Suami suka marah (Foto oleh Tim Gouw dari Pexels)

Tanya Tim Ahli: Selamat siang, Saya baru menikah sekitar 3 bulan. Selama pacaran, suami saya sangat perhatian dan baik. Tidak pernah marah-marah. Tetapi sekarang setelah menikah, suami suka marah-marah. Masalah sepele saja akan jadi sumber kemarahannya, seperti kopi kurang manis.

Ketika saya menjawab, suami malah kasar. Saya tinggal di kontrakan sehingga tidak punya saudara. Saya takut suami saya semakin kasar. Apa yang harus saya lakukan supaya suami saya kembali seperti saat pacaran? (MF)

Tim Ahli* Menjawab:
(*Emeldah Suwandi, S. Psi., M. Psi., Psikolog) Selamat Siang Ibu MF,
Rasanya sedih ya melihat perubahan dari suami. Perubahan yang mungkin cukup mengagetkan karena selama berpacaran dia tidak pernah menunjukkan sikap seperti ini ya. Memang benar dalam hubungan pernikahan, terkadang kita jadi kaget dengan perubahan sikap pasangan.

Ibu boleh merasa kesal, namun juga di sisi lain sebaiknya Ibu coba cari tahu apa yang membuat perubahan sikapnya. Dengan mengetahui penyebab perubahan sikapnya, akan lebih mudah bagi ibu untuk menentukan sikap dalam menghadapinya. Apakah suami sedang dalam tekanan pekerjaan? Atau antara ibu dan suami kurang adanya quality time seperti mencoba menghabiskan waktu bersama?

BACA JUGA: Tanya Tim Ahli: Apakah Suami Harus Punya Asuransi Jiwa

Kalau memang rasanya cukup memberatkan, ibu bisa coba mulai mengkomunikasikan perubahan sikap suami ini kepada dirinya ya. Sampaikan ketika kondisi Ibu dan suami sedang sama-sama kondusif, seperti saat bersantai. Sampaikan kekhawatiran Ibu dengan menggunakan “i-statement” atau sudut pandang orang pertama, seperti “aku merasa sedih ketika kemarin kamu marah sewaktu kopinya kurang manis…” daripada menggunakan sudut pandang “kamu seharusnya tidak seperti itu…” supaya suami tidak merasa disalahkan. Tanyakan padanya apakah perubahan sikapnya disebabkan tekanan pekerjaan atau ada hal lain yang menganggu pikirannya. Tawarkan kepada dirinya bantuan dengan bertanya, “apa yang bisa aku bantu supaya kamu bisa merasa lebih baik?”

Semoga dengan mencoba belajar memahami dulu, permasalahan bisa dilihat lebih jernih ya Bu. Apabila ibu masih kesulitan untuk mempraktikannya, dan merasa masih sangat terganggu dengan sikap suami, saya sarankan untuk mencoba berkonsultasi dengan psikolog ya Bu.
Semoga masukan saya dapat membantu. Salam

Leave a comment