Ilustrasi Pernikahan Dini (Foto: Pexels)

Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Boyolali merilis program Ojo Kawin Bocah atau jangan menikah usia dini. Bupati Boyolali M Said Hidayat memberikan apresiasi atas progam tersebut.

M Said Hidayat mengatakan agar anak-anak yang tergabung dalam Forum Anak Kabupaten Boyolali mampu berpartisipasi dalam pembangunan daerah. Pembangunan tidak hanya fisik saja tetapi salah satunya juga pembangunan di bidang pendidikan.

Pemkab Boyolali dalam membangun menghadirkan dan mempersiapkan generasi ke depan yang jauh lebih hebat dan tangguh. Untuk itu, dibuka ruang, agar anak-anak dapat hadir, turut serta berpartisipasi setidaknya memberikan masukan atas ruang lingkup mereka.

Sementara itu, Kepala DP2KBP3A Kabupaten Boyolali Ratri S Survivalina mengungkapkan bahwa regenerasi kepengurusan Forum Anak Kabupaten Boyolali yang dilakukan setiap dua tahun tersebut sebagai upaya untuk mendukung pencapaian predikat Kabupaten Layak Anak dan memberikan suara kepada pengambil kebijakan.

Menyinggung soal pernikahan usia dini di Kabupaten Boyolali, Ratri mengatakan bahwa di daerah ini, ada 170 pasangan yang sempat datang ke kantor DP2KBP3A Kabupaten Boyolali untuk meminta surat rekomendasi. Sehingga, pihaknya membuat sebuah program kegiatan Ojo Kawin Bocah.

Program Ojo Kawin Bocah tersebut anak-anak disadarkan bahwa pernikahan itu, adalah sesuatu hal yang harus direncanakan dan persiapkan dengan matang. Sehingga, jika belum mencapai usia atau kesiapan sampai ke persiapan berumah tangga maka harus diisi dengan kegiatan-kegiatan lain yang positif.

BACA JUGA: Waspada, Ini Dampak Buruk Pernikahan Dini

Selain itu, kata dia, dilaporkan bahwa untuk angka kasus stunting di Kabupaten Boyolali mengalami penurunan. Pada Desember 2021 angka kasus stunting di Boyolali mencapai 8 persen dan pada November 2022 menurun menjadi 6,6 persen atau 3.989 kasus.

Oleh karena itu, pihaknya terus mendorong masyarakat dengan Program Ojo Kawin Bocah, selain memberikan edukasi dan pemeriksaan kesehatan ibu hamil, juga meningkatkan gizi anak untuk menekan stunting di wilayah ini.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) menolak keras pernikahan dini. Walaupun para remaja ini menikah atas nama sayang, tindakan tersebut tetap dipandang tidak tepat.

“Salah, itu pemikiran yang salah. Kalau memang sayang, harusnya melindungi. Pernikahan di usia yang terlalu muda, berarti risiko kanker serviks makin tinggi.”

Pernikahan dini ini tidak dianjurkan karena ada beberapa alasan yang kuat. Pertama, saat usia masih muda leher rahim yang berpotensi kanker masih terbuka. Serviks atau leher rahim adalah bagian yang menghubungkan vagina dengan rahim. Ketika seorang perempuan menikah di usia di bawah 20 tahun, bagian serviks yang berpotensi terserang kanker masih terbuka. Ketika usia menginjak 21 tahun, bagian itu sudah lebih tertutup.

“Jadi, anatomi leher rahim pada perempuan usia di bawah 20 tahun dan di atas 21 tahun itu sangat berbeda. Itulah kenapa risiko kanker serviks lebih tinggi pada perempuan yang menikah di bawah usia 20 tahun. Ini informasi penting, tapi masih banyak yang belum tahu,” terang dia.

Alasan kedua, setiap hari, ada 50 perempuan Indonesia meninggal karena kanker serviks. Kanker serviks merupakan penyerang nomor dua terbanyak bagi perempuan setelah kanker payudara. Kanker serviks dipicu serangan human papillomavirus (HPV) pada sel-sel leher rahim. Di Indonesia, pada 2018 lalu terdapat 18.279 kematian akibat kanker serviks. Artinya, setiap hari ada 50 perempuan yang meninggal karena kanker ini.

Ketiga, pada usia muda, organ reproduksi belum berkembang sempurna. Mengutip pernyataan dr. Nadia Octavia dari laman klik dokter berhubungan seksual di usia terlalu muda, apalagi di bawah 18 tahun, bisa meningkatkan kemungkinan masalah kesehatan organ intim di kemudian hari.

“Karena di usia terlalu muda, organ reproduksinya belum berkembang sempurna, sehingga risiko terkena infeksi menular seksual (IMS) ataupun kanker jadi makin besar,” kata dr. Nadia Octavia.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar