Kesehatan Mental Calon Ibu (Foto: Pexels)

Banyak sekali persiapan yang perlu dilakukan sebelum menikah oleh calon pengantin wanita. Salah satunya suntik tetanus. Namun, bukan itu saja, calon pengantin pun sudah harus memperhatikan persiapan mental seorang calon ibu. Pasalnya untuk jadi ibu tidak hanya butuh persiapan fisik, tetapi juga psikis.

Menurut Glade B. Curtis, MD, OB/GYN dalam bukunya yang berjudul Pregnancy Week by Week, proses kehamilan tidak hanya berlangsung selama 9 bulan saja. Bahkan ibu akan mengalami perubahan paling tidak 12 bulan. Hal ini terjadi karena fisik ibu akan terus melakukan adaptasi, bahkan hingga bayi sudah lahir. Tentunya hal ini perlu diimbangi dengan persiapan mental yang baik.

Ibu merupakan pribadi yang cukup memegang peran penting dalam tumbuh kembangnya seorang manusia. Sebab melalui ibu, seorang anak dapat dilahirkan ke dunia. Agar nantinya langsung siap menjadi ibu, berikut persiapan kehamilan yang catin pertu ketahui.

1. Mempersiapkan diri

Dengan menjadi ibu, kamu akan memiliki peran baru untuk menyusui, mengurus dan merawat anak, serta mendidik anak. Padahal kamu juga belum lama memiliki peran sebagai istri yang juga harus mengurus suami. Peran ini dapat kamu pelajari dari keluarga, teman, kenalan, hingga pakar yang dipercaya dapat memberikan informasi seputar keluarga.

Pembelajaran ini menjadi penting agar pasangan tidak merasa diabaikan karena kamu terlalu fokus dalam mengurus bayi. Sehingga kamu perlu meluangkan waktu khusus bersama pasangan untuk menjaga keharmonisan suami dan istri.

2. Ketahui dan pahami peran orang tua

Sebelum menjadi orang tua, kamu perlu mengetahui apa peran dan arti orang tua. Untuk mendalami ini, kamu bisa melakukan diskusi dengan pasangan atau bahkan orang tua mengenai pola asuh yang diterapkan di dalam keluarga. Dengan begitu, kamu dapat memilih pola asuh yang menurutmu baik bagi anakmu kelak. Pembicaraan mengenai peran orang tua ini juga dapat menggali pribadi masing-masing dari pasangan mengenai kesiapan untuk menjadi orang tua.

BACA JUGA: 10 Mitos Seputar ASI yang Meresahkan, Calon Ibu Wajib Tahu Kebenarannya

3. Menjaga kondisi mental

Dunia pernikahan hingga menjadi orang tua akan banyak mengubah hidupmu dan pasangan. Apalagi kehamilan akan membuat emosi ibu bergejolak karena adanya perubahan hormon. Kondisi ini perlu disadari olehmu dan pasangan, agar keduanya mampu mencari upaya untuk menjaga kondisi mental masing-masing agar tetap sehat dan stabil. Sehingga keduanya mampu mengurangi kesalahpahaman dan permainan emosi sesaat karena masa tertentu yaitu kehamilan. Selain itu, kedua pasangan harus tetap berpikir positif dalam menyikapi emosi tiap pasangan.

4. Menguatkan ikatan batin antara suami istri

Sebagai orang tua, ibu dan ayah perlu bekerja sama untuk dapat menerapkan pola asuh yang sesuai bagi keluarga. Maka dari itu kamu perlu menambah ikatan batin dengan pasangan. Sebab selama menjalani proses kehamilan hingga menjadi orang tua akan memengaruhi emosimu dan pasangan. Apalagi kehamilan membuat emosi ibu menjadi dinamis serta menjadi lebih sensitif.

Hal ini tidak hanya sampai pada masa kehamilan saja. Bahkan terjadi juga pada bulan-bulan awal pascamelahirkan yang jika parah akan menyebabkan depresi post partum. Oleh karena itu, dengan mendekatkan ikatan batin yang kuat diharapkan dapat mengurangi permasalahan emosi pada ibu.

5. Membuat rencana kehidupan

Setelah kamu hamil, lakukan pembicaraan dengan pasangan mengenai rencana kehidupan ke depan. Misalnya dengan menentukan nama panggilan bagimu dan pasangan bagi anak, atau menentukan kebutuhan apa saja bagi anak. Perencanaan ini akan membuat erat hubungan kalian berdua serta bayi.

Perlu juga mendiskusikan hal-hal yang menjadi prioritas ketika anak sudah lahir. Sehingga pasangan tidak merasa terabaikan, serta dapat membagi tugas merawat anak dengan baik. Dengan begitu pasangan akan merasa ikut berperan penting dalam perawatan Si Kecil mulai dari kelahiran hingga dewasa nanti.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
4
+1
1
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar