Ingat Pre-wedding Ingat Prakonsepsi (Foto oleh Aiilolo dari Pixabay)

Tren untuk melakukan foto pre-wedding sebelum menikah semakin popular. Banyak pasangan yang rela mengeluarkan biaya besar untuk mendapat foto pre-wedding. Sayangnya, kebiasaan itu tidak diikuti dengan mempersiapkan prakonsepsi sebelum menikah.

Prakonsepsi adalah proses perencanaan kehamilan yang mestinya dilakukan saat remaja dan semakin intens menjelang pernikahan. Bukan cuma untuk perempuan, tetapi laki-laki juga. Karena sel sperma dan sel telur sudah ada setelah pubertas.

Jika remaja memiliki kualitas sperma dan sel telur yang baik dan sehat, nantinya anak-anaknya memiliki masa depan dan tingkat kesehatan yang baik pula. Masa prakonsepsi saat remaja bukan berarti menganjurkan remaja untuk hamil, tetapi mempersiapkan kesadaran remaja untuk menjaga kesehatan karena tubuhnya siap bereproduksi. Bertanggungjawab untuk fungsi reproduksi harus dimulai sejak remaja.
Kalau tanggung jawab dan kesadaran akan pentingnya perencanaan kehamilan sudah terbentuk sejak remaja, mereka akan menghindari pergaulan bebas. Karena sadar seks sebelum nikah memiliki banyak risiko, salah satunya kehamilan. Satu-satunya cara untuk menghindari kehamilan yang efektif adalah tidak melakukan hubungan seksual.

BACA JUGA:

Mengingat salah satu fungsi keluarga adalah memberikan anak kesempatan hidup dalam keluarga yang lengkap fungsinya, maka perencanaan kehamilan adalah kewajiban suami istri. Perencanaan kehamilan bisa dimulai dengan memahami kehamilan berisiko tinggi.

“Ada kehamilan risiko tinggi, yaitu terlalu muda dengan usia kurang dari 20 tahun, terlalu tua usia di atas 35 tahun untuk kehamilan pertama, terlalu sering yang jarak kehamilannya kurang 2 tahun, terlalu banyak lebih dari tiga anak, itu banyak,” ujar Kepala BKKBN DR. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) dalam Bincang Familypedia.

Kurang gizi pada remaja membuat pertumbuhannya terhambat. Ini bisa menjadi faktor utama anak mengalami stunting. Dikutip dari Gridhealth.id, ibu yang pendek ternyata berisiko besar melahirkan anak yang stunting juga.
Pasalnya masalah stunting ternyata merupakan masalah yang intergenarasional atau menurun ke setiap generasi. Intergenerasional artinya siklus berlanjut dari satu generasi ke generasi di bawahnya. Di mana ibu yang stunting atau ibu pendek akan melahirkan bayi yang stunting juga.

Kebiasaan makan yang tidak bergizi pada remaja juga membuat anemia terus berlanjut pada remaja putri, dewasa, hingga menikah dan hamil. Anemia sendiri merupakan kondisi tubuh kekurangan sel darah merah sehat atau saat sel darah merah tak berfungsi normal. Sel darah merah memiliki bagian utama, yakni Hemoglobin (Hb) untuk mengikat oksigen.

Untuk menghindari kehamilan berisiko, jangan lupa lakukan tes kesehatan sebelum menikah. Hasto menyayangkan masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya cek kesehatan sebelum menikah. Banyak pasangan yang heboh mempersiapkan kebutuhan pre-wedding dan resepsi, namun untuk kebutuhan fisik dikesampingkan.
“Banyak orang mau mengeluarkan banyak uang untuk pre-wedding, tapi untuk beli azam folat dan zinc untuk sperma tidak dibeli. Padahal harganya murah. Jadi, ini bukan karena masyarakat tidak punya uang untuk membeli vitamin dan nutrisi, tapi karena kesadarannya belum ada. Banyak di antara masyarakat yang belum paham, itu masalahnya,” jelasnya. Karena itu, lakukan cek kesehatan di puskesmas terdekat ketika kamu sudah merencanakan pernikahan.

Siap Nikah Siap Hamil

Calon pasangan pengantin harus siap biologis, psiklogis, dan ekonomi. “Usia pengantin perempuan minimal 21 tahun, ini terkait dengan kesiapan fisik calon ibu. Panggulnya sudah selesai tumbuh sehingga bisa aman untuk melahirkan bayi,” kata Hasto.

Hindari juga kehamilan terlalu tua, hamil pertama di usia 35 tahun ke atas itu masuk kehamilan berisiko tinggi. “Jangan terlalu sering, terlalu banyak, terlalu muda, terlalu tua,” tegasnya.

Pasangan yang baru menikah biasanya baru memeriksakan diri setelah terlambat haid. Padahal saat kamu telat sebulan menstruasi, itu berarti dihitung hamil 8 minggu. “Ini pembentukan bayi sudah sempurna, kalau ada cacat sudah terbentuk, telat untuk dicegah. Karena itu vitamin bisa diberikan sebelum menikah. Jangan sampai telat. Ada yang hamil, tidak tahu kalau sedang hamil,lalu minum obat yang tidak aman untuk bayi, ini juga berisiko,” kata Hasto.

Ada juga yang takut tes kesehatan karena takut hasilnya jelek kemudian gagal menikah. “Jangan khawatir, tes kesehatan ini kan screening awal saja tidak terlalu detail. Jadi kalau ada kekurangan hanya ditambah vitamin. Kalau badan kurus, kurang protein akan ditambah vitamin juga. Nggak bakal batal nikah,” saran Hasto.

Karena itu, penting memastikan calon orangtua sehat sebelum menikah. “Cek kesehatan bukan untuk melarang menikah, tapi kalau kondisi memang belum bagus, bisa ditunda terus hamilnya. Pakai kondom atau pil dulu kalau belum ideal untuk hamil. Setelah sehat baru deh kontrasepsi dilepas,” pungkasnya.

Mitos pil KB bikin mandul itu tidak benar. Justru pil KB bisa bikin hormon wanita jadi normal. Yang sebelumnya menstruasi tidak lancar, bisa jadi lancar karena minum pil KB.

Leave a comment