Anak sehat bebas stunting. (Foto: IG @dokterhasto)

Stunting masih menjadi PR besar bagi Pemerintah Indonesia. Berbagai upaya pun dilakukan untuk menekan angka stunting di Tanah Air. Mengingat pentingnya persoalan ini, orang tua harus memahami apa itu stunting dan apa dampaknya pada tumbuh kembang buah hati.

Dalam talkshow peringatan Hari Keluarga Nasional 2021 dengan tema Keluarga Keren Cegah Stunting, Selasa (29/06/2021) diketahui stunting menjadi isu besar dan seluruh dunia. Stunting pada anak memberikan dampak besar bagi tumbuh kembang anak. Stunting juga berdampak pada kesetahan serta psikologis anak.

Kepala BKKBN DR. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K). dalam talkshow yang digelar daring Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia dan BKKBN ini mengatakan stunting merupakan kondisi kekurangan gizi pada bayi di 1000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak.

“Karena mengalami kekurangan gizi menahun, bayi stunting tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita seumurnya,” kata Dr Hasto Wardoyo.

Sementara, Ketua Satgas Stunting Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Hartono Gunard mengungkapkan sederhananya, stunting merupakan kondisi saat panjang badan atau tinggi badan seorang anak terhadap usianya itu kurang dari minus dua (-2) standar deviasi kurva pertumbuhan anak dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hal itu bisa dilihat dari catatan dalam buku kesehatan ibu dan anak.

Dalam pengertian lebih luasnya, stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak, karena mal nutrisi kronis atau infeksi kronis, serta stimulasi psikososial yang tidak memadai.

Stunting membawa dampak yang besar bagi anak baik dari sisi kesehatan maupun psikologis. Oleh karena itu calon pengantin ataupun orang tua harus memiliki pemahaman yang mumpuni terkait masalah ini. Apa saja dampak stunting itu?

1. Dampak dari aspek kesehatan
Dampak dari sisi kesehatan bisa diamati dari awal kehidupan anak. Hal ini berarti pada 1000 hari pertama dalam periode paling berharga bagi kehidupan seorang anak.

Periode 1000 hari pertama dalam kehidupan itu dimulai dari masa kehamilan ibu selama 9 bulan atau dari janin terbentuk dalam rahim ibu, hingga anak mencapai usia 2 tahun. Jika anak mengalami gangguan gizi dalam 1000 hari pertama ini, maka dampak jangka pendek bisa memengaruhi perkembangan otak, fisik, dan organ-organ metaboliknya, yang dapat berkembang tidak optimal.

Adapun dampak jangka panjangnya, perkembangan otak anak menjadi tidak optimal, sehingga hal ini memengaruhi kemampuan kognitif anak dan pertumbuhan badan cenderung pendek. Dampak jangka panjang lainnya yakni anak berpotensi mengalami penyakit seperti hipertensi, obesitas, jantung, dan penyakit lainnya.

BACA JUGA: Yuk, Bersama Cegah Stunting

2. Dampak dari aspek psikologis
Selain berdampak pada sisi kesehatan, stunting juga berdampak pada sisi psikologis anak. Dampaknya bisa sangat luas tak hanya pada anak saja tetapi juga merembet ke orang tua.

Salah satu dampak stunting pada anak dapat memengaruhi kognitif sehingga akan muncul masalah yang lain. Masalah lain yang bisa muncul misalnya saja masalah emosi, kemampuan anak dalam bersosialisasi, masalah motorik anak, dan kesemuanya ini akan mengikuti.

Saat buah hati mengalami masalah, biasanya akan turut berdampak pada kondisi psikologis orang tuanya. Di Indonesia yang menganut extended family, persoalan stunting ini bisa menjadi masalah juga bagi keluarga besarnya. Bisa saja timbul rasa bersalah, merasa disalahkan, dan persoalan lainnya.

Oleh karena itu, aspek psikologi juga perlu diperhatikan karena turut berperan dalam mencegah stunting pada anak di kemudian hari.

Leave a comment