Ilustrasi Bayi Sehat Bebas Stunting (Foto: Pixabay)

Siapa sih yang ingin anaknya kekurangan gizi? Tentu kamu juga tidak ingin si kecil kekurangan asupan gizi yang baik. Oleh karena itu, setelah menjadi orang tua, kamu perlu memperhatikan tumbuh kembang bayi dengan teliti serta soal asupan gizi sesuai dengan usianya.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DR. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) mengatakan sebagai orang tua, kamu perlu memahami tentang periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK). “1.000 hari pertama kehidupan ini merupakan periode emas pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai semenjak terbentuknya janin hingga anak berusia dua tahun,” papar dia.

Hasto menjelaskan tumbuh kembang bayi dipantau dengan menggunakan panduan grafik pertumbuhan standar yang disusun oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan digunakan untuk menilai pertambahan berat badan bayi ideal berdasarkan jenis kelamin, usia dan panjang badan. Perlu kamu pahami, bayi dapat mengalami penurunan berat dan tinggi badan apabila tidak mendapatkan ASI yang optimal serta makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat baik dari jumlah, jenis, frekuensi dan kualitas berdasarkan usianya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pertumbuhan si buah hati yang bisa menjadi alarm. Jika hal ini terjadi, maka kamu perlu membawa si kecil ke pusat kesehatan agar mendapatkan penanganan lebih lanjut. Lalu, apa saja tandanya?

Tanda itu yakni pada usia 10 hari, berat badan bayi terus turun dan tidak naik hingga usia 3 minggu. Rata-rata kenaikan berat badan bayi kurang dari 100 gram per minggu selama 3 bulan pertama. Berat badan bayi berada di bawah garis terendah pada grafik pertumbuhan standar. Kemudian, sebelum usia 5 bulan, berat badan bayi turun dalam waktu 2-3 bulan.

“Apabila terjadi hal-hal di atas, segera bawa bayi ke pusat kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Perlu diingat, selalu pantau kenaikan berat badan bayi menurut KMS untuk mengawasi tumbuh kembangnya untuk terhindar dari stunting,” kata dia.

Ia mengatakan untuk menghindari penurunan berat badan, orang tua perlu memperhatikan asupan gizi berdasarkan usia bayi. Berikut kebutuhan asupan gizi sesuai usia:

1. Asupan gizi untuk bayi 0–6 bulan
Lakukanlah Inisiasi Menyusui Dini (IMD) yang merupakan proses pemberian ASI sesegera mungkin pada si kecil dalam periode 60 menit setelah kelahiran. Berikan kolostrum atau ASI yang keluar pertama kali berwarna kekuningan dan kental. Cairan ini banyak mengandung antibodi penghambat pertumbuhan virus dan bakteri, protein, vitamin A dan mineral. Kemudian, berikan ASI eksklusif, yaitu bayi hanya diberikan ASI saja tanpa diberikan makanan atau minuman lain, termasuk air putih, dari usia 0 – 6 bulan.

2. Asupan gizi untuk bayi 6–8 bulan
Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) mulai diberikan saat bayi berusia 6 bulan. Jumlah pemberian MPASI harus mencukupi dengan kualitas gizi yang seimbang dan sepanjang pemberian MPASI, di periode ini, ASI tetap harus diberikan.

Perkenalkan MPASI dalam bentuk makanan lumat (tektur makanan cair dan lembut) seperti bubur buah, bubur sayuran yang dihaluskan, bubur sumsum, nasi tim saring. Dalam usia ini, kamu tetap memberikan ASI dan ASI diberikan terlebih dahulu sebelum memberikan MPASI. Adapun frekuensi pemberian MPASI 2-3 kali sehari.

Berikan ASI sesering mungkin dan MPASI setiap kali makan sejumlah 2-3 sendok makan penuh, secara bertahap ditingkatkan sampai ½ mangkuk berukuran 250 ml setiap kali makan.

BACA JUGA: Calon Pengantin, Siapkan 1.000 Hari Pertama Kehidupan Anak dari Sekarang

3. Asupan gizi untuk bayi 9–12 bulan
Pada saat si kecil berusia 9-12 bulan, berikanlah MPASI dalam bentuk makanan lunak atau lembek, dimasak dengan banyak air dan tampak berair atau dicincang sehingga mudah ditelan anak. MPASI itu misalnya bubur nasi, bubur ayam, nasi tim, kentang puri. Namun, ingat untuk tetap berikan ASI.

Frekuensi pemberian MPASI 3-4 kali sehari makanan lunak dan 1-2 kali sehari makanan selingan atau bergantung pada nafsu makan dengan jumlah setiap kali makan antara ½ sampai ¾ mangkuk berukuran 250 ml.

4. Asupan gizi untuk bayi 12–24 bulan
Pada usia ini, kamu bisa mulai memperkenalkan makanan yang berbentuk padat atau biasa disebut dengan makanan keluarga, tetapi tetap mempertahankan rasa. Hindari memberikan makanan yang dapat mengganggu organ pencernaan, seperti makanan terlalu berbumbu tajam, pedas, terlalu asam, atau berlemak.

Finger snack atau makanan yang bisa dipegang, seperti kue kering, potongan ayam atau sayuran rebus atau buah baik diberikan untuk melatih keterampilan dalam memegang makanan dan merangsang pertumbuhan giginya. Namun, tetap berikan ASI hingga anak berusia 2 tahun.

Frekuensi pemberian 3-4 kali sehari makanan keluarga, 1-2 kali sehari makanan selingan (finger snack) atau bergantung pada nafsu makan bayi dengan jumlah setiap kali makan semangkuk penuh berukuran 250 ml.

“Bahan makanan lokal untuk membuat MPASI harus mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral,” kata dia.

Ia menjelaskan makanan pokok sebagai sumber karbohidrat berupa beras, jagung, roti, kentang, singkong, umbi-umbian. Lauk pauk sebagai sumber protein hewani bisa berasal dari ikan, hati, telur, daging, unggas, susu dan produk olahannya dan protein nabati dari tahu, tempe, kacang-kacangan. Pemberian protein hewani dalam MPASI diprioritaskan karena kaya zat besi yang baik untuk perkembangan otak bayi.

“Kamu juga bisa memberikan sayur dan buah terutama yang berwarna sebagai sumber vitamin dan mineral. Kemudian minyak/margarin/santan sebagai sumber lemak,” papar dia.

Leave a comment