Menjadi Orangtua yang Sabar (Gambar oleh Ratna Fitry dari Pixabay)

Sabar adalah kunci keberhasilan dalam segala macam usaha. Termasuk keberhasilan orangtua dalam mengasuh anak. Pada dasarnya ada banyak sekali cara bagaimana merawat dan mendidik anak dengan baik, tapi semuanya butuh kesabaran. Tapi banyak yang merasa sudah untuk menjadi orangtua yang sabar.

Seringkali kita sebagai orangtua hilang kesabaran ketika melihat tingkah laku anak. Penyebabnya bisa karena banyak hal, kelelahan fisik orangtua dan masalah finansial adalah contoh masalah yang membuat orangtua tidak sabar dalam mengasuh anak. Padahal anak seperti kertas putih ketika dilahirkan, orangtua yang menorehkan tinta kepadanya. Peran dan perilaku orangtua akan membentuk karakternya.

Penting bagi orangtua untuk memastikan bahwa Anda telah selesai dengan diri dan masa lalu Anda. Saat Anda telah selesai dengan diri sendiri, maka akan lebih mudah mencintai diri dan membagi cinta itu pada sekitar termasuk pada anak.

Selain itu selama proses mengasuh anak, sebagai orang tua Anda perlu memahami setiap tahap perkembangan anak karena masing-masing tahap memiliki tugas perkembangan yang berbeda dan harus diselesaikan agar anak dapat berkembang optimal.

Ini kunci utama menjadi orangtua, sabar. Ketika anak melakukan kesalahan atau melanggar peraturan yang berlaku, biarkan dia menerima konsekuensinya. Orangtua harus tega melihat anak menjalani konsekuensi atas ketidakdisiplinannya. Karena ini tahap yang penting untuk meletakkan dasar disiplin pada anak.

Tapi tak perlu juga membesarkan kesalahan yang dibuat anak. Kesalahan anak merupakan proses untuk menjadikannya lebih baik. Diskusikan mengenai kesalahan yang dilakukannya dan tawarkan solusi yang agar kesalahan tersebut tidak terulang kembali. Setelah menjalani konsekuensinya, jangan ungkit-ungkit kesalahan anak. Ini akan membuat anak merasa tertekan dan malu.

Sebaliknya, jika anak bersikap baik jangan ragu untuk memberikan kejutan kepada anak dalam bentuk pujian atau hadiah. Ingatlah selalu, anak sedang masa belajar untuk hidup. Orangtua adalah guru sekaligus contoh nyata. Karena itu bersabarlah ketika kelak sudah menjadi orangtua.

Di luar itu semua, kemampuan untuk melakukan manajemen emosi ketika menjadi orang tua adalah salah satu keterampilan yang penting untuk dimiliki. Emosi yang terkelola dengan baik dapat membuat Anda menjadi orang tua yang lebih bijak serta menjadi contoh teladan bagi anak untuk mengelola emosi dengan baik.

Orang tua yang penuh cinta akan dapat mengaktifkan parent child connectedness (keterhubungan orang tua dan anak) atau dengan kata lain hubungan yang terjadi adalah hubungan yang hangat. Hubungan yang hangat antara orang tua dan anak memiliki banyak sekali manfaat diantaranya adalah menimbulkan rasa secure (aman) pada anak  dan memudahkan orang tua untuk menjalin komunikasi yang baik bagi anak, sehingga saat orang tua hendak menyampaikan informasi atau menanamkan nilai tertentu akan dapat diterima dengan baik oleh Anak.

Prinsip Parent Child Connectedness

Parent child connectedness (PCC) didefinisikan sebagai ikatan emosional positif dan berkualitas tinggi antara orang tua dan anak. Kehangatan hubungan orang tua dan anak bisa dirasakan bersama dan tahan lama. Bahkan ketika anak sedang jauh dari orang tua pun, mereka tetap merasa aman dan bisa menjaga diri untuk membuat orang tua merasa tenang.

Karena berkelanjutan dari waktu ke waktu, PCC bisa mengurangi faktor risiko untuk anak-anak dan remaja. Terkait dengan hasil positif untuk remaja, PCC melindungi terhadap kenakalan, pembolosan, perilaku kasar dan agresif, kinerja akademis yang buruk dan sejumlah risiko lainnya.

PCC dapat dikaitkan dengan hasil positif dan negatif untuk anak-anak karena remaja sangat tergantung pada tingkat atau tingkat keterhubungan orang tua-anak dalam unit keluarga. PCC dapat melindungi anak-anak muda dari banyak tantangan dan risiko yang dihadapi anak-anak saat ini seperti penggunaan tembakau, depresi, kehamilan, gangguan makan, infeksi HIV dan banyak lagi.

PCC muncul sebagai akibat dari proses pengasuhan, komunikasi dan keterlibatan orang tua dalam aktivitas anak. Kehadiran orang tua menjadi salah satu bukti dukungan untuk anak sehingga mereka bisa merasa aman dan nyaman.

Konteks ekologis, seperti ekonomi, kebijakan publik dan lingkungan, memiliki efek signifikan pada keluarga dan kemampuan mereka untuk meningkatkan keterhubungan. Misalnya, orang tua yang mengatasi kemiskinan cenderung mengalami lebih banyak stres dan penyakit. Efek ini dapat berarti bahwa orangtua memiliki lebih sedikit waktu dan energi untuk mencurahkan hubungannya dengan anak-anak mereka.

BACA JUGA:

Manajemen Emosi

Pernahkah kamu merasa marah dan melampiaskan kemarahan kepada anak dengan berteriak bahkan mencubit dan memukul? Sejatinya marah merupakan sebuah emosi yang wajar. Setiap orang bisa marah jika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginannya. Atau ada yang melanggar aturan yang ditetapkannya. Marah itu wajar, yang tidak wajar adalah cara pelampiasan emosi marah.

Ketika badai amarah itu datang, ekspresi apa yang biasanya dilakukan? Mengeluarkan kata-kata kasar? Menggebrak meja? Membanting pintu? Melemparkan barang-barang? Mengucapkan kata-kata pedas menyayat hati? Atau barangkali memukul seseorang? Beberapa hal itu adalah ekspresi kemarahan yang harus dihindari karena memiliki dampak yang sangat merugikan bagi pelakunya.

Fokuslah untuk menyelesaikan penyebab marah dibanding melampiaskan rasa marah. Diam sesaat penting untuk meredam emosi. Memberikan hukuman juga bisa menjadi salah satu cara untuk melampiaskan marah. Beri hukuman pada anak tanpa harus menyakiti fisiknya. Bisa dengan dikurung di kamar, membersihkan rumah, tidak boleh makan sementara waktu, sesuaikan hukuman dengan kebiasaan anak.

Setelah masa hukuman selesai, barulah ajak bicara anak. Cobalah komunikasi dari hati kehati, bicarakan apa yang kamu mau dan apa yang harus dilakukan oleh anak. Kamu bisa mengatakan kamu marah dan kecewa, lalu sampaikan apa yang kamu harapkan pada anak. Konsekuensi apa yang akan anak terima jika membuat orangtua marah.

Jangan berfikir anak tidak anak mengerti, sebenarnya anak adalah penyerap informasi yang cepat. Pada fase anak, terjadi proses penyambungan serabut antar sel otak, maka kemampuan berpikir anak akan makin canggih. Nah, serabut atau sambungan itu terbentuk oleh lapisan-lapisan tipis bernama Myelin. Setiap lapisan terbentuk, maka muncul satu kemampuan pada anak. Lapisan Myelin juga berperan penting dalam proses komunikasi antar sel otak.

Lise Eliot, seorang pakar ilmu otak (neuroscientist), dalam bukunya yang berjudul “What’s Going on in There?”, menceritakan saat dia meneliti perkembangan otak anaknya. Dalam riset tersebut, Eliot memasang kabel-kabel di kepala anaknya yang masih bayi untuk memonitor otak.

Suatu ketika, anaknya menendang-nendang sehingga kabel yang menempel di kepala terlepas. Secara refleks, Lise Eliot berteriak seperti orang marah, sehingga bayinya terkaget-kaget, takut, dan menangis.

Saat dia memeriksa hasil monitoring anaknya, Eliot menemukan fakta ketika anaknya ketakutan akibat suara teriakannya, lapisan Myelin yang ada di dalam otaknya menggelembung seperti balon, lalu pecah.

Bayangkan, jika kejadian semacam itu terjadi berulang kali, maka lapisan-lapisan Myelin yang sangat penting bagi kecerdasan otak anak akan terus pecah. Akibatnya, momentum membangun kecerdasan anak di usia dini akan terlewatkan.

Karena itu, belajar menjadi orangtua sabar dengan mengelola emosi sangat penting. Untuk itulah kesiapan emosional menjadi salah satu elemen yang harus dipersiapkan oleh pasangan sebelum memasuki gerbang pernikahan.

Leave a comment