekerjaan menjadi terbatas, aborsi, serta rentan terkena Infeksi Menular Seksual (IMS) dan AIDS. Apakah kamu siap dengan semua akibat itu?

Masa remaja memang masa eksplorasi seksual dan mengintegrasikan seksualitas ke dalam identitas seseorang. Para remaja memiliki rasa ingin tahu yang tidak habis-habisnya mengenai seks. Mereka bertanya-tanya, apakah mereka memiliki daya tarik seksual, bagaimana cara berperilaku seksi,dan bagaimana kehidupan seksual mereka di masa depan.

Remaja sedang mengembangkan identitas seksual yang matang, dan selalu mengalami masa-masa di mana mereka merasa rentan dan bingung dalam perjalanan kehidupan seksualnya karena masa peralihan dari kanak-kanak ke tubuh orang dewasa.

Pengambilan keputusan terkait seksualitas pada diri remaja melalui proses yang berlangsung lama yang melibatkan proses belajar untuk mengelola perasaan-perasaan seksual, seperti gairah seksual dan perasaan tertarik, dan mempelajari keterampilan mengatur prilaku seksual untuk menghindari konsekuensi-konsekuensi yang tidak diinginkan.

Makna Seks yang Sebenarnya

Untuk menghindari hubungan seks sebelum menikah, hindari perilaku pacaran berisiko. Oleh karena itu, pemahaman seputar seksualitas perlu digali agar tidak salah langkah dan menyesal kemudian. Hal yang perlu dipahami seputar seksualitas yakni kata seks itu sendiri.

Seks adalah jenis kelamin, yaitu perbedaan biologis yang dimiliki laki-laki dan perempuan. Perbedaan biologis tersebut dapat dilihat sejak lahir dan pada masa pertumbuhan. Misalnya laki-laki memiliki penis dan perempuan memiliki vagina; perempuan memiliki rahim dan laki-laki memiliki testis.

Selain seks, juga ada istilah identitas gender yakni bagaimana seseorang berpikir tentang dirinya, apakah laki-laki, perempuan, waria, atau priawan. Seksualitas adalah bagian dari diri manusia mengenai jenis kelaminnya, identitas gender dan peran, orientasi seksual,erotisme, kenikmatan, kemesraan, dan reproduksi (WHO,  2006). Seksualitas adalah hal-hal yang dirasakan dan diekspresikan melalui pikiran, fantasi, hasrat, kepercayaan, perilaku, nilai, sikap, praktik serta peran dan hubungan.

Seksualitas mencakup perilaku seksual, perasaan, identitas gender serta peran seksual, orientasi seksual, dan reproduksi. Hal tersebut merupakan bagian dari seksualitas namun
seksualitas belum tentu harus dirasakan dan diekspresikan. Seksualitas dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya fisik, psikologis, spiritual, dan budaya. Dengan memahami kebutuhan seks pada tubuhmu, kamu bisa mengontrol pola pacaran yang sehat.

 

Leave a comment