Cegah stunting sejak siap nikah (Foto: pixabay)

Stunting masih membayangi tumbuh kembang anak di Indonesia. Stunting harus segera dientaskan karena akan menghambat momentum generasi emas Indonesia 2045. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pun menekankan pentingnya menyiapkan kesehatan yang prima calon pengantin sebelum melangkah ke jenjang pernikahan untuk mengatasi persoalan stunting ini.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo yang juga Ketua Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting mengatakan mempersiapkan generasi emas 2045 bukan hal mudah. “Pasalnya, stunting masih menjadi masalah gizi utama bagi bayi dan anak di bawah usia dua tahun di Indonesia,” ujar dia.

Ia menjelaskan stunting merupakan kekurangan gizi pada bayi di 1000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Karena mengalami kekurangan gizi menahun, bayi stunting tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita seumurnya. “Tapi ingat, stunting itu pasti bertubuh pendek, sementara yang bertubuh pendek belum tentu stunting,” kata dia.

Hasto mengingatkan pentingnya menyiapkan kesehatan yang prima sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Hasto mengkritik kebiasaan masyarakat yang memilih mengeluarkan biaya hingga puluhan juta untuk sekadar melakukan prewedding, tapi tidak memikirkan hal yang lebih mendesak yakni prakonsepsi.

Menurutnya, prakonsepsi itu sangat murah. Upaya untuk mencegah stunting bisa dilakukan baik oleh calon ibu maupun calon ayah. Calon ibu perlu mengonsumsi asam folat, melakukan pemeriksaan hb (hemoglobin), minum tablet tambah darah gratis kalau di Puskesmas. Biaya untuk persiapannya pun tidak lebih Rp 20.000.

Hasto juga berharap para calon ibu hamil tidak melakukan diet ketat. “Misalnya ingin langsing, melakukan diet ketat, padahal perempuan mengalami menstruasi setiap bulan, bleeding (perdarahan) sebanyak 100-200 cc. Kalau dia kekurangan nutrisi, anaknya bisa stunting, kan repot,” ungkap Hasto.

Sementara, untuk suami hanya perlu mengurangi rokok dan minum zinc supaya kualitas spermanya bagus. “Kalau mau menikah, laki-lakinya itu harus menyiapkan 75 hari sebelum menikah. Karena sperma dibuat selama 75 hari,” jelas Hasto.

Semua hal ini dilakukan untuk memastikan calon pasangan suami istri dan atau perempuan yang sudah menikah dan ingin hamil memiliki kriteria kesehatan yang baik untuk memproduksi, mengandung serta melahirkan anak yang sehat dan berkualitas.

Untuk mengatasi persoalan stunting, berbagai upaya dilakukan BKKBN salah satunya meluncurkan program siap nikah dan kedepannya calon pasangan usia subur atau calon pengantin harus mendaftarkan hari pernikahannya tiga bulan sebelumnya. Calon pengantin akan diminta untuk mengisi platform yang berisikan penilaian status gizi dan kesiapan untuk hamil guna mencegah stunting.

“Platform sedang disiapkan secara bersama-sama oleh BKKBN dan Kementerian Agama (Kemenag),” kata dia. Meski demikian, BKKBN tidak akan mempersulit dan menggagalkan orang menikah. Apabila ada yang tidak memenuhi syarat untuk hamil. Maka BKKBN tentu tidak melarang untuk menikah tetapi akan memberikan masukan dan saran-saran untuk tidak hamil dulu sebelum kesehatannya memenuhi syarat.

Dengan menjaga kesehatan dan kebugaran sejak sebelum menikah, para calon pengantin diharapkan memberikan andil yang besar untuk mencegah stunting pada anak. Namun, menjaga kesehatan itu tak hanya berhenti di situ saja. Upaya mencegah stunting juga perlu dilakukan sejak masa kehamilan.

BACA JUGA: 9 Langkah Menuju Siap Nikah

Berikut cara yang bisa dilakukan pasangan pengantin untuk mencegah terjadinya stunting pada anak.

1. Biasakanlah Pola Makan Sehat
Asupan gizi saat bayi masih dalam kandungan merupakan hal yang penting untuk mengurangi risiko stunting pada anak. Oleh karena itu, sang calon ibu juga harus memperhatikan asupan nutrisinya dengan baik saat hamil.

Cara lainnya yaitu pemenuhan gizi di awal perkembangan anak pada 1000 hari pertama. Salah satunya adalah dengan pemberian ASI eksklusif di 6 bulan awal dan bisa juga dilanjutkan hingga anak berusia 2 tahun. Jangan lupa juga untuk memberikan makanan pendamping ASI yang bergizi dan seimbang.

Pola makan dengan gizi yang seimbang ini perlu dibiasakan sehari-hari. Salah satu contohnya dalam satu porsi makan terdapat sayuran dan buah-buahan, setengahnya lagi terdapat sumber protein (hewani atau nabati) dengan proporsi lebih banyak dari sumber karbohidrat.

2. Perhatikan Kebersihan Air dan Sanitasi
Lingkungan yang bersih mampu menjaga kekebalan tubuh anak, sehingga terhindar dari infeksi. Salah satunya adalah dengan menyediakan sanitasi dan air bersih. Adapun ciri-ciri air bersih adalah tidak berbau, jernih, terasa tawar, dan tidak mengandung zat kimia.

Contoh hidup sehat ialah membiasakan anak untuk cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan. Ini merupakan tindakan tidak langsung untuk mencegah anak menderita infeksi yang merupakan salah satu penyebab stunting.

3. Terapkan Pola Asuh yang Baik
Faktor perilaku juga tak kalah penting, salah satunya adalah keluarga sebagai tempat pertama tumbuh kembang anak. Orang tua sebaiknya memahami edukasi perkembangan kesehatan anak sejak masa kehamilan. Hal ini mencakup pemenuhan gizi saat hamil, serta memeriksakan kandungan empat kali selama masa kehamilan.

Pemenuhan hak anak untuk mendapatkan kekebalan melalui imunisasi juga hal yang tidak boleh dilupakan. Selain itu, kondisi psikologis dan mental sang ibu juga perlu dijaga agar stabil. Oleh karena itu, kerja sama ibu dan ayah tak kalah penting dalam tumbuh kembang anak.

4. Banyak Baca dan Pahami Ilmu Kesehatan
Orang tua juga perlu memiliki informasi dan pemahaman yang baik tentang kesehatan, salah satunya tentang stunting. Pemahaman baik tentang stunting akan mampu memberikan orang tua kesadaran arti pemenuhan gizi bagi anak.

Di era teknologi saat ini, informasi kesehatan ini bisa kita dapatkan dengan mudah melalui internet ataupun buku. Maka dari itu, kegiatan membaca bisa menjadi cara sederhana bagi orangtua untuk memahami stunting.

Persoalan stunting harus menjadi tanggung jawab bersama. Sudah menjadi sebuah keharusan bagi para orang tua untuk berbagi informasi tentang stunting pada lingkungan sekitarnya. Pasalnya, efek jangka panjang dari stunting mampu mengganggu kualitas kecerdasan anak yang berdampak terhadap rendahnya sumber daya manusia Indonesia.

Leave a comment