Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Harapan setiap pasangan yang ingin menikah tentunya adalah membangun keluarga yang sehat dan harmonis. Namun, tak dapat dimungkiri, konflik dapat terjadi, apalagi jika pasangan belum siap menghadapi berbagai perbedaan, masalah sehari-hari, termasuk tekanan emosional.
Jika konflik dibiarkan berlarut-larut, bukan tak mungkin masalah itu berkembang menjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Berdasarkan data SIMFONI PPA Kementerian PPPA, puluhan ribu kasus kekerasan masih dilaporkan di Indonesia sepanjang 2025.
Itulah sebabnya, penting untuk memahami cara mencegah KDRT dalam pernikahan sejak sebelum menikah. Dengan memahami pola hubungan yang sehat serta mengenali tanda-tanda kekerasan dalam rumah tangga, hubungan yang aman dan suportif dapat terwujud.
Pentingnya Kesiapan Menikah untuk Hubungan yang Aman

Banyak aspek yang perlu Sobat Siap Nikah persiapkan sehingga terwujud hubungan keluarga yang sehat di kemudian hari setelah pernikahan.
Peran 10 Dimensi Kesiapan Berkeluarga
Konsep 10 Dimensi Kesiapan Berkeluarga yang diusung BKKBN akan membantu pasangan mempersiapkan diri dari berbagai aspek. Misalnya, siap secara finansial, usia, fisik, mental, emosional, hingga moral sebelum pernikahan.
Pasangan perlu memenuhi kesiapan dalam berbagai aspek tersebut. Pasalnya, banyak konflik rumah tangga yang muncul akibat tidak siap menghadapi berbagai perubahan setelah menikah. Sebagai contoh, belum siap berbagi tanggung jawab dan peran atau belum sanggup mengelola emosi dengan baik. Makin matang kesiapan calon pengantin, makin besar pula peluang terciptanya hubungan yang sehat dan minim konflik.
Dampak Kurangnya Kesiapan
Ketika pasangan belum siap menikah, risiko munculnya konflik dalam keluarga akan lebih tinggi. Bahkan, jika dibiarkan sampai berlarut-larut, konflik tersebut dapat memicu kekerasan dalam rumah tangga, baik verbal, fisik, maupun emosional. Salah satu pemicu yang sering terjadi adalah masalah finansial.
Selain itu, banyak pasangan belum siap secara emosional. Akibatnya, pasangan lebih mudah terpancing emosi saat menghadapi masalah dan kesulitan menyelesaikan konflik dengan kepala dingin.
Itulah sebabnya, kesiapan menikah ini penting sebagai fondasi utama hubungan yang sehat di kemudian hari.
Tanda-Tanda Kekerasan dalam Rumah Tangga
Sering kali, KDRT tidak mudah disadari sejak awal karena muncul secara bertahap. Itulah sebabnya, penting untuk mengenali tanda-tanda kekerasan dalam rumah tangga sedini mungkin.
Bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga
KDRT bukan hanya kekerasan fisik. Pada kenyataannya, ada berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga yang sering terjadi dan diabaikan karena tidak ada kontak fisik di sana.
- Kekerasan verbal
Yang termasuk di sini adalah merendahkan, menghina, membentak, serta menyalahkan pasangan jika terjadi suatu masalah.
- Kekerasan emosional
Di sini, KDRT dapat berupa gaslighting (membuat pasangan meragukan dirinya sendiri), menakuti, mengancam akan meninggalkan, dan memanipulasi perasaan.
- Kekerasan finansial
Beberapa contoh kekerasan secara finansial adalah melarang pasangan bekerja, mengontrol keuangan tanpa keterbukaan, atau memberi uang yang sangat terbatas untuk memenuhi kebutuhan hidup.
- Kekerasan digital
Kekerasan ini dapat berbentuk pembatasan dan kontrol ketat atas media sosial pasangan, penyebarluasan informasi pribadi pasangan tanpa izin, dan pengiriman pesan atau menelepon berlebihan untuk memantau pasangan.
Pola Hubungan yang Tidak Sehat
Saat ini, banyak pasangan yang tampak normal dan bahagia di mata orang lain ternyata memiliki pola hubungan yang tidak sehat, bahkan cenderung ke arah toxic relationship. Beberapa contoh pola hubungan tidak sehat ini adalah.
- Terlalu ingin mengontrol, bahkan posesif terhadap pasangannya
- Mudah salah paham dan cemburu
- Mudah marah ketika keinginannya tidak terpenuhi
- Sulit menerima jika pasangan mengemukakan pendapatnya
- Mengancam dan membuat pasangan takut
- Kurang menghargai batasan pribadi
- Mengisolasi pasangan dari keluarga dan teman
Cara Mencegah KDRT dalam Pernikahan

Pencegahan KDRT membutuhkan kerja sama dari kedua pasangan untuk membangun hubungan yang sehat. Tidak bisa hanya salah satu yang memperjuangkan hubungan tersebut. Hubungan yang sehat dibangun melalui sejumlah hal, seperti komunikasi, rasa saling menghargai, dan kesiapan menghadapi semua masalah bersama-sama.
Komunikasi yang Sehat
Komunikasi adalah salah satu kunci dalam membangun hubungan yang sehat, sekaligus mencegah KDRT dalam pernikahan. Dengan komunikasi yang baik, pasangan dapat saling memahami kebutuhan dan harapan masing-masing.
Jika terjadi suatu konflik, biasakan untuk berdiskusi dengan kepala dingin terlebih dahulu. Jangan buru-buru menyalahkan. Fokuslah untuk mencari solusi bersama. Fokus untuk memenangkan perdebatan justru dapat membuat konflik semakin besar. Hal inilah yang biasanya memicu kekerasan dalam rumah tangga.
Pengelolaan Keuangan
Salah satu sumber konflik yang paling sering berakhir dengan KDRT adalah masalah finansial. Karena itu, pasangan harus terbuka soal kondisi dan tujuan keuangan jauh-jauh sebelum menikah.
Pasangan dapat mendiskusikan sejak awal pembagian peran dan tanggung jawab keuangan, prioritas kebutuhan keluarga, serta cara mengelola tabungan dan pengeluaran. Pengaturan keuangan yang sehat nantinya akan membantu mengurangi tekanan dan beban dalam rumah tangga.
Peran dan Tanggung Jawab dalam Keluarga
Tanggung jawab keluarga merupakan kewajiban pasangan, bukan hanya sepihak. Dengan begitu, tercipta keseimbangan agar tidak ada pihak yang merasa terbebani atau diabaikan. Hal ini juga sejalan dengan 8 Fungsi Keluarga yang menempatkan keluarga sebagai tempat perlindungan, cinta kasih, dan kerja sama dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, pengambilan keputusan dilakukan bersama, entah soal keuangan atau pendidikan. Contoh lainnya, dalam pengasuhan anak, ayah dan ibu sama-sama terlibat, baik dalam pemenuhan kebutuhan harian maupun emosional. Dengan pembagian peran yang saling mendukung dan adil, hubungan dalam keluarga pun menjadi minim konflik dan seimbang.
Peran Persiapan Pranikah dalam Mencegah KDRT
Persiapan pranikah yang matang akan membantu pasangan agar lebih siap menghadapi berbagai perubahan dan tantangan setelah menikah. Tak hanya itu, dengan persiapan ini, pasangan dapat memahami kehidupan rumah tangga secara realistis.
Cek Kesehatan Pranikah (Elsimil)
Sebelum menikah, penting untuk memastikan bahwa Sobat Siap Nikah sehat secara fisik dan mental. Pasalnya, jika ini diabaikan, faktor ini dapat memicu permasalahan yang lebih serius ketika sudah hidup berkeluarga.
Salah satu langkah yang dapat Sobat Siap Nikah lakukan adalah dengan cek kesehatan pranikah melalui aplikasi Elsimil. Aplikasi ini sendiri merupakan inovasi dari BKKBN sebagai alat skrining kesehatan dan media edukasi bagi calon pengantin (catin) untuk mendeteksi berbagai masalah kesehatan, termasuk stunting.
Lewat pemeriksaan kesehatan pranikah, catin dapat mengetahui kondisi kesehatan, kesiapan reproduksi, termasuk status gizi sebelum mereka menikah.
Kesiapan Menjadi Orang Tua
Menjadi orang tua bukanlah pekerjaan mudah. Sobat Siap Nikah membutuhkan kesiapan emosional serta kerja sama yang baik dengan pasangan. Salah satunya adalah mendiskusikan pola pengasuhan sebelum pernikahan.
Sejak awal, pasangan dapat saling berdiskusi tentang pembagian peran ayah dan ibu, cara mendidik anak, termasuk nilai apa saja yang ingin diterapkan dalam pengasuhan. Jangan sampai nantinya salah satu pihak menanggung peran pengasuhan sendirian, membuat lingkungan yang kurang suportif bagi tumbuh kembang anak.
Membangun Keluarga yang Aman dan Harmonis
Membangun hubungan yang sehat dalam keluarga tidak bisa instan atau hanya dilakukan oleh salah satu pihak. Semua butuh proses, kerja sama, serta komitmen dari kedua pasangan. Itulah sebabnya, pasangan perlu menciptakan rasa aman dan nyaman bersama-sama.
Untuk membangun keluarga yang sehat, perlu adanya komunikasi yang baik dan rasa saling menghargai. Selain itu, pasangan juga perlu mampu menyelesaikan masalah tanpa emosi berlebihan maupun kekerasan. Jika itu terwujud, maka lingkungan keluarga yang aman ini akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga penuh konflik dan KDRT cenderung mengalami masalah emosional dan rasa tidak aman. Sebaliknya, jika lingkungannya sangat suportif, anak akan tumbuh dengan aman dan percaya diri. Itulah sebabnya, hubungan yang sehat tidak hanya penting bagi pasangan, tetapi juga bagi masa depan keluarga.
Jika Sobat Siap Nikah ingin mengetahui kesiapan menuju pernikahan, manfaatkan fitur konsultasi maupun layanan Cek Kesiapanmu! yang tersedia di website Siap Nikah. Mempersiapkan diri secara matang sejak awal sebelum pernikahan akan membantu pasangan untuk mewujudkan rumah tangga yang sehat dan aman.