Tips Mengelola Cicilan Keluarga (Image by Mohamad Trilaksono from Pixabay)

Perekonomian Indonesia dan dunia terjatuh dalam resesi keuangan akibat pandemic Covid-19. Resesi ekonomi berarti risiko mengalami penurunan penghasilan dan kehilangan pekerjaan semakin besar. Dampaknya, banyak keluarga yang merasa kesulitan untuk mengelola cicilan kredit.

Banyak perusahaan menerapkan langkah efisiensi ketat supaya tetap bisa bertahan melewati badai pandemi ini.  Bahkan banyak pula yang melakukan PHK.

Bagi masyarakat, ancaman PHK yang makin besar mau tidak mau perlu disikapi dengan adaptasi keuangan yang serius. Terlebih bila saat ini kamu masih menanggung berbagai macam cicilan yang cukup memberatkan keuangan, lakukan adaptasi secara cepat dan tepat.

Supaya tanggungan cicilan tidak semakin membuat kondisi keuangan keluargamu jatuh, sebaiknya terapkan trik ini untuk bertahan:

  1. Ketahui secara cermat kondisi keuangan terkini

Seberapa besar dampak pandemi Covid-19 terhadap kondisi keuangan pribadi Kamu? Ada orang yang mengalami penurunan pendapatan sekitar 10%. Namun, tidak sedikit juga yang penghasilannya anjlok lebih dari 30% bahkan benar-benar kehilangan pendapatan. Dengan mengetahui seberapa dalam efeknya, Kamu bisa menetapkan strategi penyesuaian yang paling realistis.

Misalnya, pendapatan Kamu selama ini sekitar Rp15 juta, di mana sebesar Rp 4 juta merupakan total cicilan utang yang harus Kamu bayar setiap bulan. Sedang sisanya habis untuk menutup berbagai kebutuhan rumah tangga sehari-hari termasuk uang sekolah anak dan tabungan rutin. Akibat pandemi, penghasilan Kamu menurun 20% atau berkurang sekitar Rp3 juta menjadi tinggal Rp12 juta.

Dengan nilai cicilan wajib dibayarkan sejumlah Rp4 juta, maka sisa pendapatan yang digunakan untuk menutup kebutuhan sehari-hari tinggal tersisa Rp8 juta. Tanpa penyesuaian pengeluaran melalui penghematan, keuangan Kamu berisiko defisit hingga Rp3 juta.

BACA JUGA:

  1. Perinci daftar cicilan utang

Selanjutnya, buatlah daftar jumlah dan jenis cicilan utang yang wajib kamu bayar tiap bulan. Misalnya, KPR, KTA, hingga cicilan kartu kredit bila ada. Supaya beban cicilan maksimal memakan 30% dari total pendapatan rutin, kamu perlu menekan beban cicilan dengan berusaha melunasi lebih awal cicilan berbunga mahal. Seperti misalnya cicilan kartu kredit atau KTA. Dengan begitu, keuangan bisa tetap aman karena nilai utang tidak melebihi batas normal yaitu 30%.

  1. Jalankan penghematan

Kamu sudah tahu berapa beban cicilan yang wajib dibayarkan di tengah penurunan pendapatan yang cukup besar. Mau tidak mau supaya keuangan tetap aman, Kamu perlu menerapkan penghematan keuangan dengan fokus pada pos-pos prioritas. Misalnya, pos belanja dapur, pos kebutuhan sekolah anak dan pastinya pos pembayaran cicilan.

Untuk pos belanja dapur, seringkali orang keliru membedakan mana yang sebenarnya kebutuhan dan mana yang sekadar gaya hidup. Contoh mudah, sebenarnya makan tiga kali sehari dengan menu gizi seimbang sudah memadai kebutuhan Kamu, jadi tidak perlu juga, kan, membuat atau jajan camilan-camilan yang bisa membengkakkan pengeluaran dapur?

Dengan 3 langkah mengelola cicilan di atas Kamu bisa bertahan melewati badai resesi gara-gara pandemi Covid-19 ini. Jika cicilan keluarga aman, kamu pasti merasa tenang sehingga bias tetap semangat bekerja dan menjaga kesehatan.

 

Leave a comment