Picky Eater pada Anak: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Picky Eater

Table of Contents

Anak susah makan sudah jadi masalah umum untuk banyak orang tua. Ketika anak menolak makan, hanya mau mengonsumsi makanan tertentu, atau sama sekali enggan mencoba menu baru, kondisi ini sering disebut sebagai picky eater atau anak yang pilih-pilih makanan. 

Meski sering dianggap hal wajar, kebiasaan ini tetap perlu diperhatikan. Pasalnya, jika berlangsung lama, ini akan sangat memengaruhi asupan gizi anak. Tidak hanya itu kebiasaan “pilih-pilih makanan” ini akan membentuk pola makan anak yang kurang sehat yang pada akhirnya memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. 

Lalu, apa sebenarnya penyebab picky eater? Bagaimana cara mengatasinya tanpa memaksa anak makan? Berikut penjelasan lengkap yang perlu diketahui oleh orang tua.

Apa Itu Picky Eater pada Anak?

Seperti yang sudah dijabarkan di paragraf awal, picky eater adalah kondisi ketika anak memiliki pilihan makanan yang sangat terbatas atau cenderung memilih-milih makanan.

Kondisi ini paling sering terjadi pada anak usia 2–6 tahun. Di rentang usia ini, anak mulai mengembangkan kemandirian dan memiliki kemampuan untuk menentukan makanan yang disukai maupun tidak disukai.

Jika menemukan anak dengan kondisi ini, orang tua sebaiknya tidak langsung panik. Selama berat badan dan pertumbuhan anak masih sesuai dengan usianya, picky eater umumnya tidak berbahaya. 

Akan tetapi, orang tua juga tetap perlu waspada dan mengevaluasi kondisi anak.

  • Apakah kondisi tersebut sudah berlangsung lama?
  • Apakah berat badan anak sulit naik?
  • Apakah aktivitas harian anak terganggu? 
  • Bagaimana dengan pemenuhan gizi anak? Apakah tercukupi?

Bila jawaban-jawaban di atas cenderung buruk, orang tua sebaiknya segera mencari tahu apa penyebab dan bagaimana cara mengatasinya. Jika diperlukan, orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. 

Penyebab Picky Eater pada Anak

Picky Eater
Sumber : Envato

Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan anak menjadi pilih-pilih makanan. Memahami penyebabnya akan membantu orang tua menentukan pendekatan yang sesuai.

Faktor perkembangan anak

Pada usia balita, pertumbuhan fisik anak mulai melambat dibandingkan saat bayi. Akibatnya, kebutuhan energi juga sedikit menurun sehingga nafsu makan tampak berkurang.

Selain itu, anak sedang belajar mengambil keputusan sendiri. Menolak makanan sering kali menjadi salah satu cara mereka menunjukkan kemandirian.

Sensitivitas terhadap rasa, tekstur, atau aroma

Rasa pahit, tekstur lembek, atau aroma tertentu umumnya menjadi hal yang paling tidak disukai anak-anak.

Misalnya, anak menolak sayuran hijau karena terasa pahit, tidak menyukai buah tertentu karena teksturnya, atau enggan makan ikan karena aromanya.

Penolakan ini terjadi bukan karena anak sengaja sulit makan, melainkan merupakan respons alami terhadap rangsangan sensorik.

Pengalaman makan yang kurang menyenangkan

Pengalaman buruk saat makan juga dapat membuat anak takut makan. Beberapa contohnya adalah:

  • Pernah tersedak. 
  • Dipaksa menghabiskan makanan. 
  • Dimarahi saat makan. 
  • Mengalami mual atau muntah setelah mengonsumsi makanan tertentu. 

Pengalaman tersebut dapat membentuk asosiasi negatif sehingga anak menjadi takut mencoba makanan baru.

Kebiasaan makan yang kurang tepat

Pola makan sehari-hari juga berpengaruh terhadap kebiasaan makan anak. Beberapa kebiasaan yang dapat memicu picky eater, antara lain:

  • Terlalu sering memberikan camilan sebelum waktu makan. 
  • Membiarkan anak makan sambil menonton televisi atau bermain gawai. 
  • Memberikan minuman manis berlebihan. 
  • Membolehkan anak memilih menu setiap kali makan. 

Akibatnya, anak menjadi cepat kenyang atau hanya menginginkan makanan favoritnya saja.

Faktor lingkungan

Lingkungan keluarga memiliki pengaruh besar terhadap pola makan anak.

Jika anggota keluarga juga jarang makan sayur atau buah, anak cenderung meniru kebiasaan tersebut. Begitu pula jika suasana makan di rumah sering diwarnai pertengkaran atau tekanan, anak bisa kehilangan minat makan.

Dampak Picky Eater terhadap Gizi Anak

Picky Eater
Sumber : Envato

Beberapa dampak yang bisa terjadi saat anak picky eater dalam waktu yang lama adalah sebagai berikut.

Risiko kekurangan zat gizi

Anak yang hanya mau makan jenis makanan tertentu berisiko mengalami kekurangan berbagai zat gizi penting, seperti protein, zat besi, kalsium, vitamin D, vitamin A, vitamin C, dan serat.

 

Kekurangan zat gizi dalam jangka panjang dapat menyebabkan tubuh lebih mudah sakit dan menghambat proses tumbuh kembang.

Pengaruh terhadap tumbuh kembang

Asupan nutrisi yang tidak seimbang dapat memengaruhi:

  • Pertambahan berat dan tinggi badan. 
  • Perkembangan otak. 
  • Kemampuan belajar. 
  • Konsentrasi. 
  • Sistem kekebalan tubuh. 
  • Energi untuk bermain dan beraktivitas. 

Karena itu, orang tua sebaiknya memantau berat badan dan tinggi badan anak secara berkala agar masalah dapat dikenali sejak dini.

Baca Juga: Jangan Cuma Asal Kenyang, Gizi Anak Ternyata Penting untuk Pencegahan Stunting

Cara Mengatasi Anak Picky Eater 

Mengatasi anak yang susah makan membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Hindari memaksa anak karena justru dapat memperburuk kondisi. Pendekatan berikut bisa diterapkan.

Sajikan makanan secara bertahap

Jika anak menolak makanan baru, jangan langsung menyerah.

Perkenalkan satu jenis makanan baru dalam porsi kecil dan sajikan bersama makanan yang sudah disukai anak.

Kadang anak membutuhkan berkali-kali dikenalkan sebelum akhirnya bersedia mencicipi makanan baru.

Buat waktu makan menjadi menyenangkan

Ruang makan seharusnya menjadi tempat santai penuh cinta bagi anggota keluarga. Sebab itu, hindari memarahi, mengancam, atau memaksa anak menghabiskan makanan.

 

BACA JUGA ARTIKEL  Tak Perlu Cemas karena Setiap Anak itu Unik, Berhentilah Terobsesi pada Milestones Anak

Sebaliknya, berikan pujian ketika anak mau mencoba makanan baru, meskipun hanya sedikit. Suasana makan yang positif membantu anak membangun hubungan yang sehat dengan makanan.

Variasikan menu dan penyajian

Tampilan makanan sangat berpengaruh pada minat dan suasana hati anak saat makan. Makanan yang disajikan dengan bentuk, warna, dan tampilan yang menarik biasanya lebih mudah mengundang rasa penasaran anak untuk mencicipinya. 

 

Beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Membuat bentuk nasi atau sayuran menjadi karakter lucu. 
  • Mengombinasikan berbagai warna buah dan sayur. 
  • Mengolah bahan makanan dengan cara berbeda, misalnya dikukus, dipanggang, atau dijadikan sup. 

Variasi menu juga membantu memenuhi kebutuhan gizi anak dari berbagai sumber makanan.

Terapkan jadwal makan yang konsisten

Biasakan anak makan pada jam yang sama setiap hari. Umumnya jadwal makan terdiri dari sarapan, camilan pagi, makan siang, camilan sore, dan makan malam. 

Batasi camilan dan minuman manis menjelang waktu makan agar anak merasa lapar saat waktunya makan utama.

 

Jadilah contoh yang baik

Anak belajar melalui pengamatan. Jika orang tua rutin mengonsumsi sayur, buah, dan makanan bergizi lainnya, anak lebih mungkin meniru kebiasaan tersebut.

Sebaliknya, akan sulit mengajak anak makan sehat apabila anggota keluarga juga sering memilih makanan cepat saji atau tidak makan sayur.

Kapan Orang Tua Perlu Membawa Anak ke Dokter?

Sebagian besar kasus picky eater dapat membaik seiring bertambahnya usia. Namun, konsultasikan dengan dokter anak apabila:

  • Berat badan tidak naik atau justru turun. 
  • Pertumbuhan tinggi badan terhambat. 
  • Anak hanya mau makan beberapa jenis makanan dalam waktu lama. 
  • Anak sering muntah atau tersedak saat makan. 
  • Menolak hampir semua makanan. 
  • Tampak lemas atau mudah sakit. 
  • Muncul tanda kekurangan gizi, seperti pucat, rambut mudah rontok, atau kulit kering. 

Dokter akan melakukan evaluasi untuk mengetahui apakah terdapat masalah medis, gangguan makan, alergi, atau kondisi lain yang memengaruhi nafsu makan anak.

Tips Menjaga Gizi Anak Meski sedang Picky Eater

Walaupun anak sedang berada di fase sulit makan, kebutuhan gizinya tetap harus diupayakan terpenuhi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua, antara lain:

  • Sajikan makanan dengan gizi seimbang yang mengandung karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. 
  • Prioritaskan sumber protein seperti telur, ikan, ayam, tahu, tempe, atau daging sesuai preferensi anak. 
  • Tambahkan buah dan sayuran secara bertahap ke dalam menu favorit anak, misalnya dicampurkan ke dalam omelet, sup, atau smoothie. 
  • Hindari mengganti makanan utama dengan camilan tinggi gula atau makanan cepat saji. 
  • Pastikan anak cukup minum air putih. 
  • Pantau pertumbuhan anak secara rutin melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan. 

Apabila dokter menilai asupan nutrisi anak belum mencukupi, pemberian suplemen atau produk nutrisi tambahan dapat dipertimbangkan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

 

Kesimpulan

Meski terlihat normal, kondisi picky eater perlu diperhatikan agar asupan gizi anak terpenuhi. Dengan pendekatan yang sabar, konsisten, serta suasana makan positif, sebagian besar anak dapat belajar menerima variasi makanan secara bertahap.

Jangan ragu berkonsultasi dengan dokter anak apabila kebiasaan anak susah makan berlangsung lama Tentunya, memenuhi kebutuhan gizi anak, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, hingga berkonsultasi dengan tenaga medis memerlukan perencanaan keuangan yang baik. 

Dengan kondisi finansial yang lebih siap, orang tua dapat lebih fokus memberikan asupan nutrisi terbaik dan mengambil keputusan yang tepat demi mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Untuk mendapatkan tips dan informasi seputar perencanaan keuangan keluarga, kunjungi laman Siap Nikah.

Baca Juga: Nikah Bukan Sekedar Cinta, tapi Juga Siap Finansial!

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Scroll to Top