Ilustrasi Pernikahan Dini (Foto: Pexels)

Pernikahan dini masih banyak ditemui di seluruh dunia. Setiap tahunnya sebanyak 10 juta perempuan di dunia menikah pada usia kurang dari 18 tahun. Hal ini menyebabkan angka kematian ibu dan anak, penularan infeksi menular seksual, dan kekerasan semakin meningkat bila dibandingkan dengan perempuan yang menikah pada usia lebih dari 21 tahun. Yuk, kita cegah pernikahan dini bersama-sama.

Remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun menurut WHO. Sebanyak 18% penduduk dunia adalah remaja, sekitar 1,2 milyar jiwa. Rentang usia ini merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang pesat baik secara fisik, psiklogis, maupun intelektual.

Rasa ingin tahu yang tinggi dan keinginan untuk mencoba hal-hal baru merupakan ciri khas remaja. Hal tersebut tak jarang disertai dengan pengambilan keputusan yang ceroboh atau tidak berpikir panjang, seperti memutuskan untuk menikah muda/ pernikahan dini.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) menolak keras pernikahan dini. Walaupun para remaja ini menikah atas nama sayang, tindakan tersebut tetap dipandang tidak tepat.

“Salah, itu pemikiran yang salah. Kalau memang sayang, harusnya melindungi. Pernikahan di usia yang terlalu muda, berarti risiko kanker serviks makin tinggi.”

BACA JUGA: Kalau Sayang, Hindari Pernikahan Dini karena Berisiko Kanker Serviks

Pernikahan dini ini tidak dianjurkan karena ada beberapa alasan yang kuat. Pertama, saat usia masih muda leher rahim yang berpotensi kanker masih terbuka. Serviks atau leher rahim adalah bagian yang menghubungkan vagina dengan rahim. Ketika seorang perempuan menikah di usia di bawah 20 tahun, bagian serviks yang berpotensi terserang kanker masih terbuka. Ketika usia menginjak 21 tahun, bagian itu sudah lebih tertutup.

“Jadi, anatomi leher rahim pada perempuan usia di bawah 20 tahun dan di atas 21 tahun itu sangat berbeda. Itulah kenapa risiko kanker serviks lebih tinggi pada perempuan yang menikah di bawah usia 20 tahun. Ini informasi penting, tapi masih banyak yang belum tahu,” terang dia.

Alasan kedua, setiap hari, ada 50 perempuan Indonesia meninggal karena kanker serviks. Kanker serviks merupakan penyerang nomor dua terbanyak bagi perempuan setelah kanker payudara. Kanker serviks dipicu serangan human papillomavirus (HPV) pada sel-sel leher rahim. Di Indonesia, pada 2018 lalu terdapat 18.279 kematian akibat kanker serviks. Artinya, setiap hari ada 50 perempuan yang meninggal karena kanker ini.

Ketiga, pada usia muda, organ reproduksi belum berkembang sempurna. Mengutip pernyataan dr. Nadia Octavia dari laman klik dokter berhubungan seksual di usia terlalu muda, apalagi di bawah 18 tahun, bisa meningkatkan kemungkinan masalah kesehatan organ intim di kemudian hari.

“Karena di usia terlalu muda, organ reproduksinya belum berkembang sempurna, sehingga risiko terkena infeksi menular seksual (IMS) ataupun kanker jadi makin besar,” kata dr. Nadia Octavia.

Dalam Kanal Pengetahuan Fakultas Kodekteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM disebutkan kehamilan maupun proses persalinan pada usia muda memiliki risiko atau komplikasi yang berbahaya. Apa saja?

1. Perempuan yang melahirkan sebelum usia 15 tahun memiliki risiko kematian 5 kali lebih besar daripada perempuan yang melahirkan pada usia lebih dari 20 tahun.
2. Kematian pada ibu hamil usia 15-19 tahun lebih sering dijumpai di negara dengan pendapatan yang menengah ke bawah.
3. Bayi yang lahir dari perempuan usia kurang dari 18 memiliki risiko mortilitas dan mobbiditas 50% lebih besar daripada bayi yang lahir dari ibu usia di atas 18 tahun.
4. Bayi lahir prematur, BBLR, dan perdarahan persalinan

Informasi kesehatan reproduksi remaja hanya diketahui oleh 35,3% remaja perempuan dan 31,2% remaja laki-laki. Pendidikan dan pemberdayaan pada remaja sangatlah penting untuk menghindari terjadinya pernikahan dini.

Selain pemerintah dan tenaga kesehatan, peran orang tua terutama ibu sangatlah penting dalam menyampaikan hal-hal mendasar terkait norma dan informasi kesehatan reproduksi remaja. Jika upaya untuk mengurangi pernikahan dini bisa tercapai, maka angka kematian ibu maupun bayipun akan menurun.

Tiap 10% penurunan kejadian pernikahan usia dibawah 18 tahun akan menyebabkan angka kematian ibu juga menurun hingga 70%. Inilah kenapa betapa kesiapan usia pernikahan itu sangat penting. Minimal 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki.

 

Leave a comment