Pengaturan Keuangan (Foto: Pixabay)

Dalam hal keuangan keluarga kerap didengar istilah uang nafkah dan uang belanja. Rupanya keduanya hal itu memiliki makna yang berbeda, dan porsi yang juga berbeda. Lalu, apa perbedaan nafkah dan uang belanja? Dan, berapa sih uang nafkah dan uang belanja yang wajib diberikan seorang suami kepada istri?

Uang belanja merupakan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti untuk biaya listrik, makan dan biaya kebutuhan hidup lainnya. Sementara, uang nafkah istri merupakan uang yang khusus diberikan suami kepada istrinya atau uang jajan.

Meski bukan aturan yang saklek, sudah menjadi kesepakatan umum tugas seorang suami adalah menafkahi keluarga agar tercukupi kebutuhannya, sedangkan istri bertugas mengatur dan mengelola keuangan rumah tangga. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban seorang suami memberikan nafkah kepada istrinya berupa uang belanja dan nafkah khusus untuk istri atau uang jajan. Di sinilah letak perbedaan nafkah dan uang belanja yaitu pada penggunaan uang tersebut, meski sama-sama diserahkan kepada istri.

Meski istri ikut bekerja dan dapat penghasilan yang turut membantu keuangan keluarga, tetapi tepat tidak menggugurkan kewajiban suami memberi uang nafkah. Namun, bagaimana jika penghasilan suami lebih rendah dari penghasilan istri? Bila kondisi itu yang terjadi, maka suami harus menyerahkan semua penghasilannya kepada istri, agar dia yang mengatur segala pengeluaran.

Dari pengertian tersebut sudah sangat jelas kalau uang nafkah menjadi kewajiban suami untuk membahagiakan istri. Perkara uangnya mau diapakan oleh istri adalah kewenangannya misalnya mau dipakai untuk mempercantik diri ke salon, tambah koleksi blus di lemari atau membeli kemeja baru buat suami atau anak-anak.

Lantas, berapa sih nominal ideal uang belanja bulanan istri? Ternyata hal ini masih sangat membingungkan. Sebab, sampai saat ini belum ada UU yang mengatur berapa batas minimal jatah belanja bulanan yang wajib diberikan suami pada istrinya. Oleh karena itu, untuk nominalnya kembali lagi ke setiap pasangan yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap keluarga.

Meski begitu berdasarkan rumus 50:25:25, kamu bisa menjadikannya patokan menentukan jatah ideal uang belanja bulanan istri. Sebesar 50% untuk uang belanja, 25% untuk nafkah istri, 25% buat pegangan suami.

Misalnya, gaji suami per bulan Rp20 juta. Maka jatah belanja bulanan istri sebesar Rp10 juta, jatah nafkah istri Rp5 juta, dan uang pegangan suami Rp5 juta per bulan. Namun, rumus di atas tidak selalu menjadi patokan jatah ideal uang belanja istri. Karena, semuanya tergantung kamu dan pasangan.

BACA JUGA: Terapkan Kebiasaan Baik Ini Agar Keuangan Keluarga Terjaga

Keluarga yang memiliki anak tentu saja berbeda dengan yang belum punya anak. Apalagi jika pasangan memiliki pekerjaan tetap atau masih serabutan, jelas berbeda pembagiannya.

Hal terpenting yang perlu dilakukan adalah, membahasnya secara terbuka dengan pasangan. Saling terbuka dan memiliki tujuan keuangan bersama tentu akan membuat kamu dan pasangan tambah dekat.

Setelah berumah tangga, keuangan keluarga harus diatur sedemikian rupa dengan segala aturannya supaya kebutuhan keluarga terpenuhi. Aturan tentang masalah keuangan di dalam rumah tangga, salah satunya uang nafkah dan uang belanja istri, harus jelas sejak awal dengan matang dan terbuka. Ini dilakukan agar tidak terjadi pertentangan di kemudian hari.

Karena itu, kamu harus mengelola keuangan bersama pasangan untuk dapat mengetahui apa tujuan jangka pendek dan jangka panjang.

Pengelolaan keuangan keluarga yang baik tentu akan membuat kehidupan keluarga menjadi semakin baik. Untuk urusan pengelolaan keuangan keluarga, baik suami maupun istri punya hak yang sama.

Agar tidak menimbulkan keributan, tugas rumah tangga harus dibagi dengan adil komunikasi yang baik. Dengan begitu, tidak akan ada masalah ke depannya.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
2
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar