Ilustrasi Mendidik Anak (Foto: Pixabay)

Seorang pria yang baik tentunya akan hadir dari didikan orang tua yang hebat. Oleh karena itu, sangat penting untuk mendidik anak laki-laki agar bisa menghargai perempuan sejak dini dan menjadi pria sejati. Harus diingat, tidak hanya anak perempuan yang harus mendapatkan didikan terkait dirinya yang harus bisa memberikan perlindungan diri, tetapi anak laki-laki juga memerlukan didikan agar bisa menghargai dan menghormati perempuan.

Karena anak-anak adalah peniru yang hebat dari apa yang dilakukan orang tuanya, maka mendidik anak dengan kata-kata saja tidak cukup. Sebagai ayah, kamu harus mengajari, memberi contoh, dan menjadikan hal-hal baik sebagai kebiasaan bila kita ingin anak tumbuh menjadi seorang pria sejati.

Ada beberapa cara yang bisa kamu dan pasangan coba untum mendidik anak laki-laki agar bisa menghargai perempuan.

1. Orang tua adalah role model
Anak pasti akan mencontoh orang tua sebagai role model-nya. Cara ini dapat dilakukan melalui interaksi sederhana antara ayah dan ibu. Seperti memberikan ibu kesempatan untuk berkarya, membantu pekerjaan rumah, dan lainnya.

Bagaimana kamu memperlakukan pasangan akan membentuk sikap anak terhadap perempuan dalam hidupnya termasuk terhadap pasangannya kelak. Anak yang melihat ibunya disayang dan diperlakukan dengan baik oleh ayahnya, akan belajar menyayangi pasangannya kelak. Begitu pula sebaliknya.

2. Hindari ketidaksetaraan gender
Media sosial kini semakin mudah untuk diakses. Oleh karena itu sebisa mungkin orang tua mengontrol agar anak tidak termakan dengan konten yang menunjukkan ketidaksetaraan gender dan tak menghormati perempuan. Jika sampai terlihat, segera memberitahukan kalau sikap itu tidak pantas untuk dicontoh.

Kondisi saat ini kerap terbentur dengan tradisi di mana sudah ada pengkotak-kotakkan antara anak laki-laki dan perempuan salah satunya melalui cara bermain. Dengan memberikannya kesempatan yang sama, anak akan belajar kalau baik laki-laki maupun perempuan berhak untuk melakukan hal yang disukai.

3. Ajarkan bagaimana bersikap pada orang lain
Anak-anak memperhatikan perilaku dan sikap orang tuanya. Bila kamu hormat pada orang lain, maka anak akan belajar menghormati. Bila kamu kurang ajar, anak akan menirunya. Maka jagalah sikap. Ajarkan kepada anak-anak semua orang di dunia setara dan berhak mendapatkan kasih sayang dan rasa hormat. Jadilah orang yang bisa menghormati, seperti yang kamu inginkan terhadap anak.

Ajak anak untuk bersimpati dan empati pada orang lain seperti saling membantu. Kamu juga bisa memberikannya refleksi diri ketika melihat sesuatu hal yang tak baik.

4. Memberitahu cara memperlakukan orang tua
Ketika anak secara tak sengaja menyentuh bagian tubuh ibu khususnya di area sensitif, segera sampaikan dan obrolkan kalau hal tersebut membuat tak nyaman dan ia tak boleh sembarang menyentuh tubuh orang lain.

5. Hindari bersikap kasar di depan anak
Sebetulnya manusiawi kalau kamu sebagai orang tua kerap didera rasa kesal. Tapi usahakan untuk tidak melampiaskan emosi di depan anak apalagi soal bergosip tentang perempuan. Karena pengalaman masa kecil akan berpengaruh pada masa depan, terlebih ia yang nantinya akan menjadi seorang kepala keluarga.

6. Ucapkan “aku sayang kamu” tiap ada kesempatan
Anak lelaki juga ingin disayangi ayahnya. Mungkin mereka mulai risih dipeluk ketika beranjak besar di usia belasan, namun anak lelaki sebenarnya selalu merindukan ungkapan sayang dari ayahnya. Banyak di antara kita mungkin tidak lagi saling mengucapkan kata “sayang” kepada anak yang beranjak dewasa.

Namun hal itu bisa gantikan dengan ungkapan lain yang berarti sayang, seperti ucapan “Hati-hati di jalan ya”, atau “Selamat bersenang-senang ya”. Itu cukup membuat anak merasa disayangi. Akan tetapi, bila dibiasakan, kata-kata sayang pun tidak akan terdengar canggung, bahkan bila anak dewasa kelak.

7. Jadilah ayah sekaligus temannya
Para lelaki pasti pernah melakukan hal-hal nakal dan konyol saat remaja. Jadi jangan heran kalau anak kita pun akan seperti itu. Karena pernah mengalaminya, maka bersikaplah bijaksana bila anak melakukan sesuatu yang konyol di mata kita, misalnya mencoba merokok, nonton film porno atau memacari banyak cewek sekaligus.

Bila tindakan itu masih dalam batas kenakalan anak, biarlah dia belajar dari kesalahannya. Saat itulah kita menjadi temannya. Namun bila tindakan itu sudah keterlaluan, menjurus kriminal, atau membahayakan dirinya dan orang lain, kamu harus menjadi ayah yang tegas untuk kebaikan anak kita.

8. Memperlihatkan emosi bukan hal yang tabu
Kita seringkali melarang anak menangis. “Laki-laki tidak boleh menangis,” itu kata yang sering kita dengar. Namun mengungkapkan emosi sebenarnya lebih sehat daripada memendamnya dan menjadikannya penyakit.

Masih banyak orang menganggap tangisan laki-laki adalah bentuk kelemahan. Padahal tidak selamanya seperti itu. Bila anak lelaki menangis karena sebuah alasan yang kuat, biarkan dia menangis. Karena menangis bukanlah tanda dia lemah, melainkan menunjukkan bahwa kita juga manusia dan kita peduli.

9. Ajarkan berani membela kebenaran
Anak sebaiknya diajarkan untuk memiliki rasa percaya diri saat dia membela kebenaran. Biarkan mereka juga tahu bahwa ayahnya mendukung sikap itu. Kadang-kadang anak terpaksa menerima apa yang dia anggap sebagai ketidakadilan. Misalnya dia dihukum di sekolah padahal bukan dia yang melakukan kesalahan, atau dia dipaksa menerima sebuah pelajaran tanpa ada kesempatan bertanya atau berdiskusi. Untuk itu, biarkan dia membela hak-haknya. Anak-anak perlu diajarkan ada hal-hal tertentu di dunia ini yang harus ditegakkan.

10. Buatlah banyak kenangan dengannya
Maka jadikanlah momen-momen dengan anak sebagai sesuatu yang istimewa, sesuatu yang indah, yang akan diceritakan anak-anak kita pada orang-orang lain kelak. Dengan menghadirkan momen-momen yang istimewa, anak akan belajar menghargai waktu dan menciptakan quality time bersama orang lain. Hal ini bisa dilakukan dengan cara sederhana, karena sebenarnya anak tidak menuntut banyak. Misalnya, bermain game bersama atau masak bersama.

11. Pastikan anak menyadari ada hal lain di luar dirinya
Saat kita menyadari bahwa bumi bukanlah pusat semesta, ada pelajaran yang membuat kita menjadi lebih bijaksana. Begitu pula jika anak menyadari bahwa dia bukanlah satu-satunya yang harus diperhatikan, maka anak akan belajar untuk berempati, toleran, dan lebih bisa menerima.

Anak yang merasa dirinya adalah pusat segalanya justru berpotensi menjadi pribadi yang kurang bahagia karena semua beban seolah ada di pundaknya. Sebaliknya anak yang menganggap dirinya bagian dari hal-hal lain, akan lebih bisa menikmati hidupnya. Mereka juga akan belajar menolong orang lain dan tidak terlalu terbebani saat mengalami kegagalan.

12. Hadirilah acaranya
Ingat, orang pertama yang akan dicari anak lelaki untuk menunjukkan kemampuannya atau hasil karyanya adalah ayah mereka. Anak-anak selalu berharap ayah mereka peduli pada apa yang mereka lakukan. Oleh karena itu, luangkahkan waktumu untuk menghadiri acara buah hati.

13. Kedekatan berbeda dengan kebersamaan
Kamu mungkin berada di dekat anak saat dia mengerjakan PR, berjalan-jalan di mal, atau mengikuti sebuah lomba. Namun bila kamu sibuk dengan ponsel atau hal lain, maka kehadiranmu kurang bermakna. Kamu memang “hadir”, tapi tidak “bersama” dengan mereka.

Ini hal yang cukup sulit dilakukan karena tangan kita secara otomatis meraih ponsel saat sedang tidak memegang benda lain. Tapi bila kamu menyadari anak membutuhkan kehadiran kamu secara utuh, maka mulailah mengesampingkan ponsel dan urusan lain.

14. Ajarkan tentang kebersihan dan keindahan
Ajarilah anak untuk membersihkan dirinya, menyikat gigi, dan menggunakan wewangian setiap hari. Mungkin orang akan maklum terhadap kondisi anak-anak yang bau dan kotor, tetapi kamu bisa mengajarinya sebagai bagian dari menghormati dan tidak menimbulkan gangguan pada orang lain.

Selain itu, penting bagi anak-anak untuk menghargai keindahan dan kecantikan dari hal-hal yang ada di sekitarnya. Sebagai ayah, kamu perlu membantu anak kita memahami bahwa kecantikan bukan sekadar penampilan saja. Ajarkan dia melihat inner beauty. Semakin dini anak kita memahami soal ini, ia akan semakin menghargai kehidupan.

15. Anak boleh berteman dengan siapa saja
Kebanyakan anak laki-laki tidak berteman dengan perempuan pada masa kecil. Teman bermain selalu sesama laki-laki. Akibatnya anak sering canggung berada di antara perempuan, bahkan setelah kita dewasa. Bila hal yang sama terjadi pada anak, ubahlah pola itu. Biarlah dia mencoba bermain dengan teman-teman perempuannya seperti halnya dia berkawan dengan teman lelakinya. Kelak itu akan menjadi bekalnya agar nyaman berada di manapun, dan dia akan berterima kasih pada kita untuk pelajaran itu.

16. Jangan berkedip
Tanpa disadari, anak-anak sudah menjadi remaja. Maka berikan waktu untuk setiap masa pertumbuhan anak. Nikmatilah waktu bersama mereka, karena itulah waktu terbaik memberi anak-anak teladan bagaimana menjadi lelaki sejati.

Bagian ini agak sulit bagi para ayah yang tinggal di kota besar seperti Jakarta. Berangkat pagi sebelum anak-anak bangun tidur, dan pulang larut setelah mereka terlelap. Memang tanggung jawab kamu untuk mencari nafkah, tetapi sempatkanlah bersama anak-anak di waktu yang memungkinkan. Jadikanlah sedikit waktu bersama mereka sebagai waktu yang istimewa dan berkualitas.

17. Ajari minta maaf secara tulus
Anak-anak sering kali membuat jengkel orang tuanya. Untuk itu ajarkanlah dia minta maaf bila melakukan kesalahan yang merugikan orang lain. Kita tentu tidak perlu memaksanya untuk minta maaf. Tapi berilah contoh, bila kamu melakukan kesalahan terhadapnya, mintalah maaf dengan tulus. Ia tentu akan menerimanya.

Dia pun akan belajar untuk melakukan hal yang sama bila menyadari tidak ada seorang pun yang sempurna. Dengan minta maaf, anak akan belajar dari kesalahannya, menjadi orang yang lebih baik, dan kelak akan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih indah.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
2
+1
2
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar