Mengenal 8 Pantangan Dalam Pernikahan Adat Tionghoa, Apa Saja?

Adat Pernikahan Tionghoa (Foto: IG @karenevent)

Table of Contents

Beberapa kebudayaan masih mempercayai mitos atau pantangan pernikahan bahkan hingga saat ini salah satunya dalam kebudayaan Tionghoa. Selain memiliki kepercayaan dalam melakukan prosesi pernikahan, seperti sangjit dan kalungan, adat Tionghoa juga masih memiliki pantangan.

Ada beberapa pantangan yang berkaitan dengan pernikahan adat Tionghoa. Pantangan ini sudah dianut sejak turun-temurun. Tentu saja setiap pantangan yang ada memiliki alasannya sendiri.

Lalu, apa saja pantangan tersebut? Berikut penjelasannya.
1. Tidak boleh menjadi pengapit pengantin lebih dari tiga kali
Pengapit pernikahan seperti bridesmaid dan groomsmen yang membantu mempelai di hari pernikahan akan didandani dengan gaun atau jas yang menyerupai sang pengantin. Meskipun tugas ini mulia karena sudah menyediakan waktu selama seharian untuk membantu pengantin, namun tugas ini tidak boleh dilakukan lebih dari tiga kali. Konon katanya, seseorang yang sudah pernah menjadi pengapit lebih dari tiga kali akan mengalami berat jodoh.

2. Calon pengantin tidak boleh menggunakan baju pengantin sebelum acara pernikahan
Adat Tionghoa mempercayai bahwa apabila seseorang yang belum menikah memakai baju pengantin sebelum menikah, maka orang tersebut akan susah mendapat jodoh. Maka dari itu, baik itu wanita atau pria single tidak boleh memakai baju pengantin, begitu pula dengan pasangan calon pengantin.

3. Akan sial apabila tidak dapat angpao saat acara pernikahan
Bagi keluarga atau orang yang membantu mempersiapkan acara pernikahan, wajib mendapatkan angpao dari pengantin. Mitos yang dipercaya, apabila seseorang yang membantu acara pernikahan tidak dapat angpao, maka mereka akan dirundung kesialan.

4. Perhatikan jarak umur pasangan
Ada beberapa jarak umur yang perlu dihindari, yakni tiga, enam, dan sembilan tahun. Jika kamu dan pasangan memiliki jarak umur yang disebutkan, konon katanya hubungan percintaan tidak akan lancar. Hubungan tersebut bisa berakhir di tengah jalan, kalaupun menikah, kehidupan rumah tangga juga tidak akan bahagia.

Jarak umur yang dipercaya bagus adalah empat tahun. Angka empat dianggap seperti jumlah kaki meja yang menggambarkan dasar rumah tangga yang kokoh. Namun, jika kamu dan pasangan memiliki jarak umur lain yang tidak disebutkan, maka tidak akan berpengaruh pada kehidupan percintaan atau rumah tanggamu.

5. Perhatikan tanggal lahir
Dalam budaya Tionghoa, sebelum pasangan hendak menikah, mereka akan pergi ke peramal dan memberi tahu waktu kelahiran untuk memperhitungkan kecocokan satu sama lain. Seperti pepatah kuno Tionghoa, “orang dengan shio babi dengan orang shio monyet tidak bisa hidup bersama seumur hidup.” Hasil ramalan sangat berpengaruh pada keputusan apakah pasangan akan melangsungkan pernikahan atau tidak.

6. Hindari angka empat dan perbanyak angka delapan
Pelafalan angka empat dalam Bahasa Mandarin (si) mirip artinya dengan kata ‘mati’. Kamu bisa melihat di pusat perbelanjaan atau beberapa gedung, biasanya tidak menggunakan angka empat untuk menunjukkan letak lantai. Biasanya angka 4 akan diganti dengan angka 3A.

Sedangkan angka delapan dipercaya dapat membawa keberuntungan. Hal ini didasari oleh filosofi angka delapan yang tidak berujung, seperti lambang infinity. Angka delapan diharapkan membawa keberuntungan yang tidak pernah ada ujungnya.

BACA JUGA: 12 Langkah Penuh Makna dalam Prosesi Pernikahan Adat Bugis

7. Hindari pergi ke pemakaman atau mengunjungi seseorang yang baru melahirkan
Dalam tiga bulan menjelang pernikahan, calon pasangan pengantin harus menghindari pergi ke pemakaman atau mengunjungi seseorang yang baru saja memiliki bayi. Jika salah satu orang tua pasangan meninggal sebelum pernikahan, maka pernikahan harus ditunda selama 100 hari, karena melangsungkan perayaan bahagia selama berkabung dianggap tidak menghormati orang meninggal.

8. Hal tabu untuk beberapa tamu wanita di hari pernikahan
Selain berlaku untuk calon pengantin, ada juga pantangan yang berlaku untuk tamu wanita. Namun, tak semua tamu wanita terkena pantangan ini. Pada hari pernikahan, bagi wanita yang mengenakan baju putih, wanita hamil, dan seorang janda dilarang masuk ke kamar pengantin.

Itulah delapan pantangan terkait pernikahan dalam kebudayaan Tionghoa. Setiap budaya tentu memiliki nilai-nilai tersendiri yang dianut dan dilestarikan. Hal itu menambah khasanah kebudayaan yang ada di Indonesia.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
1
+1
0
+1
2
+1
1
Scroll to Top