Speech Delay pada Anak, Kapan Harus ke Dokter?

Speech Delay

Table of Contents

Perkembangan anak tidak bisa disamakan, masing-masing melalui tahapan dengan kecepatan tumbuh kembang yang unik, termasuk dalam kemampuan berbicara. 

Ada anak yang sudah lancar mengucapkan banyak kata sebelum usia dua tahun, tetapi ada pula yang baru mulai berbicara. Kondisi ini sering membuat orang tua bertanya-tanya, apakah keterlambatan tersebut masih normal atau justru merupakan tanda speech delay.

Lanjutkan membaca artikel ini untuk informasi lengkap mengenai speech delay atau keterlambatan bicara pada anak.

Apa Itu Speech Delay?

Speech delay adalah ketika kemampuan berbicara anak berkembang tidak sesuai dengan usianya. Anak mungkin mengalami beberapa kondisi berikut:

  1. terlambat mengucapkan kata pertama
  2. memiliki kosakata yang sedikit
  3. mengalami kesulitan menyusun kalimat sederhana.

Keterbatasan ini menyebabkan anak kesulitan dalam menyampaikan ide dan pikirannya ke orang-orang sekitar. Bila tidak dievaluasi dan ditangani, kondisi ini tentu bisa menghambat perkembangan anak secara menyeluruh.

Tahapan Perkembangan Bicara Anak sesuai Usia

Speech Delay
Sumber : Envato

Meski perkembangan tiap individu berbeda, pakar kesehatan sudah menetapkan developmental milestones yang dapat menjadi acuan bagi orang tua.

Usia 0-12 bulan

Satu tahun pertama, bayi mulai belajar berkomunikasi melalui suara dan ekspresi. Beberapa kemampuan yang umumnya muncul antara lain:

  • Menangis dengan berbagai intonasi.
  • Mengoceh (babbling) seperti “ba-ba”, “ma-ma”, atau “da-da”.
  • Menoleh saat dipanggil.
  • Merespons suara orang tua.
  • Mengucapkan satu atau dua kata sederhana menjelang usia satu tahun.

Orang tua wajib memperhatikan anak di tahap ini karena ocehan yang dikeluarkan merupakan dasar perkembangan kemampuan berbicara berikutnya.

Usia 12-24 bulan

Pada usia ini perkembangan bahasa biasanya berlangsung sangat pesat. Anak umumnya mulai:

  • Menggunakan beberapa kata yang memiliki makna.
  • Menyebut nama benda atau orang.
  • Memahami instruksi sederhana.
  • Menambah kosakata secara bertahap.
  • Menggabungkan dua kata sederhana menjelang usia dua tahun, misalnya “mau susu” atau “bola jatuh”.

Orang tua perlu mulai mengevaluasi, berapa banyak kosakata yang dilontarkan anak saat usia perkembangan ini. 

Usia 2-3 tahun

Makin bertambahnya umur anak, makin meningkat pula kemampuan bahasa yang dimiliki. Di tahapan usia ini, anak umumnya sudah mampu: 

  • Menggunakan kalimat pendek.
  • Menjawab pertanyaan sederhana.
  • Mengikuti instruksi yang terdiri dari dua langkah.
  • Melakukan komunikasi verbal dengan anggota keluarga meskipun pengucapannya belum sempurna.

Pada akhir rentang usia ini, sebagian anak bahkan sudah dapat diajak mengobrol singkat mengenai aktivitas sehari-hari atau hal-hal yang mereka sukai.

Usia 3-5 tahun

Menjelang usia sekolah, kemampuan bahasa anak makin matang. Pada rentang usia ini anak biasanya mampu:

  • Berbicara menggunakan kalimat lengkap.
  • Menceritakan pengalaman sederhana.
  • Mengajukan banyak pertanyaan.
  • Mengikuti percakapan dengan orang lain.
  • Sebagian besar ucapannya dapat dipahami oleh orang di luar keluarga.

Bila anak jauh tertinggal dari tahapan-tahapan tersebut, orang tua sebaiknya sudah harus mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga kesehatan. 

Apa Penyebab Speech Delay?

Speech Delay
Sumber : Envato

Speech delay atau anak belum bisa bicara tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Banyak hal yang bisa memicu gejala keterlambatan bicara pada anak.

Gangguan pendengaran

Gangguan pendengaran merupakan salah satu penyebab yang paling sering ditemukan. Anak yang tidak mendengar suara dengan jelas akan mengalami kesulitan meniru bunyi dan mempelajari kata-kata.

Karena itu, pemeriksaan pendengaran menjadi bagian penting ketika dokter mengevaluasi anak dengan keterlambatan bicara.

Kurangnya stimulasi bahasa

Anak belajar berbicara melalui interaksi sehari-hari. Jika lingkungan jarang mengajak anak bicara, atau anak lebih banyak menggunakan gawai tanpa komunikasi dua arah, ini bisa jadi penyebab terlambatnya perkembangan bicara. 

Gangguan oral-motor

Kasus ini terjadi pada sebagian anak yang mengalami kesulitan mengoordinasikan otot bibir, lidah, rahang, atau mulut yang digunakan untuk berbicara.

Akibatnya, anak memahami apa yang ingin diucapkan tetapi kesulitan menghasilkan bunyi yang jelas.

Faktor genetik

Riwayat keluarga juga dapat berperan. Anak yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat keterlambatan bicara atau gangguan bahasa memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.

Namun, faktor genetik bukan berarti perkembangan anak tidak dapat ditingkatkan melalui intervensi dini.

Kondisi medis tertentu

Speech delay juga dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu, misalnya:

  • Gangguan spektrum autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD).
  • Cerebral palsy.
  • Disabilitas intelektual.
  • Kelainan neurologis tertentu.

Dengan banyaknya faktor, orang tua tidak bisa memprediksi sendiri, diagnosis harus berdasarkan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan. 

Tanda-Tanda Speech Delay yang Perlu Diwaspadai

Berbagai sumber online menyatakan ada beberapa tanda speech delay yang wajib diwaspadai oleh orang tua. 

  • Tidak mengoceh pada usia sekitar 9 bulan.
  • Belum mengucapkan kata bermakna pada usia sekitar 12–15 bulan.
  • Tidak mencoba menggabungkan dua kata sederhana menjelang usia dua tahun.
  • Sulit memahami instruksi sederhana.
  • Jarang melakukan kontak mata atau komunikasi dua arah.
  • Lebih sering menggunakan isyarat dibandingkan berbicara.
  • Ucapan sulit dipahami meskipun usia sudah lebih dari tiga tahun.
  • Kehilangan kemampuan bicara yang sebelumnya sudah dimiliki.

Bila anak menunjukkan salah satu tanda, orang tua sebaiknya mengevaluasi anak secara mandiri dan menyeluruh sebagai dasar pertimbangan tindakan lanjutan. 

Kapan Anak Harus Dibawa ke Dokter?

Orang tua tidak perlu menunggu hingga anak berusia sekolah untuk memeriksakan keterlambatan bicara. Segera konsultasikan ke dokter anak apabila:

  • Anak tidak merespons saat namanya dipanggil.
  • Belum mengucapkan kata bermakna pada usia sekitar satu tahun.
  • Belum mampu menggabungkan dua kata pada usia sekitar dua tahun.
  • Ucapan sangat sulit dipahami setelah usia tiga tahun.
  • Anak kehilangan kemampuan berbicara yang sebelumnya sudah dimiliki.

Umumnya, dokter akan melakukan wawancara, pemeriksaan fisik, evaluasi tumbuh kembang, dan pemeriksaan pendengaran bila diperlukan. Lalu, dokter akan menentukan apakah anak memerlukan terapi wicara atau pemeriksaan lanjutan.

Intervensi dini terbukti memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan menunggu hingga anak bertambah besar.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua di Rumah?

Selain mengikuti anjuran dokter atau terapis, orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam mendukung perkembangan bahasa anak.

Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

  • Sering mengajak anak berbicara sejak bayi.
  • Membacakan buku cerita setiap hari.
  • Menyanyikan lagu anak dan mengajak anak menirukan bunyi.
  • Memberikan waktu bermain tanpa gangguan televisi atau gawai.
  • Memberikan kesempatan anak menjawab pertanyaan, meskipun masih sederhana.
  • Mengulang kata dengan pengucapan yang benar tanpa memarahi anak.
  • Memberikan pujian setiap kali anak mencoba berbicara.
  • Membatasi screen time sesuai rekomendasi tenaga kesehatan dan menggantinya dengan interaksi langsung.

Baca Juga: Anak Susah Lepas dari Gawai? Ini Cara Mengatur Screen Time Anak Tanpa Drama

Dari semua itu, yang terpenting adalah hindari membandingkan perkembangan anak dengan saudara atau teman sebaya. Fokuslah pada perkembangan individu anak dan konsultasikan bila terdapat kekhawatiran.

Kesimpulan

Speech delay dapat ditangani dengan baik apabila dikenali sejak dini dan mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyebabnya. Penanganan dapat berupa terapi wicara, stimulasi di rumah, hingga pengobatan apabila ditemukan kondisi medis yang mendasarinya. 

Selama prosesnya, dukungan orang tua sangat berperan, baik dalam memberikan stimulasi secara konsisten maupun mempersiapkan biaya pemeriksaan dan terapi jika diperlukan.

Oleh karena itu, calon orang tua juga perlu mempersiapkan diri sebelum menikah, tidak hanya dari sisi emosional, tetapi juga kesiapan finansial. Untuk informasi lebih lanjut, ada banyak tips pintar pengelolaan keuangan keluarga di laman Siap Nikah. 

Baca Juga: Nikah Bukan Sekedar Cinta, tapi Juga Siap Finansial!

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
BACA JUGA ARTIKEL  Pentingnya Mengonsumsi Asam Folat sebelum Menikah dan Hamil
Scroll to Top