Kriteria Istri yang Baik Menurut Firman Tuhan, Apa Saja?

Siap Nikah (Foto: Pixabay)

Table of Contents

Menikah memang sebaiknya sekali seumur hidup karena merupakan proses yang sakral. Sehingga dalam menentukan calon istri pun kamu perlu untuk menetapkan kriteria agar ke depannya lebih mudah menjalani bahtera rumah tangga. Meskipun beberapa pria juga ada yang lebih suka untuk sama-sama berkembang dan belajar untuk menjadi pasangan suami istri yang ideal setelah menikah.

Namun bagi kamu yang mencari gambaran seperti apa istri ideal terutama dari kacamata agama, berikut kriteria calon istri ideal menurut pandangan agama Kristen. Dilansir dari laman GKDI, Tuhan memiliki standar yang sangat jelas mengenai istri yang baik.

Lalu, apa saja kriterianya menurut firman Tuhan?

1. Takut akan Tuhan
“Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua. Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.” – Amsal 31:29-30

Di dalam Amsal 31:29 tertulis, “banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.” Kata “kau” tersebut merujuk pada istri yang takut akan Tuhan. Oleh karena itu dapat disimpulkan, istri yang takut akan Tuhan itu lebih dari istri yang baik. Karakter “baik” itu hanya salah satu karakter dari “istri yang takut akan Tuhan”.

Mengapa menjadi seorang istri yang takut akan Tuhan begitu penting? Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, tantangan dan kejadian-kejadian tidak ideal yang pasti akan terjadi. Jika seorang istri tidak takut akan Tuhan, dia bisa terbawa emosi, memicu pertengkaran, serta tidak menjadi penolong yang baik.

Efek dari istri yang takut Tuhan akan sangat luar biasa. Buah-buah roh itu akan tercermin dalam hidupnya dan keluarganya akan merasakan pengaruhnya juga. Amsal 31 mencatat begitu banyak karakter yang muncul dari seorang istri yang takut akan Tuhan, seperti berbuat baik kepada suaminya (Amsal 31:12), tidak berbuat jahat (Amsal 31:12), kata-katanya penuh hikmat (Amsal 31:26), optimis (Amsal 31:25), suka memberi (Amsal 31:20), bertanggung jawab (Amsal 31:15), rajin sehingga kerja kerasnya membuahkan hasil (Amsal 31:19, Amsal 31:16, Amsal 31:27).

Seorang istri yang takut akan Tuhan tahu apa dasar yang ia pegang yaitu firman Tuhan. Tentunya, ia juga menerapkan nilai-nilai itu di dalam keluarganya. Dia akan menjadi istri, menantu, dan ibu yang baik pula. Istri yang baik belum tentu istri yang takut akan Tuhan. Namun, istri yang takut akan Tuhan, sudah pasti istri yang baik, bahkan lebih dari itu.

2. Tunduk pada suami
“Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan” – Efesus 5:22

Istri yang yang sesuai dengan kehendak Tuhan adalah istri yang tunduk kepada suaminya. Namun, apa arti tunduk kepada suami? Seorang istri harus tunduk kepada suaminya seperti tunduk kepada Tuhan, bahkan di saat suaminya tidak menjadi teladan. Tunduk artinya istri tetap menghargai, hormat, dan tidak merendahkan suami. Baik dengan kata-kata maupun melalui gesture atau mimik wajah istri. Bahkan istri tetap hormat kepadanya di dalam hati dan pikiran.

Tunduk juga berarti, meskipun istri memiliki pandangan yang berbeda, istri tetap menyampaikannya dengan baik. Dengan nada suara, cara penyampaian, serta mimik wajah yang menunjukkan bahwa kita respek kepada suami.

Apakah kamu pernah melihat orang tua atau suami istri bertengkar saling melukai secara verbal? Atau lebih dari itu, bahkan sampai melakukan kekerasan fisik? Atau, apakah hal-hal seperti ini yang terjadi dalam kehidupan pernikahan sehari-hari? Jika ya, apakah ada hormat terhadap satu sama lain di sana?

Jika ingin menjadi istri yang baik, perlu tunduk kepada suami. Suami pun perlu tunduk kepada Tuhan dan melakukan peran sebagai suami yang baik pula. Untuk bisa menjalankan peran masing-masing dengan baik, kuncinya adalah takut kepada Tuhan.

3. Dapat dipercaya suami
“Istri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga daripada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.” – Amsal 31:10-11

Menjadi istri yang baik adalah menjadi seseorang yang dapat dipercaya. Menjadi orang kepercayaan berarti menjadi orang yang sangat penting dalam hidup orang yang mempercayakannya. Orang yang dipercaya tentu memiliki karakter yang baik, seperti integritas, kejujuran, serta dapat diandalkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, istri yang dapat dipercaya dapat mengelola hal-hal yang dipercayakan kepadanya dengan baik. Contohnya, uang belanja, keuangan keluarga, rumah tangga, dan lain-lain. Ia juga dapat menyimpan cerita-cerita suami dan anak-anaknya dengan baik, sehingga mereka merasa secure dan tidak dihakimi ketika melakukan kesalahan. Selain itu, tentunya ia juga tidak berselingkuh. Kepercayaan yang diberikan suaminya dan Tuhan tidak ia sia-siakan.

BACA JUGA: 5 Cara Memberi Kode Pasangan Saat Kamu Sudah Siap Nikah

4. Rajin dan bertanggung jawab
“Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya. Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya. Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.” – Amsal 31 :13-15

Setelah seharian beraktivitas, rumah seharusnya menjadi tempat terbaik dan ternyaman untuk pulang, baik untuk suami maupun anak-anak. Namun, bagaimana jika mereka pulang dan menemukan keadaan rumah kita berantakan, kotor, dan tidak ada makanan? Kira-kira, bagaimana perasaan orang yang tinggal di rumah itu?

Kerajinan dan sikap yang penuh tanggung jawab adalah karakter yang harus ada di dalam diri seorang istri. Namun, kedua karakter ini tidak terbentuk begitu saja. Sikap rajin ini perlu terus dilatih, terlebih jika selama ini tidak terbiasa. Istri yang baik adalah istri yang rajin dan bertanggung jawab dalam berbagai area yang diberikan kepadanya, seperti pekerjaan kantor, mengurus rumah tangga, mengurus suami, anak, dan lain-lain.

Untuk menjadi rajin diperlukan motivasi yang benar. Misalnya saja pasangan yang baru saja menikah, istri bisa saja sangat semangat di awal mengarungi rumah tangga. Rajin untuk bangun pagi, menyediakan sarapan, dan membereskan pekerjaan rumah. Namun, bulan selanjutnya apakah mulai merasa lelah dan mulai mempertanyakan mengapa harus melakukan semua itu seperti seorang pelayan?

Saat itu, mungkin saja motivasimu salah. Kamu melakukan semua itu agar mendapat pujian dari suami. Namun, ketika kamu tidak mendapat pujian, kamu tidak termotivasi lagi untuk rajin mengurus pekerjaan rumah tangga. Akhirnya kamu mengerti bahwa kamu harus melakukannya bukan untuk mendapat pujian, tetapi karena ingin menjadi istri yang baik di mata Tuhan, suami dan keluargamu.

Ketika kamu melakukan sesuatu dengan rajin, berarti juga melakukannya dengan cinta, dengan sukacita. Oleh karena itu, lakukanlah peranmu sebagai istri dengan semangat, jangan dengan terpaksa, atau ingin mendapat pujian, karena itu yang Tuhan inginkan.

Menjadi istri yang baik bukanlah hal yang mustahil. Tuhan telah memberikan firman-Nya untuk mengajarkan menjadi istri yang baik, yaitu dengan cara takut akan Tuhan, tunduk kepada suami, dapat dipercaya suami, serta rajin dan bertanggung jawab.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
4
+1
3
+1
9
+1
5
Scroll to Top