Keluarga Harmonis

Di Indonesia, pendidikan seks sering dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Banyak orangtua yang memberikan jawaban bohong atau samar-samar ketika anak menanyakan tentang seksualitas. Padahal pendidikan seks bukan berarti orangtua mengajarkan bagaimana sexual intercourse (bersenggama), tapi bagaimana anak lebih mengetahui dan menghormati organ-organ reproduksinya.

Karena itu, orangtua sebaiknya memberikan pendidikan seks pada anak sejak dini, sejak usia balita. Tak sedikit orangtua yang masih ragu untuk mengajarkan pendidikan seks pada Si Kecil. Selain merasa tabu, orangtua terkadang merasa bingung untuk memilih cara yang tepat.

Pendidikan seks sedini mungkin pada anak merupakan upaya memberikan anak informasi yang benar mengenai pendidikan seks. Orangtua mesti ingat bahwa sudah seharusnya orangtua yang mengajarkan pendidikan seks pada anak, bukannya orang lain. Sebab, masalah ini sangat krusial dan sensitif.

Pendidikan seks punya banyak manfaat bagi Si Kecil. Mulai dari membuat mereka bisa  lebih berhati-hati dalam pergaulan, bahkan terhindar dari kekerasan atau pelecehan seksual.

Peran orangtua amat penting agar anak mendapatkan pendidikan seksual yang pas. Pendidikan seks yang sesuai takarannya sangat penting untuk menghindari gangguan psikologis. Sebab, anak yang terpapar visualisasi seks berlebihan akan terlalu memusatkan diri pada seks. Nah, kalau kondisi itu terjadi pada umur pubertas, orangtua perlu khawatir.

Mengajarkan pendidikan seks pada anak disesuaikan dengan tahapan perkembangannya. Sesuaikan pendidikan seksual dengan usia anak. Berikut panduannya:

– Pada usia 1-2 tahun bisa diajarkan kepada anak penyebutan alat kelamin dengan benar misalnya “penis” pada laki-laki dan “vagina” pada perempuan.

– Pada tahapan usia 3-5 tahun bisa diajarkan tentang perbedaan alat seksual pada perempuan dan laki2 dan dijelaskan tentang fungsinya secara sederhana. Disini juga dikenalkan pada anak ada organ-organ tubuh yang tidak boleh diperlihatkan dan disentuh oleh orang lain kecuali ayah/ibunya.

– Usia 5-8 tahun saat anak-anak sudah mulai bersosialisasi dengan teman-temannya maka mulai diajarkan tentang peran gender, yaitu peran antara perempuan dan laki-laki. Kalau dalam Islam mulai memisahkan tempat tidur antara anak perempuan dan anak laki-laki.

– Usia 8-12 tahun anak mulai memasuki usia pubertas sudah bisa  dijelaskan perubahan-perubahan yang terjadi pada anak dan organ-organ seksualnya sudah mulai berfungsi seperti orang dewasa. Di fase praremaja biasanya anak mempunyai rasa penasaran dan keingintahuan yang kuat. Makanya, orang tua mesti bisa memberikan jawaban dan bimbingan yang tepat.

BACA JUGA: 

Orangtua hendaknya memiliki pengetahuan yang lebih luas sehingga bisa menjawab rasa ingin tahu anak. Ketika anak sudah mulai bisa bicara, orangtua bisa memperkenalkan alat reproduksi dengan nama yang sebenarnya dan menghindari menggunakan istilah. Misalnya “burung” utk alat kelamin laki-laki.

Orangtua sebaiknya bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan seks pada anak. Mulai dari bagaimana tubuh bekerja, jenis kelamin, ekspresi seksual, dan nilai-nilai lainnya. Karena anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi termasuk tentang seks dan kesehatan reproduksi. Tugas mendampingi anak untuk menghindari pelecehan seksual juga masuk dalam salah satu jutuan pendidikan seks di keluarga.

Jika kamu masih punya pertanyaan parenting, kamu bisa konsultasi langsung dengan tim pakar Siapnikah.org yang terdiri dari para dokter berpengalaman. Caranya mudah: klik kanal TANYA JAWAB di kanan atas, lalu tulis nama dan pertanyaanmu. Tim pakar kami akan sigap untuk membantu.

Yuk share informasi pendidikan seks di keluarga ini ke pasangan, keluarga, dan teman-temanmu, agar makin banyak yang dapat ilmu. Jangan lupa, follow akun Instagram @siapnikah_official dan like akun Facebook @siapnikah.org, biar kamu selalu dapat update terbaru dari www.siapnikah.org.

 

 

Leave a comment