Keuangan Keluarga (Foto: Pixabay)

Memutuskan menikah artinya juga berkomunikasi dan beradaptasi mengenai gaya mengelola keuangan antar-pasangan. Seringkali soal keuangan menjadi potensi masalah dalam rumah tangga sehingga perlu pengelolaan yang tepat. Setidaknya ada lima tipe pengelolaan keuangan suami istri. Kira-kira kamu masuk tipe yang mana?

Perencanaan keuangan Prita Ghozie mengingatkan agar suami istri mulai membicarakan keuangan keluarga. “Perlu dipahami ngobrol bukan berarti pengaturan keuangan jadi digabung 100 persen” tulis Prita di laman Instagramnya.

Menurutnya ada lima tipe pengelolaan keuangan suami istri yakni:

1. Tim suami istri = 100% untuk keluarga

Pasangan yang memilih hubungan ini akan menggabungkan semua penghasilan suami dan istri, lalu digunakan untuk keperluan keluarga. Plusnya sumber daya keluarga kuat sekali, banyak tujuan keuangan bisa tercapai. Namun minusnya dalam alokasi belanja pribadi dan kadang-kadang timbul rasa ketidakadilan.

2. Tim suami = 100% untuk keluarga, istri = 100% untuk sendiri.

Jika memilih ini maka penghasilan suami sepenuhnya milik keluarga, sedangkan penghasilan istri milik sendiri. Jumlah penghasilan suami seutuhnya diketahui oleh istri. “Tips saya, alokasikan kembali budget shopping untuk suami agar ia memiliki kebebasan belanja kebutuhan pribadinya,” kata Prita.

Plus dari tipe ini, suami makin disayang istri terlebih jika istri tidak berpenghasilan. Negatifnya jika tidak pandai mengelola keuangan, maka kesehatan keuangan bisa terancam.

3. Tim suami = 50-80% untuk keluarga, sisanya disimpan sendiri, istri = 100% untuk istri.

Suami memberikan uang bulanan kepada istri, lalu digunakan untuk pengeluaran keluarga. Namun, pasangan menyimpan sendiri sisa penghasilannya. Banyak alasan kenapa suami mengadopsi metode ini, salah satunya ialah black box keuangan dari kehidupan masa lalu.

“Plusnya suami merasa masih punya kendali untuk kebutuhannya, jika suami berinvestasi, maka aset keluarga dapat bertumbuh. Sementara negatifnya jika komunikasi tidak berjalan baik, maka potensi saling curiga. Selain itu jika alokasi penghasilan yang diberikan tidak sesuai dengan budget, maka istri potensi berutang,” kata dia.

4. Tim suami 50% untuk ABC, istri 50% untuk DEF.

Suami istri melakukan pembagian tugas dalam menyelesaikan kebutuhan. Bahkan, penghasilan masing-masing tidak saling diketahui. Misal gaji suami digunakan untuk bayar cicilan rumah, bayar uang sekolah, dan bayar belanja bulanan. Sedangkan gaji istri digunakan untuk bayar tagihan listrik, telepon, dan urusan liburan.

“Plusnya suami dan istri merasa adil dalam alokasi keuangan termasuk untuk keluarga besar. Lalu minusnya jika satu mengalami penurunan penghasilan maka keuangan keluarga bisa berantakan,” kata dia.

5. Tim istri tahu beres.

Tipe ini umum diadopsi salah satu pasangan yang tidak bekerja. Tapi, metode seperti ini biasanya istri selalu minta uang ke suami jika ada pengeluaran di pos utama. Terkadang istri hanya dibekali kartu debet atau kartu kredit untuk belanja, tapi urusan bayarnya tidak tahu apa-apa.

“Sejujurnya sih ini bahaya sekali jika ada risiko di kemudian hari. Tapi kembali lagi, saya tidak mau judging karena tiap rumah tangga adalah milik masing-masing,” ucap dia.

Plusnya, menurut Prita suami merasa nyaman dan istri tidak banyak pikiran. Minusnya, jika ada risiko keuangan, maka keluarga berpotensi kacau. “Tidak banyak yang memahami bahwa uang merupakan salah satu sumber konflik dalam pernikahan. Pilihan hubungan keuangan antar pasangan adalah tanggung jawab masing-masing. Namun yakini, sudahkah pasangan suami dan istri saling memahami konsekuensi dari opsi yang diadopsi,” kata dia.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
2
+1
5
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar