Mapan Dulu Baru Menikah (Gambar oleh Frank Winkler dari Pixabay)

Menikah dengan duda atau janda yang sudah pernah menikah memiliki tantangan berbeda dengan calon pasangan yang masih lajang. Pernikahan sebelumnya mungkin memberikan trauma tersendiri sehingga butuh terapi khusus untuk meyakinkannya menikah lagi. Salah satunya adalah trauma KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga.

Seseorang yang pernah mengalami KDRT biasanya akan mengalami kecemasan dan ketakutan untuk kembali di situasi yang sama. Namun tidak menutup kemungkinan percaya dirinya timbul kembali serta mau mencoba sekali lagi berkomitmen dan menikah jika ia merasa yakin dan percaya pada pasangan barunya.

“Korban KDRT perlu bukti bahwa traumanya tidak akan terulang lagi pada pernikahan berikutnya. Kamu bisa mengurangi trauma itu dengan memberikan perhatian, kasih sayang, perlakuan yang baik kepada calon istri. Perlakukanlah seperti layaknya kamu mencintai seseorang dengan tulus dengan perlahan-lahan dan jangan tanpa paksaan,” ujar Dewi Mahastuti, S.Psi., M.Si. – IPPI, salah satu tim ahli pengasuh ribrik Tanya Jawab siapnikah.org.

Perlakuan yang nyaman dapat dilihat serta dirasakan sendiri memberikan kenyamanan psikologis, sehingga besar kemungkinan kembali rasa percaya dirinya untuk menikah lagi. “Bantulah calon pasanganmu untuk melewati masa sulitnya. Suatu komitmen dibangun di atas rasa  saling percaya,” sarannya.

Status janda memang memuat image yang kurang baik bagi beberapa orang, tergantung bagaimana sudut pandang orang tersebut melihatnya. Ketika rencana pernikahan disampaikan kepada keluarga, biasanya akan memberikan respons pro dan kontra.

“Beruntung jika keluarga langsung memberi dukungan. Tapi kalau ada penolakan, jangan langsung emosi. Percayalah bahwa dengan niat baik, kamu akan bisa melalui semua halangan dan rintangan. Anggap ini sebagai ujian mental kamu sebelum menikah,” imbuhnya.

Komunikasi dan pendekatan  merupakan hal yang bisa kamu lakukan. Kamu bisa berkomunikasi dengan keluarga, terutama orangtua, satukan persepsi kamu dengan mereka. Tanyakan apa yang melatarbelakangi pemikiran mereka, kemudian kemukakan pandangan kamu yang logis, satukan pandangan.

Jika ada perbedaan, kamu bisa menjelaskan maksudmu dengan perlahan tanpa emosi. Harus sabar dalam melalui semua ini. “Buktikan keseriusan dan besarnya niat baikmu tersebut. Ajaklah pasanganmu untuk dekat dengan keluargamu. Kesabaranmu ketika mengusahakan restu akan memberikan keyakinan tambahan untuk calon istri yang punya trauma KDRT,” jelas Dewi Mahastuti.

BACA JUGA:

Jika Calon Istri Punya Anak

Apabila pasangan memiliki anak, proses menunggu ini bisa membantu mental anak menjadi lebih stabil sehingga bisa menerima datangnya sosok baru. Mau tidak mau, ketika menikah dengan duda atau janda yang memiliki anak harus siap untuk menempati posisi sebagai orangtua baru. Persiapkan juga mental anak.

Dekati dan ambil hati anak, beritahu tentang rencana pernikahan orangtuanya, izinkan anak menyampaikan keinginan dan pendapatnya.

Memaksakan pernikahan ketika anak belum memberi restu akan membuat pernikahan tidak tenang karena berisiko terjadi konflik. Karena itu bersabarlah dengan anak calon pasangan sebelum memutuskan untuk menikah.

Cobalah untuk berdiskusi dan bekerjasama dengan calon pasangan tentang pola asuh anak. Apakah anak akan ikut dalam keluarga baru atau ikut keluarga mantan, kewajiban anak apa saja yang harus dipenuhi setiap bulannya.

Harus saling jujur dan terbuka dengan calon pasangan baru agar tidak muncul masalah di kemudian hari. Diskusikan dengan calon pasangan tentang pernikahan yang bagaimana yang akan dijalankan, termasuk pola pengasuhan anak dan kewajiban lainnya. Tetap jalankan kewajiban terhadap anak-anak dari pernikahan sebelumnya.

Proses PDKT ini harus dijalani dengan senatural mungkin. Jangan memaksakan kehendak. Karena ketika ada pemaksaan, bisa jadi trauma KDRT akan terbayang kembali sehingga mempengaruhi rencana pernikahanmu.

Leave a comment