Pengaturan Keuangan (Foto: Pixabay)

Peribahasa hemat pangkal kaya sudah diajarkan sejak sekolah dasar. Namun, berhemat masih cenderung sulit dilakukan. Karena kesannya malah, berhemat juga harus mengorbankan kesenangan.

Psikolog Nancy Molitor pernah mengungkapkan banyak orang masih berpendapat berhemat harus merelakan banyak keinginan tak terwujud, atau butuh kemampuan tinggi untuk dapat melakukannya. Kondisi ini diperparah dengan salah kaprah dalam pengelolaan keuangan.

Ahli perencana keuangan Nancy Buttler menjelaskan kebanyakan orang langsung membayar tagihan dan belanja setelah menerima gaji, baru sisanya ditabung. Alhasil, rencana finansial sulit tercapai.

Menurutnya hal itu terbalik. Seharusnya seseorang menyisihkan pendapatan untuk rencana finansial dulu, membayar tagihan, baru menggunakan sisa uang dengan penuh pertimbangan. Simpanan ini akan berguna saat terjadi keadaan darurat yang butuh ketersediaan dana tunai dalam waktu cepat.

Menyisihkan pendapatan untuk tabungan juga tak harus langsung sekaligus dalam jumlah besar. Mulai saja dari nominal kecil dan terus menambah besarannya begitu sudah terbangun kebiasaan menabung.

Kalau pos untuk tabungan, tagihan, dan kebutuhan utama harian sudah terpenuhi dari pendapatan, barulah alokasikan untuk keinginan dan hiburan bisa disiapkan. Jangan sampai, tabungan malah terpakai karena pengeluaran dilakukan melebihi anggaran.

Khusus hiburan atau kegiatan bersenang-senang, jangan pernah pula terpatok pasti butuh banyak biaya alias mahal. Pergi ke luar kota atau ke luar negeri sekali pun sah-sah saja asal frekuensi dan budget-nya disesuaikan.

Liburan besar cukuplah sekali dalam setahun. Namun, persiapan harus dilakukan jauh-jauh hari agar mendapat penawaran harga yang lebih menguntungkan.

Misalnya harga tiket perjalanan, bisa jadi jauh lebih murah jika tidak dibeli dadakan. Selain itu, hindari berlibur pada musim liburan seperti akhir tahun atau libur sekolah. Harga tiket dan penginapan biasanya naik berkali lipat pada peak season seperti itu.

Sementara untuk menghemat ongkos hiburan di waktu luang, menyewa keping DVD bisa dipertimbangkan untuk menonton film terbaru daripada ke bioskop. Acara kumpul bersama kawan dapat pula dilakukan di rumah secara bergiliran, dengan makanan dibeli patungan atau bergantian membelinya.

Berhemat dengan mengedepankan menabung pun bukan berarti tak bisa membeli lagi baju, tas, sepatu, barang elektronik, atau pernak-pernik lain yang bikin senang. Membeli barang bekas yang masih layak pakai di toko online dapat jadi strategi untuk kebutuhan ini.

Manfaatkan juga tawaran diskon pada musim-musim tertentu untuk mendapatkan barang-barang idaman tanpa harus merogoh kantong dalam-dalam apalagi besar pasak daripada tiang.

Kondisi ekonomi global sedang diliputi ketidakpastian. Ancaman krisis ekonomi, tak terkecuali resesi dan stagflasi, diperkirakan dialami banyak negara pada 2023 mendatang.
Tidak hanya krisis ekonomi, dunia juga diperkirakan mengalami krisis keamanan serta lingkungan. Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebut kondisi ini sebagai triple crisis.

Saat ini, tanda-tanda triple crises mulai terasa di Indonesia, setidaknya untuk sektor ekonomi. Biaya hidup mulai mahal seiring dengan naiknya harga barang yang bisa membuat arus kas berantakan jika tak pandai-pandai mengatur keuangan.

Agar kondisi keuangan tetap sehat sebaiknya melakukan penghematan. Berikut biaya yang harus dihemat agar dompet tetap sehat di tengah ancaman triple crises.

1. Gaya hidup
Perencana Keuangan Advisors Alliance Group (AAG) Indonesia Andy Nugroho mengatakan biaya yang paling perlu dihemat di tengah krisis adalah untuk gaya hidup. Andy menyarankan agar masyarakat tak membeli barang atau kebutuhan yang tidak benar-benar dibutuhkan segera.

“Semisal, menunda mengganti gadget hanya karena ingin yang lebih bagus dan mahal. Padahal, gadget lama masih bisa dipakai atau membeli produk fesyen hanya karena keinginan,” ujar Andy.

Ia juga menyarankan masyarakat terutama anak muda untuk mengurangi pengeluaran untuk nongkrong di kafe, nonton bioskop, piknik, dan kegiatan lainnya yang tak mendesak.

Perencana Keuangan Advisor Alliance Group (AAG) Indonesia Dandy juga mengatakan biaya gaya hidup perlu dihemat dengan menahan diri untuk membeli barang-barang yang tidak diperlukan.

“Bedakan dan sesuaikan gaya hidup dengan kebutuhan hidup, terutama di saat resesi. Karena yang mahal itu adalah gaya hidup,” kata Dandy.

Sementara, bagi masyarakat yang rutin olahraga di pusat kebugaran, bisa menekan pengeluaran dengan berolahraga di rumah.

Dandy mengatakan dengan berhemat, masyarakat bukan berarti tidak bisa bersenang-senang. Masyarakat tetap bisa menggunakan uang untuk jalan-jalan atau membeli barang sebagai self reward tetapi harus dengan batasan agar keuangan tidak terganggu.

2. Makan
Selain gaya hidup, Andy juga menyarankan masyarakat untuk menghemat biaya makan sehari-hari. Masyarakat bisa mengganti menu makanan menjadi yang lebih murah, namun tetap bergizi. Ataupun mengurangi membeli makanan minuman kekinian hanya karena hasrat ingin mencoba atau jajan saja.

Dandy juga mengatakan biaya makan perlu ditekan di tengah krisis ekonomi. Caranya, dengan masak sendiri dan membawa bekal ke kampus atau kantor. Selain itu, bisa juga dengan memanfaatkan promosi yang ada di aplikasi layanan pemesanan makanan daring.

BACA JUGA: Mengenal Frugal Living, Cara Hidup Hemat agar Bebas Finansial

3. Transportasi
Biaya transportasi juga perlu dihemat. Caranya bisa dengan menggunakan kendaraan umum atau beralih dari mobil ke motor. Bisa juga dengan menumpang dengan teman atau tetangga yang membawa kendaraan dan searah dengan tempat kerja atau rumah kita.

Dandy menyarankan masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum dibandingkan kendaraan pribadi. Selain bisa menghemat BBM, menggunakan kendaraan umum juga tidak perlu mengeluarkan biaya parkir.

Selain menghemat biaya makan, gaya hidup, dan transportasi, ia juga menyarankan masyarakat untuk menyiapkan dana darurat sebesar tiga kali pengeluaran bulanan bagi yang belum berkeluarga dan enam kali pengeluaran bagi yang sudah berkeluarga.

“Tujuannya untuk menjaga apabila terjadi resesi, terkena PHK, hingga keadaan darurat,” imbuhnya.

Selain itu, masyarakat juga disarankan menyiapkan uang tunai atawa cash. Sebab, uang kontan merupakan instrumen investasi jangka panjang yang tidak akan terlalu terpengaruh ketika resesi. Masyarakat juga bisa membeli instrumen investasi atau mencari pendapatan tambahan.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
3
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar