TIGA SYARAT MENUJU KELUARGA BERKUALITAS

Keuangan Keluarga (Foto: Pexels)

Table of Contents

Nurainun Siregar, S.I.Kom

PKB Penyelia Provinsi Sumatra Utara

Bagi generasi muda yang akan menuju jenjang pernikahan perlu diperhatikan beberapa hal agar tujuan pernikahan sesuai dengan yang di cita-citakan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menyebutkan bahwa Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya membangun rumah tangga tidak hanya urusan membangun suami istri akan tetapi hakikat lebih mendalam adalah bagaimana membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Disini diperlukan informasi dan edukasi kesiapan berkeluarga, sehingga terwujud pertumbuhan penduduk yang seimbang dan keluarga berkualitas. Jika membangun rumah tangga dibekali informasi dan edukasi yang benar maka  kualitas penduduk, peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga, pengaturan kehamilan dapat terwujud dengan baik dan benar. Kualitas penduduk merupakan kondisi penduduk dalam aspek fisik dan non fisik yakni derajat kesehatan, pendidikan, kesehatan, produktivitas, tingkat sosial, ketahanan, kemandirian dan kecerdasan yang menjadi ukuran dalam kemampuan dan kenikmatan hidup layak.

Baca juga: Siap Nikah? Waktunya Pelajari 3 Tujuan Keluarga

Pernikahan merupakan hal yang baik, sebab merupakan momen penting dalam hidup seseorang. Selain menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan, pasangan yang baru menikah juga harus mempersiapkan 3 (tiga) syarat sehingga menuju keluarga berkualitas. Adapun  syarat-syarat nya yaitu :

  1. Siap Nikah Siap Umur

Siap Nikah Siap Umur. Berdasarkan UU Nomor 16 Tahun 2019, usia legal untuk menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) di Indonesia adalah 19 tahun. Adapun usia menikah idel menurut BKKBN, usia ideal bagi pasangan untuk menikah adalah minimal 25 tahun untuk laki-laki dan 21 tahun untuk perempuan. Usia ini ditentukan dengan pertimbangan psikologis atau mental, fisik, emosi, sosial, keterampilan hidup, hingga finansial. Hal ini untuk menghindari risiko yang bisa terjadi karena menikah tanpa persiapan.

Percayakah, umur seseorang dalam membangun rumah tangga menjadi salah satu faktor membuat langgeng dan harmonis pasangan rumah tangga, bila suami dan istri punya jarak usia yang ideal tebntu tingkat kedewasaan dan kesiapan yang matang untuk membina sebuah keluarga. sejumlah penelitian mancanegara menunjukkan data statistik dari berbagai studi menyarankan dalam sebuah studi terbitan Journal of Social and Personal Relationship tahun 2012 mengatakan bahwa 25 tahun adalah usia untuk menikah yang paling ideal. Sementara itu, Biro Sensus AS pada tahun 2013, melaporkan bahwa usia ideal menikah untuk pertama kalinya adalah sekitar usia 27 tahun untuk perempuan dan 29 untuk pria.

  1. Siap Nikah Siap Finansial

Siap Nikah Siap Finansial, dalam rumah tangga pastinya diperlukan keuangan dalam menjalankan aktifitas rumah tangga,  mengelola keuangan rumah tangga secara teratur adalah salah satu kunci sukses menciptakan keluarga harmonis dan berkualitas. Banyak cara dan strategi mengatur keuangan rumah tangga yang benar agar seluruh kebutuhan keluarga bisa terpenuhi. Banyak faktor yang mempengaruhi keuangan rumah tangga.

Baca juga: Terapkan Kebiasaan Baik Ini Agar Keuangan Keluarga Terjaga

Mengelola keuangan keluarga merupakan salah satu kunci kesuksesan keluarga. Pengelolaan keuangan keluarga atau rumah tangga lebih rumit dibandingkan mengelola keuangan pribadi karena melibatkan banyak orang. Siapapun yang bertanggungjawab mengelola keuangan keluarga, apakah istri atau suami, dia bertugas mengatur pengeluaran, mulai dari dana operasional, uang sekolah dan jajanan anak, liburan, bantuan sosial atau agama, hingga mungkin jika ada cicilan kartu kredit.   ‘Bendahara’ keluarga didorong lebih kreatif dan hati-hati dalam soal ini, karena keberlangsungan rumah tangga tergantung dari pintarnya mereka mengatur uang. Untuk menghadapi tantangan dan tujuan bersama di masa depan. Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa membantu pasangan yang baru menikah mengelola keuangan dengan baik, yaitu :

  1. Diskusikan keuangan bersama pasangan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membicarakan kondisi keuangan masing-masing secara terbuka dan jujur. Tunjukkanlah semua sumber penghasilan, tabungan, investasi, hutang, dan pengeluaran rutin yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Dengan begitu, kalian bisa mengetahui posisi keuangan saat ini dan menentukan strategi untuk mengatasi masalah atau mencapai tujuan keuangan kalian bersama.
  2. Tentukan rekening yang akan menjadi tempat penyimpanan uang kalian. Setelah mengetahui kondisi keuangan masing-masing, kalian harus menentukan rekening yang akan digunakan untuk menyimpan uang kalian. Ada beberapa pilihan yang bisa kalian pertimbangkan, yaitu:
  • Menggabungkan uang ke satu rekening bersama. Keuntungan dari pilihan ini adalah bisa lebih mudah mengontrol dan mengalokasikan uang kalian untuk berbagai kebutuhan dan tujuan bersama. Namun, kekurangannya adalah mungkin akan kehilangan privasi dan kemandirian dalam mengelola uang kalian sendiri.
  • Memisahkan uang ke rekening pribadi masing-masing. Keuntungan dari pilihan ini adalah bisa lebih bebas dan fleksibel dalam mengatur uang sendiri. Namun, kekurangannya adalah mungkin akan sulit untuk berkoordinasi dan berbagi tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan dan tujuan bersama.
  • Membuat satu rekening bersama untuk menempatkan sebagian uang kalian, namun tetap memiliki rekening pribadi masing-masing. Keuntungan dari pilihan ini adalah bisa menyeimbangkan antara keterbukaan dan kemandirian dalam mengelola uang. Namun, kekurangannya adalah kalian harus menentukan secara jelas berapa persen uang yang akan dialokasikan ke rekening bersama dan rekening pribadi, serta bagaimana cara mengakses dan menggunakan rekening bersama tersebut.
  • Tetapkan tujuan keuangan bersama. Setelah menentukan rekening yang akan digunakan, kalian harus menetapkan tujuan keuangan bersama yang ingin kalian capai. Tujuan keuangan bersama bisa berupa jangka pendek, seperti pelunasan hutang, pembelian barang-barang kebutuhan, atau liburan bersama. Tujuan keuangan bersama juga bisa berupa jangka panjang, seperti memiliki anak, membeli rumah, atau pensiun. Dengan menetapkan tujuan keuangan bersama, kalian bisa lebih termotivasi dan fokus untuk menghemat dan menginvestasikan uang.
  • Buat anggaran bulanan. Untuk mencapai tujuan keuangan bersama, kalian harus membuat anggaran bulanan yang realistis dan disiplin dalam menjalankannya. Anggaran bulanan adalah rencana pengeluaran dan pemasukan uang setiap bulannya. Dengan membuat anggaran bulanan, bisa lebih mudah mengontrol dan mengatur arus kas, serta menghindari pemborosan dan utang.
  • Lunasi hutang secepat mungkin. Jika memiliki hutang, baik yang berasal dari sebelum menikah maupun setelah menikah, usahakan untuk melunasinya secepat mungkin. Hutang adalah beban finansial yang bisa mengganggu kesejahteraan dan kenyamanan kalian sebagai pasangan. Selain itu, hutang juga bisa menimbulkan bunga yang semakin memperbesar jumlah utang kalian. Oleh karena itu, prioritaskan untuk membayar hutang kalian sebelum mengeluarkan uang untuk hal-hal lain yang kurang penting. Buatlah rencana pembayaran hutang yang sistematis dan konsisten, dan jangan menambah hutang baru jika tidak mendesak.
  • Buat dana darurat. Dana darurat adalah uang yang disisihkan untuk mengantisipasi keadaan darurat yang tidak terduga, seperti sakit, kecelakaan, kehilangan pekerjaan, atau bencana alam. Dana darurat bisa membantu mengatasi situasi sulit tanpa harus mengganggu anggaran bulanan atau mengambil hutang. Dana darurat sebaiknya disimpan di tempat yang aman dan mudah diakses, seperti rekening tabungan atau deposito. Besarnya dana darurat yang harus dimiliki tergantung dari kebutuhan dan kondisi kalian, namun umumnya sekitar 3-6 kali pengeluaran bulanan.
  • Mulailah berinvestasi. Selain menabung, kalian juga harus mulai berinvestasi untuk mengembangkan uang dan mencapai tujuan keuangan jangka panjang kalian. Investasi adalah cara untuk menanamkan uang kalian ke dalam instrumen-instrumen yang bisa memberikan keuntungan atau imbal hasil di masa depan, seperti saham, obligasi, reksa dana, properti, atau bisnis. Dengan berinvestasi, bisa memanfaatkan bunga majemuk yang bisa membuat uang bertumbuh secara eksponensial. Namun, berinvestasi juga memiliki risiko yang harus kalian pertimbangkan, seperti fluktuasi harga, inflasi, atau kebangkrutan. Oleh karena itu, harus berinvestasi dengan bijak dan sesuai dengan profil risiko, tujuan, dan jangka waktu kalian. Kalian juga harus melakukan diversifikasi, yaitu menyebarkan uang ke berbagai jenis investasi yang berbeda, untuk mengurangi risiko dan meningkatkan peluang keuntungan.
  • Konsultasikan ke pasangan sebelum melakukan pembelian besar. Sebagai pasangan yang baru menikah, harus saling menghormati dan menghargai keputusan satu sama lain, termasuk dalam hal keuangan. Jika ingin melakukan pembelian besar, seperti mobil, perabotan, atau perhiasan, konsultasikanlah terlebih dahulu dengan pasangan. Jangan melakukan pembelian impulsif atau tanpa sepengetahuan pasangan.
  1. Siap Nikah Siap Parenting

Siap Nikah Siap Parenting, mendidik anak bukanlah perkara mudah.  Keluarga adalah bagian  terkecil masyarakat, terdiri atas kepala
keluarga dan beberapa orang yang terkumpul serta tinggal pada satu tempat di
bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Berumah tangga adalah fitrah individu sebagai mahluk sosial untuk membentuk keluarga yang  memiliki fungsi-fungsi yang nantinya akan berkontribusi dalam mendidik, membina, dan menasehati anaknya sehingga memberikan dampak yang besar bagi kesuksesan masa depan anak-anaknya. BKKBN sendiri ada terkait kegiata khusus dalam mendidik anak yang disebut Bina Keluarga Balita (BKB) dan Bina Keluarga Remaja (BKR). Disinilah baru disadari bahwa begitu pentingnya peran program BKKBN dalam Bina Keluarga Balita (BKB) dan Bina Keluarga Remaja (BKR).

Baca juga: 10 Menit Membaca Nyaring, Kaya Manfaat Penting Untuk Anak

Cara pengasuhan yang baik juga mendukung kecerdasan dan melindungi anak dari rasa cemas, depresipergaulan bebas, serta penyalahgunaan minuman beralkohol dan narkoba.  Pola asuh untuk membentuk karakter positif pada anak dapat dilakukan dengan 5 prinsip pola asuh atau parenting yang bisa bunda dan ayah terapkan untuk membantu membentuk karakter positif pada anak :

  1. Orang tua menjadi idola bagi anaknya. Menjadi idola merupakan suatu kebanggaan, artinya orang tua dapat menjadi panutan yang dapat dibanggakan. Maka oleh sebab itu, jika ingin anak kita menjadi karakter yang baik, berikan contoh kepada mereka, misalnya hal-hal positif, tingkah laku baik, sopan santun dan disiplin.
  2. Jangan terlalu memanjakan anak, Agar Si Kecil tidak menjadi anak yang manja, orang tua haru memahami keinginan anak yang baik dan buruk. Misalnya, mainan mana yang harus dibelikan sesuai kebutuhan, waktu yang tepat bermain HP, serta dapat mengawasi dalam memanfaatkan uang jajannya. Jika anak membuat kesalahan, maka tegurlah dengan lembut tetapi tegas dan berikan pehamanan ketika anak, jangan lupa memuji anak kita jika berbuat sesuatu yang baik dan positif.
  3. Luangkan waktu untuk anak setiap hari, Anak mungkin saja bersikap buruk karena ingin diperhatikan oleh orang tuanya. Jadi, sesibuk apa pun Bunda dan Ayah, coba sempatkan waktu untuk terlibat dalam kehidupan Si Kecil. Namun, bukan berarti kalian berdua harus terus-menerus berada di sampingnya. Family timebisa dilakukan dengan sarapan bersama, mengantarnya ke sekolah, datang ke acara yang dilakukan Si Kecil, atau berbincang sebelum tidur mengenai kegiatan yang dilakukannya seharian.
  4. Tumbuhkan sifat kemandirian pada anak. Melatih anak agar mandiridapat ditanamkan dengan cara memberikannya kepercayaan, kesempatan, dan apresiasi. Misalnya, mengajarkan Si Kecil merapikan mainan dan tempat tidurnya sendiri atau membiasakan menyiapkan bekal sekolah. Dalam pembelajaran kemandirian ada beberapa nilai positif yang ditanamkan yakni kemampuan mengambil keputusan, tidak bergantung pada orang lain, kemampuan mengatur diri, tanggung jawab, percaya diri, dan kemampuan berinisiatif.
  5. Tentukan peraturan di rumah dengan menyertai alasannya, menerapkan peraturan bisa membantu anak belajar mengendalikan diri serta membedakan perilaku baik dan buruk. Misalnya, tidak boleh berbicara dengan nada tinggi dan kasar, sebab itu merupakan hal yang kurang sopan, meminta izin terlebih dahulu apabila hendak menggunakan barang milik anggota keluarga lain agar yang punya barang tidak kehilangan.

Referensi :

 

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
2
+1
1
+1
1
+1
0
Scroll to Top