Pasangan Menuju Pernikahan (Gambar oleh Luthvidhi Setiawan dari Pixabay)

Setelah menikah, banyak perubahan yang terjadi. Setiap pasangan harus siap menyesuaikan diri untuk mencapai tujuan keluarga harmonis. Kemandirian menjadi kunci bahagia bersama keluarga. Dengan mandiri, kita bisa meminimalkan campur tangan keluarga dalam rumah tangga.

Keluarga ikut campur segala urusan kita mungkin sangat menyebalkan, membuat kita tidak nyaman, membuat kita marah, tidak senang karena banyaknya aturan yang diberikan kepada kita. Aturan yang diberikan ini membuat ruang gerak kita sangat terbatas, hal ini yang membuat kita jengkel, namun kita juga dapat melihat maksud dan tujuan keluarga terutama orangtua kita, yaitu sebagai bentuk perhatian dan kasih sayangnya pada kita.

Campur tangan keluarga semakin besar jika kita hidup bergantung pada keluarga. Perbedaan sudut pandang antar generasi banyak terjadi sehingga membuat campur tangan keluarga terasa seperti tekanan. Kondisi ini harus diselesaikan dengan kepala dingin dan komunikasi yang efektif.

Pertama, pahami terlebih dahulu maksud dan tujuan orangtua atau keluarga melakukan seperti itu, mungkin ada makna atau maksud yang baik dibalik perilakunya itu. Ketika solusi atau bentuk penyelesaian ataupun tujuan keluarga itu baik dan bisa kita terapkan untuk masalah kita, maka bisa kita jadikan acuan. Namun jika tidak sesuai maka harus dikomunikasikan dengan baik. “Sampaikan bagaimana pandanganmu, harapanmu, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai harapan tersebut,” ujar Dewi Mahastuti, S.Psi., M.Si. – IPPI, Tim Ahli Siapnikah.org.

Kedua, bangunlah komunikasi yang baik dengan orangtua ataupun keluarga lainnya dengan cara saling menghormati satu dengan lainnya, tidak emosi, dan berpikir dengan jernih. Semua pendapat pasti punya latar belakang pemikiran sendiri-sendiri, pahamilah dan carilah solusi yang paling sedikit risiko untuk pemecahan masalah anda. “Berpikir positif karena bukan berarti pendapat kita yang paling benar, dan bukan pula pendapat keluarga pasti tidak sesuai,” jelas Dewi.

BACA JUGA:

Ketiga, tegas dan konsisten ketika mengambil keputusan. Setelah kita mendengarkan dan kita memaparkan pandangan kita, maka hal selanjutnya adalah mengambil keputusan yang tepat untuk pemecahan masalah tersebut, dengan tegas dan berani mengambil serta menanggung risiko dari keputusan itu. Konsisten dengan apa yang kita sudah putuskan, janganlah cepet berubah ketika ditengah jalan ada hambatan yang merintangi. Ketika kita tegas dan konsisten maka orang lain akan melihat dan berpikir ulang untuk ikut campur dalam masalah kita karena kita punya prinsip.

Keempat, ketika orangtua ataupun keluarga yang lebih tua yang memberikan masukan, namun hal tersebut tidak sesuai dengan kita, maka jangan langsung frontal dalam menolaknya.

Mintalah bantuan orang lain yang dapat memberikan masukan pada orangtua, biasanya orang yang dihormati atau disegani oleh orangtua kita, atau dengan memberikan psikoedukasi lewat media elektronik atau cetak ataupun lainnya dengan cara halus dan tidak membuat mereka tersinggung.

“Seperti mengajak dengan halus mendengarkan tausiah bersama di TV ketika pagi hari, dengan catatan kamu tidak perlu membuka pembicaraan atau mengulas tentang masalah tersebut. Mintalah pendapat orangtua terlebih dahulu tentang materi yang disampaikan. Dengarkan dengan baik, barulah kamu memberi komentar jika diperlukan atau temanya sesuai dengan harapan meminimalkan campur tangan keluarga,” pungkas Dewi

Leave a comment