Ilustrasi dekat dengan anak (Foto: Pexels)

Sebagian orang tua terkondisikan menjalani hubungan jarak jauh dengan anak-anak, karena alasan pekerjaan atau pendidikan. Lalu bagaimana ya caranya, walau menjalani long distance relationship alisan LDR-an tapi tetap dekat dengan mereka? Walau berjauhan secara fisik, masih ada cara “dekat” dengan anak-anak di rumah.

Sekilas, mungkin saja ada yang berpikir “kok tega banget, sih?”. Namun, hal seperti ini kembali lagi pada nilai dari setiap keluarga. Misalnya, sang ayah rela berjauhan dengan anak, tetapi di sisi lain, dari segi keuangan keluarga bisa tercukupi dengan baik, bahkan lebih.

Dalam kasus yang berbeda, ada yang memutuskan sekolah lagi, murni karena ingin menjalankan mimpi terpendamnya. Atau ada juga yang melanjutkan kuliah karena mendapatkan beasiswa dari perusahaan tempat dia bekerja. Setiap orang tua punya jalannya masing-masing dalam memperjuangan kehidupan yang layak untuk keluarganya.

Walau berjauhan secara fisik, masih ada cara “dekat” dengan anak-anak rumah. Berikut penjelasan dari Vera Itabiliana, M, Psi, psikolog anak keluarga.

1. Semua anggota keluarga ada titik saling menerima
Kalau anak sudah besar, pertama harus paham dahulu kenapa bapak atau ibunya kerja jauh, atau kuliah lagi. Harus ada kondisi menerima dulu, dari si anak dan orang tuanya. Artinya baik yang pergi dan yang ditinggal sama-sama harus menerima. Ada momen duduk bersama dengan semua anggota keluarga. Kalau yang anaknya masih bayi, harus ada kondisi menerima antarpasangan. Karena kalau salah satu belum bisa menerima berjauhan dengan pasangan, berarti tidak bisa jalan bareng.

2. Tetap ada aturan yang berjalan
Hal ini bisa disepakati ketika ibu dan pasangan melakukan poin satu, untuk sama-sama ada di level saling menerima keadaan, akan melakukan LDR.

Vera menjelaskan, jangan sampai begitu ayahnya pulang, aturan yang sudah dijalankan jadi bubar jalan. Atas nama “mumpung ayah pulang, jarang ketemu sama anak. Yang penting anak happy.” Jangan tunggu salah satunya pulang, dan aturan ini jadi isu atau masalah.

Kalau pola aturannya sudah ada, ketika lagi ada masalah sama anak, jadinya lebih mudah mencari solusinya. Meminimalkan saling menyalahkan antara suami dan istri.

3. Buat jadwal ketemu
Ia mengingatkan, jadwal pulangnya harus jelas, kapan si ayah atau ibu bisa pulang. Atau diakali, jika memungkinkan mengunjungi ayah atau ibu yang sedang di luar negeri atau luar kota.

4. Komunikasi teratur, tetapi jangan standar
Anak butuh sesuatu keteraturan dan kejelasan. Tidak bisa menggampangkan misalnya “iya deh, nanti aku telepon setiap hari, tapi lihat nanti ya waktunya, sesempatnya.” Sebaiknya dibuat setiap hari apa, dan jam berapa. Pada saat komunikasi, jangan standar sifatnya. Misalnya, melulu tanya soal sudah makan atau belum, lagi ngapain dan sejenisnya.

Sebenarnya komunikasi rutin tidak hanya untuk update kabar seperti di atas, tetapi juga harus terjadi bonding. Jadi, buatlah aktivitas yang lucu-lucu, jadi momen video call dengan ayah atau ibunya adalah momen yang ditunggu-tunggu. Misalnya saat lagi video call, ayah atau ibu punya cerita atau lagu baru, tebak-tebakan, hal-hal yang sifatnya interaktif.

5. Hubungan antar pasangan juga harus diperhatikan
Tidak hanya hubungan anak dan orang tua yang harus diperhatikan. Jangan lupakan quality time berdua, bisa dengan video call, dan usahakan untuk mengunjungi pasangan. Karena kontak fisik itu tetap dibutuhkan, sensasinya akan berbeda. “Apalagi kalau anaknya masih bayi atau kecil, kan butuh kontak fisik, nggak sekadar komunikasi lewat video call,” ujar Vera.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
4
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar