Perencanaan Keluarga Dimulai Saat Kamu Remaja (Foto oleh Guduru Ajay bhargav dari Pexels)

Salah satu tujuan perkawinan adalah melanjutkan dan memelihara keturunan. Artinya, dengan perkawinan, kelak suami istri akan berperan menjadi ayah-ibu. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat merupakan tempat untuk mendidik dan membentuk watak moral anak-anak mereka.

Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak, tempat anak belajar, dan berperan sebagai makhluk sosial sehingga penting untuk tumbuh kembang generasi Indonesia. Selain itu melalui pembangunan keluarga, diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan seperti keluarga rentan, keluarga tidak sejahtera, dan miskin.

Menurut UU No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, disebutkan pengertian keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri dan anak, atau ayah dan anak, atau ibu dan anak.

Tugas utama keluarga adalah memenuhi kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial anggota keluarganya, mencakup pemeliharaan dan perawatan anak-anak, pembimbingan perkembangan kepribadian anak-anak, dan memenuhi kebutuhan emosional anggota keluarganya.

Karena itu calon ayah dan ibu perlu menentukan keluarga impian, pilihan, dan harapannya serta perlu memiliki perencanaan untuk menjadi orangtua yang hebat. Untuk itu, diperlukan perencanaan yang matang, antara lain:

1. Merencanakan Usia Pernikahan
Rencana pernikahan idealnya sudah dipersiapkan mandiri sejak remaja. Oleh karena itu, faktor terpenting yang menentukan keberhasilan implementasi keluarga berencana adalah kemampuan keluarga dan anggota keluarga dalam merencanakan kehidupan di semua tahapannya: mulai dari kesehatan reproduksi remaja, merencanakan berkeluarga, merencanakan kehamilan dan jaraknya, merencanakan pola asuh anak, dan merencanakan kehidupan hari tua.

Jadi kesadaran untuk merencanakan masa depan keluarga sudah harus diketahui dan dilakukan sejak remaja. Remaja yang sadar untuk berencana akan menjaga pergaulannya dan menghindari perilaku berisiko.

2. Membina Hubungan antar pasangan dengan keluarga lain, dan kelompok sosial
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, selalu membutuhkan orang lain dan tidak bisa hidup sendiri. Karena itu dasar perencanaan keluarga membutuhkan hubungan antar pasangan dengan keluarga lain dan kelompok sosial. Setelah mendapatkan pasangan, kita harus bisa menyesuaikan dengan keluarganya, juga kelompok sosial yang dikenal pasangan.

Pembangunan keluarga dilakukan melalui pendekatan siklus hidup manusia, yaitu mulai dari peningkatan kualitas anak, remaja, lansia, sampai dengan peningkatan kualitas lingkungan keluarga. Terbangunnya ketahanan keluarga remaja dan kualitas remaja dalam menyiapkan kehidupan berkeluarga akan menjadi pondasi keluarga yang berkualitas di masa depan.

Tanda Siap Nikah (Foto oleh Miroslav Sárička dari FreeImages)
Tanda Siap Nikah (Foto oleh Miroslav Sárička dari FreeImages)

3. Merencanakan kelahiran anak pertama persiapan menjadi orangtua
Membicarakan keluarga berencana pada remaja bukan hal yang tabu. Jadi tak ada salahnya jika remaja bertanya dan diberikan jawaban yang benar. Karena pra konsepsi atau proses perencanaan kehamilan mestinya dilakukan saat remaja. Bahkan dari masa pubertas. Bukan cuma untuk perempuan tetapi laki-laki juga. Karena sel sprema dan sel telur sudah ada setelah pubertas.

“Kalau kita optimalkan remaja memiliki kualitas sperma dan sel telur yang baik dan sehat, nantinya anak-anaknya memiliki masa depan yang sehat pula,” ujar Dr. Dyana Safitri, Sp.OG (K), Anggota POGI, Pengasuh Rubrik Tanya Jawab KB, Reproduksi, dan Kesehatan Seksual Siapnikah.org.

Masa pra konsepsi saat remaja bukan berarti menganjurkan remaja untuk hamil, tetapi mempersiapkan kesadaran remaja untuk menjaga kesehatan karena tubuhnya siap bereproduksi. Bertanggungjawab untuk fungsi reproduksi harus dimulai sejak remaja.

“Kalau tanggung jawab dan sadar pentingnya perencanaan kehamilan, remaja akan menghindari pergaulan bebas. Karena sadar seks sebelum nikah memiliki banyak risiko, salah satunya kehamilan. Satu-satunya cara untuk menghindari kehamilan yang efektif adalah tidak melakukan hubungan seksual,” terangnya.

4. Mengatur jarak kelahiran dengan menggunakan alat kontrasepsi
Mengingat salah satu fungsi keluarga adalah memberikan anak kesempatan hidup dalam keluarga yang lengkap fungsinya, maka perencanaan kehamilan adalah kewajiban suami istri. Perencanaan kehamilan bisa dimulai dengan memahami kehamilan berisiko tinggi.

“Ada kehamilan risiko tinggi, yaitu terlalu muda dengan usia kurang dari 20 tahun, terlalu tua usia di atas 35 tahun untuk kehamilan pertama, terlalu sering yang jarak kehamilannya kurang 2 tahun, terlalu banyak lebih dari tiga anak, itu banyak,” papar Dyana.

BACA JUGA:

Oleh karena itu faktor terpenting yang menentukan keberhasilan implementasi KB adalah kemampuan keluarga dan anggota keluarga dalam merencanakan kehidupan di semua tahapannya: mulai dari kesehatan reproduksi remaja, merencanakan berkeluarga, merencanakan kehamilan dan jaraknya, merencanakan pola asuh anak, dan merencanakan kehidupan hari tua.

Berhenti melahirkan di usia 35 tahun agar dapat merawat balita secara optimal. Tujuannya agar bisa merawat dan mengasuh anak usia balita memenuhi kebutuhan mendasar anak (kebutuhan fisik, kasih sayang, dan stimulasi).
Keluarga berkualitas yang kita ciptakan akan terwujud apabila masing-masing keluarga memiliki ketahanan keluarga yang tinggi. Semua itu perlu perencanaan keluarga yang matang, tidak baik jika dilakukan dengan gegabah di setiap langkahnya.

Leave a comment