1.000 Hari Pertama Anak (Foto: IG @mbakfiii_03)

Anak yang sehat dan berkualitas tentu menjadi idaman setiap orang tua. Oleh karena itu, kamu dan pasangan perlu memahami periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK) dan menyiapkan sedari sekarang.

“Sedari awal calon pengantin (catin) perlu merencanakan dan mempersiapkan kehamilan. Sebagai calon ibu nantinya, catin juga perlu memahami tentang periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan,” kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DR. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K).

Ia menjelaskan 1.000 HPK merupakan suatu periode emas pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai semenjak terbentuknya janin hingga anak berusia 2 tahun. Oleh karena itu, untuk menghindari risiko melahirkan anak stunting, pastikan kehamilan di usia yang ideal, yaitu usia 21–35 tahun.

“Sepanjang periode 1.000 HPK nanti, catin jangan lupa perhatikan gizi janin dalam kandungan sampai anak berusia 2 tahun. Sebagai ibu hamil dan ibu menyusui, mengonsumsi makanan bergizi seimbang sangat penting,” jelas dia.

BACA JUGA: Siap Hamil Siap Finansial, Lakukan Persiapan Sebelum Positif

Selain itu, ibu hamil juga perlu memeriksakan kehamilan setidaknya empat kali ke bidan atau Posyandu atau Puskemas, serta meminum tablet tambah darah sehari sekali. Hal ini perlu diperhatikan, karena ibu menyusui juga membutuhkan asupan gizi yang baik supaya bisa memproduksi ASI yang berkualitas.

Jangan lupa, ketika ibu menyusui, ayah juga harus memberikan dukungan, baik dukungan fisik maupun psikis. Dukungan fisik bisa dilakukan dengan cara membantu pekerjaan domestik atau menemani ibu ketika harus terjaga di malam hari.

“Sedangkan dukungan psikis bisa berupa memastikan kondisi ibu tenang dalam menghadapi tantangan-tantangan yang muncul sehingga pemberian ASI eksklusif bisa tercapai,” ujarnya.

Perhatikan Asupan Gizi

dr Hasto mengatakan ketika catin memiliki bayi, perlu diingat bayi dapat mengalami penurunan berat dan tinggi badan apabila tidak mendapatkan ASI yang optimal serta makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat baik dari jumlah, jenis, frekuensi dan kualitas berdasarkan usianya. Oleh karena itu, setelah menjadi seorang Ibu, catin perlu memperhatikan tumbuh kembang bayi dengan teliti ya.

Tumbuh kembang bayi dipantau dengan menggunakan panduan grafik pertumbuhan standar yang disusun Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan digunakan untuk menilai pertambahan berat badan bayi ideal berdasarkan jenis kelamin, usia, dan panjang badan.

Hasil pengukuran berat badan bayi dicantumkan pada grafik tersebut untuk menilai apakah berat badannya sesuai dengan berat badan bayi rata-rata. Di Indonesia, grafik ini dituangkan ke dalam bentuk Kartu Menuju Sehat (KMS), yang dapat diperoleh dari Posyandu/Puskesmas/bidan/dokter.

Ketika menjadi orang tua nanti, catin perlu waspada apabila hasil pengukuran berat badan bayi ada di atas atau di bawah grafik pertumbuhan. Apabila itu terjadi, catin perlu berkonsultasi lebih lanjut dengan tenaga kesehatan untuk memastikan tumbuh kembang bayi tidak terganggu.

“Perlu diingat ya catin, selalu pantau kenaikan berat badan bayi menurut KMS untuk mengawasi tumbuh kembangnya untuk terhindar dari stunting. Untuk menghindari penurunan berat badan, catin perlu memperhatikan asupan gizi berdasarkan usia bayi ya,” ungkapnya.

Selain memperhatikan asupan gizi ibu hamil dan menyusui serta bayi hingga 2 tahun, jangan lupa juga menjaga kebersihan lingkungan, yaitu dengan mempraktikkan perilaku cuci tangan dengan sabun dan buang air besar di jamban yang sehat. Selain itu, tidak lupa membawa anak ke posyandu secara berkala untuk dicek kesehatannya dan diberikan imunisasi.

Leave a comment