Orangtua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga. Orangtua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh, dan membimbing termasuk memperhatikan kesehatan anak-anaknya untuk mencapai tahapan tertentu. Calon pengantin harus sudah memulai persiapan menjadi orangtua.

Orangtua harus mampu menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat karena pengetahuan yang pertama diterima oleh anak adalah dari orangtuanya. Sebelum menjadi orangtua hebat, calon pengantian harus mengetahui secara mendalam tentang berbagai hal yang berhubungan dengan persiapan-persiapan menjelang memasuki lembaga pernikahan, yaitu antara lain:

  1. Persiapan Spiritual/Moral

Dalam diri setiap orang beriman selalu terdapat keinginan bahwa suatu hari nanti akan mendapatkan jodoh yang saleh/salihah, yang taat beribadah, bisa bersama-sama dalam mengarungi kehidupan di dunia, dalam suka dan duka, dan akhirnya bersama-sama masuk surga selamat dari neraka.

Dalam ajaran agama Islam, di dalam Al-Qur’an bahwa “Wanita yang keji, adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji dan wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik,” (QS An-Nuur: 26). Maka, bila seseorang memiliki keinginan untuk mendapatkan pasangan yang saleh/salihah, harus diupayakan agar dirinya menjadi saleh/salihah terlebih dahulu.

Untuk menjadikan diri kita seorang yang saleh/salihah, maka bekalilah diri dengan niat bukan hanya semata untuk mencari jodoh, tetapi untuk beribadah dan mendapatkan ridhoNya.

  1. Persiapan Konsepsional

Memahami konsep tentang lembaga pernikahan sebagai sarana untuk beribadah dan meningkatkan pahala dari Tuhan YME. Pernikahan sebagai wadah terciptanya generasi robbani, penerus perjuangan menegakkan agama Allah (dienullah).  Adapun jika dari pernikahan diikuti dengan lahirnya anak yang saleh/salihah, maka sang anak akan menjadi penyelamat bagi kedua orangtuanya

  1. Persiapan Kepribadian

Dalam hal ini, belajar untuk mengenal (bukan untuk dikenal). Seorang laki-laki yang menjadi suami atau seorang perempuan yang menjadi istri, sesungguhnya awalnya adalah orang asing bagi kita, yang mungkin mempunyai latar belakang, suku, dan kebiasaan yang berbeda. Semua perbedaan tersebut dapat menjadi pemicu timbulnya perselisihan.

Bila perbedaan tersebut tidak dikelola dengan baik melalui komunikasi, keterbukaan, dan kepercayaan, maka bisa jadi timbul persoalan dalam pernikahan. Untuk itu, diperlukan keberadaan jiwa yang besar untuk mau menerima dan berusaha mengenali pasangan kita.

BACA JUGA:

  1. Persiapan Fisik

Kesiapan fisik ini ditandai dengan kesehatan yang memadai sehingga kedua belah pihak akan mampu melaksanakan fungsi diri sebagai suami ataupun istri secara optimal. Saat sebelum menikah, ada baiknya bila memeriksakan kesehatan tubuh, terutama faktor yang mempengaruhi masalah reproduksi. Apakah organ-organ reproduksi dapat berfungsi dengan baik, bila ditemukan penyakit atau kelainan tertentu, segeralah berobat.

  1. Persiapan Material

Dalam agama, tidak menghendaki kita berfikiran materialistis, yaitu hidup yang hanya berorientasi pada materi. Akan tetapi bagi seorang suami, yang akan mengemban amanah sebagai kepala keluarga, maka adanya kesiapan calon suami untuk memberi nafkah perlu diutamakan.

Sebaliknya, bagi pihak wanita, perlu adanya kesiapan untuk mengelola keuangan keluarga. Jika suami berikhtiar untuk menafkahi maka Tuhan Yang Maha Kuasa akan mencukupkan rizki kepadanya.

  1. Persiapan Sosial

Setelah sepasang manusia menikah, berarti status sosialnya di masyarakat pun berubah. Mereka bukan lagi gadis dan lajang, tetapi telah berubah menjadi sebuah keluarga. Sebagai akibatnya, mereka pun harus mulai membiasakan diri untuk terlibat dalam kegiatan sosial di kedua belah pihak keluarga maupun di masyarakat.

Adapun persiapan-persiapan menjelang pernikahan yang tersebut di atas tidak dapat dengan begitu saja kita raih, melainkan perlu waktu dan proses belajar untuk mengkajinya. Untuk itu, mumpung masih memiliki banyak waktu, belum terikat oleh kesibukan rumah tangga, maka upayakan untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya guna persiapan menghadapi rumah tangga kelak. Ini merupakan langkah awal persiapan menjadi orangtua.

Leave a comment