Pengaturan Keuangan (Foto: Pexels)

Besar kecilnya gaji seringkali berpengaruh terhadap cara mengelola yang tepat sehingga kamu bisa terhindar dari kondisi defisit keuangan. Apalagi jika gaji kamu termasuk gaji UMR. Rencana keuangan merupakan penopang utama kondisi finansial yang kokoh. Gaji pas-pasan bukanlah penghalang seseorang untuk menjaga keuangan stabil.

Selain peningkatan dalam gaji UMR, kebutuhan hidup juga saat ini semakin meningkat. Seringkali orang mengalami kesulitan dalam mengatur gaji bulanan, walaupun gaji sudah meningkat. Tidak jarang, malah kehabisan uang sebelum pertengahan bulan.

Pada prinsipnya dalam pengelolaan keuangan, yang namanya pendapatan harus dihabiskan. Hanya saja cara menghabiskannya harus tepat. Jika tidak, jangankan untuk berinvestasi, untuk kebutuhan sehari-hari saja mungkin kita harus terpaksa berutang untuk memenuhinya.

Cara untuk menghabiskan pendapatan yang baik adalah menggunakan prinsip 40-30-20-10.

1. Alokasi untuk kebutuhan hidup sebesar 40%
Untuk kebutuhan sehari-hari mulai dari biaya makan minum, air dan listrik, transportasi, rekreasi dan lain-lain, usahakan sebesar 40% dari penghasilan.

Jika UMR sebesar Rp3,3 juta per bulan dan kamu tidak memiliki penghasilan tambahan sama sekali, maka kira-kira 40% x Rp3,3 juta = Rp1,32 juta dihabiskan untuk kebutuhan hidup.

Apakah cukup atau tidak? Itu pertanyaan yang sangat relatif. Bila kebutuhan hidup kamu tidak tercukupi maka kamu perlu melakukan penurunan gaya hidup dan memikirkan berbagai alternatif. Misalnya untuk makan sehari-hari kamu bisa berhemat dengan tidak sering makan di luar atau juga bisa mencari warung nasi sederhana di sekitar kantor.

Dalam menanggulangi transportasi, kamu bisa menggunakan transportasi umum atau transportasi online dengan fasilitas diskon yang mereka punya. Kamu juga bisa mencari promosi-promosi yang dilakukan oleh provider telepon untuk menghemat pulsa.

Biasanya kebutuhan hidup merupakan biaya tetap yang umumnya tetap sama, tidak berubah setiap bulannya atau mungkin bisa sedikit mengalami perbedaan tetapi dapat diprediksi sebelumnya. Sehingga penting sekali untuk membuat secara detail anggaran pengeluaran setiap bulannya, supaya dapat menghitung dan melihat, pos-pos mana saja yang bisa dihemat.

Selain itu, kamu juga harus dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

2. Alokasi untuk cicilan produktif sebesar 30%
Dengan harga tanah dan properti yang semakin meningkat, hampir tidak mungkin bagi kebanyakan masyarakat Indonesia untuk bisa memiliki aset tanpa harus berutang. Jadi, memiliki kredit kepemilikan rumah atau kredit kepemilikan apartemen adalah hal yang wajar.

Kemudian, sarana transportasi umum di Indonesia juga belum terlalu baik, sehingga untuk cicilan kendaraan bermotor masih dapat dikatakan wajar.

Sepanjang utang yang kamu miliki adalah untuk pembelian aset yang sifatnya produktif dan menunjang pekerjaan dan besarnya cicilan per bulan tidak melebihi 30% dari penghasilan, maka pengeluaran tersebut masih bisa dikatakan wajar.

Dalam hal sewa rumah atau kontrak rumah juga dapat dimasukkan dalam kategori ini.

Perbedaannya adalah jika menggunakan fasilitas KPR, maka akan mencicil sampai dengan waktu tertentu. Sementara kalau menyewa rumah, maka sudah dipastikan bahwa akan mencicil seumur hidup.

Risiko yang paling besar dalam hal cicilan produktif adalah bagaimana jika tiba-tiba kehilangan pekerjaan karena kondisi perusahaan kurang baik. Kamu harus melanjutkan cicilan pembayaran padahal sumber pendapatan sudah terhenti.

Oleh sebab itu, kamu perlu mempertimbangkan untuk menyimpan dana darurat dan tabungan untuk mencegah hal ini terjadi. Di samping menempuh cara yang aman dengan cara menjaga cicilan tidak lebih dari 30% penghasilan dan memiliki dana darurat untuk menghindari risiko tersebut.

Saat berencana untuk memiliki rumah atau juga kendaraan, namun belum memiliki uang, maka salah satu jalan keluarnya adalah dapat menyimpan 30% dari pendapatan untuk dimasukkan dalam pos cicilan produktif. Sehingga pada saat uang DP-nya sudah terkumpul, kamu tetap memiliki pos untuk cicilan produktif yang tidak mengganggu pengeluaran-pengeluaran yang lain.

BACA JUGA: Mengenal Kakeibo, Tehnik Mengelola Keuangan Keluarga Ala Ibu Rumah Tangga di Jepang

3. Asuransi, investasi dan dana darurat sebesar 20%
Untuk kamu yang menjadi tulang punggung keluarga, maka sebaiknya memiliki dana darurat sebesar 6-12 kali pengeluaran bulanan bagi yang sudah berkeluarga atau 3-6 kali dari yang masih lajang.

Dana darurat bisa disimpan pada instrumen yang mudah dicairkan seperti tabungan, deposito, reksa dana pasar uang dan emas. Namun setidaknya sebagian kecil dari dana darurat tersebut sebaiknya ditempatkan di tabungan yang mudah dicairkan.

Selanjutnya adalah memiliki asuransi jiwa dengan uang pertanggungan paling tidak 10-15 tahun pengeluaran, lalu dilanjutkan dengan melakukan asuransi.

Untuk asuransi kesehatan dan penyakit kritis, kamu disarankan untuk memilikinya, namun kamu juga dapat menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan.

Tapi jika kamu ingin memiliki pelayanan asuransi dari rumah sakit swasta, maka asuransi komersial bisa menjadi pertimbangan. Cara yang lebih efisien untuk menjaga risiko tersebut adalah dengan hidup sehat, pikiran positif, selalu bahagia dan rajin berolahraga.

Setelah dana darurat dan asuransi dimiliki, selanjutnya kamu dapat berinvestasi.

4. Beramal atau donasi sebesar 10%
Ada beberapa hal yang bisa dimasuk Z kan dalam kebaikan disini. Ada kepercayaan yang wajib memberikan donasi/sumbangan/zakat/perpuluhan kepada tempat ibadah masing-masing. Misalnya untuk para Muslim wajib memberikan zakat sebesar 2,5% sedangkan untuk orang Nasrani wajib memberikan perpuluhan sebesar 10%.

Kategori yang disebut kebaikan adalah memberikan sumbangan untuk badan amal yang legal, pengelola panti jompo, panti asuhan dan membantu orang yang membutuhkan. Kebaikan itu penting karena wujud dari rasa syukur yang dimiliki setiap orang atas rezeki yang selalu diterima.

Memberikan uang kepada orang tua juga merupakan salah satu bentuk kebaikan. Jika orang tua sudah tiada, kamu dapat memberi kepada adik, keponakan atau keluarga yang membutuhkan.

Pemberian juga harus bijaksana. Kombinasi dari seluruh hal di atas tentu tidak sedikit, tapi usahakanlah agar setidaknya 10% dari pendapatan bisa disisihkan untuk hal sifatnya kebaikan.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
3
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar