Prinsip Keuangan Keluarga (Foto: Pexels)

Setiap keluarga memiliki pemasukan dan pengeluaran yang berbeda sehingga pengelolaan finansial bisa dilakukan dengan felksibel. Untuk memudahkan mengalokasikan pengeluaran, kamu bisa mencoba prinsip 10–20–30–40

Eric Roberge, CFP, financial planner dan founder dari Beyond Your Hammock, perusahaan perencanaan keuangan virtual asal Boston, AS mengatakan kunci pengelolaan keuangan adalah mengambil tindakan dan menggunakan sistem untuk membantu tetap konsisten dalam mengelola uang setiap bulan. Serta, memastikan kamu dapat mengatur pengeluaran, bisa menabung untuk esok, dan memberi ruang untuk menikmati hidup hari ini.

Prinsip 10–20–30–40 disarankan Direktur PT. Panin Asset Management dan penulis buku investasi Rudiyanto melalui blog-nya. Adapun alokasinya seperti berikut ini:

1. Sebesar 10% untuk kebaikan
Besar atau kecil, berapa pun penghasilan kamu usahakanlah untuk selalu berbuat kebaikan. Definisi berbuat kebaikan amat luas, tidak terbatas hanya pada memberikan donasi di tempat ibadah, tetapi juga hal lain seperti berbakti kepada orang tua dan memberikan bantuan kepada orang lain yang membutuhkan.

Bila kamu masih dalam tahap awal berkarier sehingga penghasilan belum besar, bisa lebih kecil dari angka tersebut tetapi usahakan tetap ada. Sebaliknya, persentase bisa lebih besar bila karier atau usaha kamu sudah sukses.

BACA JUGA: Tips Menginvestasikan Dana Darurat Agar Keuangan Keluarga Aman

2. Sebesar 20% untuk asuransi, investasi, dan dana darurat
Alokasi ini disebut juga alokasi untuk masa depan. Dalam konteks keuangan, persiapan untuk masa depan mencakup dana darurat, asuransi jiwa dan kesehatan, dana pendidikan anak, dana pensiun, dana untuk DP rumah (bagi yang belum memiliki), mengembangkan kekayaan, dan dana untuk berbagai tujuan keuangan lainnya.

Untuk pemenuhan masa depan tersebut bisa menggunakan berbagai produk jasa keuangan dan investasi seperti tabungan, deposito, asuransi, reksadana, atau emas. Bila terjadi pengeluaran yang sifatnya darurat seperti masuk rumah sakit atau ada kerabat yang meninggal, maka posnya diambil dari alokasi ini.

3. Sebesar 30% untuk cicilan produktif
Masih dikatakan wajar jika utang dan cicilan yang kamu miliki adalah untuk pembelian aset yang sifatnya produktif, menunjang pekerjaan, dan besarnya cicilan per bulan tidak melebihi 30% dari penghasilan. Contohnya, cicilan rumah, kendaraan, atau peralatan untuk kebutuhan wajib. Untuk rumah dengan status sewa juga bisa dimasukkan dalam alokasi ini.

4. Sebesar 40% untuk kebutuhan hidup
Persentase ini idealnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari termasuk biaya makan, minum, transportasi, tagihan listrik, air, telepon, pulsa telepon, langganan televisi, keanggotaan olahraga, hobi, pakaian, rekreasi dan sebagainya. Semua yang sifatnya kebutuhan pokok, sampai gaya hidup bisa dimasukkan dalam alokasi ini.

Bila dengan contoh alokasi di atas, ternyata tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan, saatnya benahi keuangan kamu. Ada hal yang bisa kamu lakukan yakni menurunkan gaya hidup. Banyak orang menghabiskan uang lebih banyak dari kemampuannya. Cek gaya hidup kami, kurangi atau kalau bisa hilangkan pengeluaran untuk gaya hidup yang kamu rasa tidak perlu.
Bedakan keinginan dengan kebutuhan. Dengan belajar mengendalikan keinginan secara tidak langsung juga membantu menghemat pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu.

Kamu juga bisa meningkatkan penghasilan. Bila semuanya sudah dilakukan dan masih tidak cukup, berarti ini adalah tanda bagi kamu untuk meningkatkan penghasilan.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
3
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar