Tradisi Kawin Lari di Lombok: Mengenal Merariq dalam Pernikahan Adat Sasak

pernikahan adat Sasak Lombok

Table of Contents

Pernah mendengar tradisi pernikahan yang dimulai dengan calon pengantin perempuan “dibawa lari”? Dalam masyarakat Sasak Lombok, tradisi ini dikenal dengan sebutan Merariq. 

Tradisi “kawin lari” ini sering memunculkan rasa penasaran orang yang mendengarnya. Namun, dii balik prosesi ini ada rangkaian adat, musyawarah keluarga, serta pesan penting tentang kesiapan menikah yang perlu dipahami calon pengantin masa kini.

Apa Itu Tradisi Merariq?

pernikahan adat Sasak Lombok
Sumber : Envato

Merariq adalah tradisi dalam pernikahan adat Sasak Lombok yang sering dikenal sebagai “kawin lari”. Secara umum, tradisi ini menggambarkan proses ketika calon pengantin perempuan dibawa oleh pihak laki-laki sebelum masuk ke tahapan adat berikutnya. 

Meski terdengar unik, Merariq tidak dimaknai sebagai tindakan memaksa. Dalam pemahaman adat, keputusan menikah tetap didasari kemauan dan persetujuan calon pengantin. 

Setelah Merariq dilakukan, keluarga pihak laki-laki akan menyampaikan pemberitahuan kepada keluarga pihak perempuan, lalu dilanjutkan dengan musyawarah dan penyelesaian adat. 

Jadi, Merariq bukanlah akhir dari proses pernikahan. Tradisi ini justru menjadi awal dari rangkaian adat yang lebih luas. Sebuah prosesi yang mengingatkan bahwa pernikahan bukan hanya soal keberanian memilih pasangan, tetapi juga kesiapan untuk melibatkan keluarga dan tanggung jawab atas keputusan tersebut..

Prosesi Umum dalam Pernikahan Adat Sasak

Pernikahan adat Sasak Lombok memiliki sejumlah tahapan. Setiap daerah atau keluarga bisa memiliki variasi, tetapi beberapa prosesi berikut adalah rangkaian adat yang paling umum dijalani masyarakat Sasak.

1. Midang atau Masa Perkenalan

Midang adalah masa pendekatan atau perkenalan antara laki-laki dan perempuan sebelum menuju keputusan menikah. Dalam konteks kesiapan menikah, tahap ini mengingatkan bahwa mengenal calon pasangan tidak cukup hanya dari rasa suka. Calon pengantin juga perlu memahami karakter, nilai hidup, kebiasaan, dan kesiapan masing-masing.

2. Merariq

Merariq menjadi salah satu prosesi paling dikenal dalam pernikahan adat Sasak Lombok. Pada tahap ini, calon pengantin perempuan dibawa oleh pihak laki-laki sebelum proses adat berikutnya dilakukan.

3. Sejati atau Pemberitahuan kepada Keluarga

Setelah Merariq, pihak keluarga laki-laki akan menyampaikan pemberitahuan kepada keluarga perempuan. Tahap ini penting karena menjadi awal komunikasi resmi antarkeluarga. Dari sini, proses adat mulai bergerak menuju pembahasan yang lebih terbuka dan terarah.

4. Selabar dan Musyawarah Keluarga

Selabar adalah tahap ketika kedua keluarga mulai membicarakan kelanjutan pernikahan. Dalam musyawarah ini, keluarga dapat membahas penyelesaian adat, waktu pernikahan, dan hal-hal lain yang perlu disepakati. Tahap ini menunjukkan bahwa restu dan komunikasi keluarga tetap menjadi bagian penting dalam pernikahan adat Sasak.

5. Sorong Serah dan Nyongkolan

Sorong serah berkaitan dengan penyelesaian kewajiban adat dan simbol penerimaan antara dua keluarga. Adapun nyongkolan adalah  arak-arakan pengantin menuju keluarga perempuan setelah pernikahan dilaksanakan. Prosesi ini menjadi bentuk pengumuman, penghormatan, sekaligus simbol bahwa kedua keluarga telah terhubung dalam ikatan pernikahan.

Makna Merariq bagi Kesiapan Menikah

Merariq sering terlihat sebagai tindakan berani untuk menikah. Namun, keberanian saja tidak cukup. Menikah membutuhkan kesiapan yang lebih luas, mulai dari kesiapan usia, mental, komunikasi, finansial, hingga kemampuan bertanggung jawab kepada pasangan dan keluarga.

Karena itu, keputusan menikah sebaiknya tidak lahir dari dorongan sesaat atau tekanan lingkungan. Adat akan terasa lebih bermakna jika calon pengantin memahami nilai di balik prosesi yang dijalani. Bukan sekadar mengikuti kebiasaan, tetapi benar-benar siap memasuki kehidupan rumah tangga..

Persetujuan dan Usia Siap Menikah Tetap Penting

pernikahan adat Sasak Lombok
Sumber : Envato

Adat yang kuat selalu perlu berjalan bersama dengan kesiapan calon pengantin. Dalam pernikahan, keputusan tidak cukup hanya mengikuti tradisi atau keinginan keluarga. Kedua calon pengantin perlu benar-benar memahami pilihan yang diambil dan menyetujuinya dengan sadar.

Kesiapan itu juga berkaitan dengan usia. Di Indonesia, laki-laki dan perempuan baru dapat menikah secara hukum setelah berusia minimal 19 tahun. Batas usia ini penting karena pernikahan membawa tanggung jawab besar, bukan hanya saat akad tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari setelahnya.

Itulah sebabnya, pembahasan tentang Merariq perlu ditempatkan secara tepat. Merariq sebagai adat tidak sama dengan perkawinan anak. Namun, jika sebuah praktik melibatkan anak atau dilakukan tanpa kesiapan yang matang, maka yang perlu diperkuat adalah edukasi, perlindungan, dan komunikasi keluarga.

Pelajaran untuk Calon Pengantin Masa Kini

BACA JUGA ARTIKEL  Mengatasi Hasrat Berhubungan Seksual Sebelum Menikah

Dari pernikahan adat Sasak Lombok, ada beberapa pelajaran yang bisa dipahami calon pengantin masa kini:

  1. Menikah perlu keputusan yang sadar
    Pernikahan sebaiknya tidak dijalani karena terbawa suasana, tekanan keluarga, atau sekadar ingin membuktikan keseriusan. Kedua calon pengantin perlu sama-sama yakin dan siap dengan keputusan tersebut. 
  2. Keluarga tetap perlu diajak berkomunikasi
    Dalam banyak tradisi pernikahan, termasuk adat Sasak, keluarga memiliki peran penting. Komunikasi yang baik dapat membantu mengurangi salah paham dan membuka ruang untuk mencari kesepakatan bersama. 
  3. Adat perlu dipahami maknanya
    Prosesi adat akan terasa lebih bermakna jika calon pengantin memahami nilai di baliknya. Dengan begitu, adat tidak hanya menjadi bagian dari acara, tetapi juga pengingat tentang restu, tanggung jawab, dan kehidupan baru setelah menikah. 
  4. Kesiapan menikah tidak berhenti di hari pernikahan
    Setelah prosesi selesai, pasangan akan menjalani kehidupan sehari-hari yang membutuhkan kerja sama, pengelolaan emosi, pembagian peran, dan kemampuan menghadapi masalah bersama. 
  5. Tanyakan kembali kesiapan diri
    Sebelum melangkah lebih jauh, calon pengantin bisa bertanya kepada diri sendiri: apakah keputusan menikah ini sudah matang, atau hanya karena terbawa suasana?

Cek Kesiapan Sebelum Menikah

Sebelum masuk ke tahap pernikahan, ada baiknya kamu mulai mengukur kesiapan diri sebelum menikah. Langkah ini penting agar persiapan tidak hanya berfokus pada acara, tetapi juga pada kesiapan menjalani kehidupan rumah tangga.

Jika ada kebingungan tentang kesiapan menikah, perbedaan pandangan dengan keluarga, atau tekanan menjelang pernikahan, Sobat Siap NIkah dapat memanfaatkan fitur konsultasi pernikahan sebagai ruang untuk mendapatkan arahan yang lebih tepat.

Kesimpulan

Pernikahan adat Sasak Lombok memiliki nilai budaya yang kuat, terutama melalui tradisi Merariq. Namun, tradisi ini perlu dipahami secara utuh, bukan hanya dari sisi keunikannya.

Dalam pernikahan adat apa pun, persetujuan, kesiapan usia, komunikasi keluarga, dan tanggung jawab tetap menjadi hal utama. Adat dan kesiapan menikah bisa berjalan beriringan jika calon pengantin memahami maknanya dengan baik.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Scroll to Top