Muncul Fenomena Marriage Is Scary, Apa Penyebabnya?

Marriage Is Scary

Table of Contents

Pernikahan merupakan fase kehidupan yang membawa berbagai perubahan besar serta tanggung jawab bagi banyak orang. Karena itu, wajar jika kecemasan sebelum menikah muncul saat mempersiapkan kehidupan berkeluarga. Banyak hal yang harus dipikirkan, mulai dari hubungan dengan pasangan, kondisi finansial, hingga kesiapan untuk menjadi orang tua.

Fenomena “marriage is scary” yang sering muncul di media sosial bisa mencerminkan kekhawatiran terhadap kehidupan pernikahan. Istilah ini tidak selalu menunjukkan penolakan terhadap pernikahan, tetapi bisa menjadi gambaran tentang kesadaran akan pentingnya persiapan sebelum membangun keluarga.

Kekhawatiran mengenai kehidupan rumah tangga juga bisa dilihat dalam konteks isu perceraian di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 438.168 perceraian di Indonesia sepanjang 2025. 

Perselisihan dan pertengkaran terus-menerus menjadi faktor yang paling banyak tercatat, yaitu 282.326 kasus, disusul oleh masalah ekonomi sebanyak 105.727 kasus. Faktor lainnya meliputi salah satu pihak meninggalkan pasangan sebanyak 31.029 kasus dan kekerasan dalam rumah tangga sebanyak 7.138 kasus.

Data tersebut tidak berarti bahwa pernikahan perlu dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Sebaliknya, informasi ini bisa menjadi bahan refleksi mengenai pentingnya membangun komunikasi, mengelola konflik, serta berbagai aspek kesiapan sebelum memasuki kehidupan berkeluarga.

Kenapa Pernikahan Bisa Terasa Menakutkan bagi Anak Muda?

Marriage Is Scary
Sumber : Envato

Ada sejumlah alasan yang membuat pernikahan terasa penuh tantangan. Memahami sumber kecemasan sebelum menikah bisa membantu calon pengantin mengetahui hal-hal yang perlu dipersiapkan bersama pasangan.

Ekspektasi terhadap Pernikahan Makin Besar

Pernikahan bukan cuma soal hidup bahagia dan harmonis bersama pasangan. Di dalamnya, ada berbagai tantangan dan tanggung jawab. Pasangan harus mengelola kebutuhan rumah tangga, mengambil keputusan bersama, serta beradaptasi dengan perubahan.

Terlebih lagi, di era ketika media sosial sudah menjadi bagian yang melekat dalam rutinitas, ekspektasi terhadap pernikahan bisa makin besar. Orang bisa melihat betapa harmonis, romantis, dan mapannya kehidupan rumah tangga orang lain.

Namun, gambaran tersebut bisa menjadi tolok ukur yang tidak realistis jika dibandingkan dengan kehidupan sendiri. Padahal, setiap pasangan memiliki kondisi dan perjalanan yang berbeda sehingga tidak ada standar tunggal untuk kehidupan rumah tangga.

Rencana yang matang tetap perlu disertai kemampuan beradaptasi saat menghadapi perubahan. Karena itu, saling menghargai dan mencari solusi bersama menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan berkeluarga.

Khawatir Tidak Mampu Menghadapi Masalah dalam Rumah Tangga

Stres menjelang pernikahan sering kali muncul ketika calon pengantin membayangkan berbagai persoalan yang mungkin akan dihadapi setelah menikah.

Perbedaan pandangan, kebiasaan, pembagian peran, pengelolaan keuangan, hubungan dengan keluarga besar, hingga rencana memiliki anak merupakan hal-hal penting yang perlu dibicarakan sebelum menikah.

Perbedaan pandangan dalam hubungan merupakan hal yang wajar. Yang penting adalah kemampuan menyampaikan pendapat tanpa memaksakan kehendak, mendengarkan pasangan, memahami kebutuhan masing-masing, serta mencari kesepakatan bersama.

Kesiapan Menikah Tidak Hanya Soal Perasaan Cinta

Marriage Is Scary
Sumber : Envato

Cinta memang sesuatu yang penting dan mendasar dalam membangun hubungan. Namun, cinta saja tidak cukup. Kesiapan untuk membangun keluarga membutuhkan lebih dari sekadar itu, mengingat hal ini berkaitan dengan kondisi diri dan pasangan dari berbagai aspek.

Memahami 10 Dimensi Kesiapan Berkeluarga

Untuk mendukung calon pengantin agar lebih siap membangun kehidupan berkeluarga, BKKBN memperkenalkan 10 Dimensi Kesiapan Berkeluarga. Aspek yang tercantum di dalamnya meliputi usia, fisik, mental, finansial, moral, emosi, sosial, interpersonal, intelektual, dan keterampilan hidup.

Kesepuluh dimensi tersebut membantu calon pasangan melihat berbagai aspek yang perlu dipersiapkan sebelum membangun keluarga. Misalnya, aspek finansial berkaitan dengan kemampuan mengelola dan merencanakan kebutuhan keluarga, sementara aspek fisik berkaitan dengan kondisi kesehatan yang mendukung kehidupan berkeluarga.

Kesehatan mental calon pengantin juga menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam mempersiapkan kehidupan berkeluarga. 

Kemampuan mengenali emosi, memahami sumber kekhawatiran, dan membangun komunikasi yang sehat bisa membantu pasangan menghadapi berbagai dinamika dalam kehidupan berkeluarga.

Mempersiapkan Kesehatan, Finansial, dan Kehidupan Keluarga

Kesehatan fisik dan reproduksi sangat penting dalam persiapan kehidupan berkeluarga. Dengan pemeriksaan kesehatan pranikah, calon pengantin bisa mengenali kondisi kesehatan serta faktor risiko sebelum merencanakan kehamilan.

Untuk mendukung persiapan tersebut, BKKBN menyediakan aplikasi Elsimil (Elektronik Siap Nikah dan Hamil). Melalui Elsimil, calon pengantin bisa melakukan skrining serta memperoleh edukasi dan pendampingan sebagai bagian dari persiapan membangun keluarga yang sehat.

Persiapan kesehatan juga bisa mencakup pemahaman mengenai gizi calon pengantin dan pencegahan stunting. Pengetahuan tersebut akan membantu pasangan mempersiapkan kesehatan keluarga sejak sebelum kehamilan.

Selain kesehatan, calon pengantin juga perlu membicarakan manajemen keuangan sejak awal. Pembahasannya bisa mencakup kondisi penghasilan dan pengeluaran, tabungan, utang, hingga rencana dan pengelolaan keuangan keluarga

Keterbukaan mengenai kondisi finansial ini akan membantu pasangan menyusun prioritas dan rencana kehidupan berkeluarga secara lebih realistis.

Memahami Peran Orang Tua dan Pentingnya Pengasuhan Bersama

Kesiapan berkeluarga tidak hanya berkaitan dengan hubungan sebagai pasangan, tetapi juga kesiapan menjalankan peran sebagai orang tua.

Karena itu, pembahasan mengenai pola pengasuhan, pembagian peran, dan tanggung jawab dalam merawat anak sebaiknya dilakukan sejak sebelum menikah, termasuk pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan.

Pembahasan ini menjadi bagian dari upaya membangun keluarga yang mampu menjalankan berbagai fungsi, seperti memberikan perlindungan, pendidikan, kasih sayang, serta memenuhi kebutuhan ekonomi. Pengetahuan tersebut bisa mendukung persiapan kesehatan keluarga sejak sebelum kehamilan.

Menghadapi Kecemasan dan Stres Menjelang Pernikahan

Kekhawatiran sebelum menikah tidak selalu menunjukkan ketidaksiapan untuk membangun kehidupan berkeluarga. Memahami sumber kekhawatiran juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental calon pengantin selama mempersiapkan pernikahan.

Bicarakan Hal-Hal Penting Bersama Pasangan

Salah satu cara menghadapi stres menjelang pernikahan adalah dengan membicarakan berbagai hal yang berpotensi memengaruhi kehidupan setelah menikah. Pembahasannya bisa mencakup keuangan, pembagian peran, hubungan dengan keluarga besar, kesehatan reproduksi, rencana memiliki anak, serta pola pengasuhan.

Pembicaraan tersebut tidak selalu menghasilkan kesepakatan dalam satu waktu. Proses ini bisa membantu pasangan memahami kebutuhan, cara berpikir, dan batasan masing-masing.

Saat perbedaan muncul, pasangan bisa membangun komunikasi yang sehat melalui kebiasaan mendengarkan secara aktif, menyampaikan pendapat tanpa menyudutkan, dan mencari jalan keluar bersama.

Cek Kesiapan dan Mencari Perspektif yang Tepat

Mengenali sumber kecemasan sebelum menikah bisa membantu calon pasangan mengetahui aspek yang masih perlu dipersiapkan, seperti keuangan, komunikasi, kesehatan reproduksi, dan kesiapan menjadi orang tua.

Jika kecemasan terasa mengganggu, tinjau kembali aspek yang masih membutuhkan perhatian serta mencari informasi dari sumber yang tepercaya. Dengan demikian, kekhawatiran tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk mempersiapkan kehidupan berkeluarga dengan lebih matang.

 

BACA JUGA ARTIKEL  Calon Pengantin, Jaga Asupan Gizimu Agar Terhindar dari Anemia

Fenomena “marriage is scary” bisa mencerminkan kesadaran bahwa pernikahan membutuhkan persiapan, bukan sekadar perasaan cinta. Kecemasan sebelum menikah pun bisa menjadi kesempatan untuk mengenali kebutuhan diri, berdiskusi bersama pasangan, dan mempersiapkan kehidupan berkeluarga.

Kesiapan menikah bukan berarti harus memiliki kehidupan yang sempurna. Yang lebih penting adalah kemauan untuk terus belajar, berkomunikasi, mengambil keputusan bersama, dan menjalankan peran dalam keluarga dengan tanggung jawab.

Sudah sejauh mana kesiapan berkeluarga? Manfaatkan fitur Cek Kesiapanmu! di Siap Nikah mengenali aspek yang masih perlu Sobat Siap Nikah persiapkan. Jika butuh pembahasan lebih lanjut, tersedia fitur Konsultasi Yuk! bersama konsultan pakar.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Scroll to Top