Ilustrasi Remaja (Foto: Pexels)

Generasi muda seperti remaja memiliki peran yang besar untuk mencegah stunting. Mengingat mereka adalah calon-calon orang tua di masa depan. Caranya yakni dengan hidup sehat.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menggantungkan harapan pada generasi muda untuk berkontribusi dalam upaya penurunan stunting dan penurunan kematian ibu dan bayi. Menurutnya, generasi muda haruslah menyiapkan dirinya untuk bisa sehat sebelum menikah. Hal itu sudah merupakan kontribusi luar biasa karena mereka juga menjadi bagian dari pelaku.

“Selain bergerak mempengaruhi orang lain dia sendiri adalah penentu ukuran-ukuran parameter kesehatan dan dia juga sebagai pelaku yang akan diukur sukses tidaknya program penurunan stunting serta, penurunan kematian Ibu dan bayi,” ungkap dia.

Hasto mengatakan idealnya setiap calon pengantin, tiga bulan sebelum menikah wajib memeriksakan kesehatannya seperti tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas dan kadar hemoglobin dalam darah (Hb). Pemeriksaan kesehatan ini bisa dilakukan di mana saja.

“Harapannya, faktor risiko yang dapat melahirkan bayi stunting pada calon pengantin bisa teridentifikasi lebih dini dan dihilangkan sebelum menikah dan hamil,” ungkap dia.

Hasil pemeriksaan kemudian diinput melalui aplikasi ELSIMIL (Elektronik Siap Nikah dan Hamil). Aplikasi ini dirancang khususnya menyasar calon pengantin, ibu hamil, dan pasca melahirkan sebagai alat pemantau kesehatan, yang juga memuat edukasi seputar kesiapan nikah dan hamil.

BACA JUGA: BKKBN Siap Gandeng Negara Lain untuk Atasi Stunting

Data menunjukan masih terdapat remaja putri usia 15-19 tahun dengan kondisi berisiko kurang energi kronik sebesar 36,3%, wanita usia subur 15-49 tahun dengan risiko kurang energi kronik masih 33,5% dan mengalami anemia sebesar 37,1%.

“Remaja putri yang terindikasi anemia memerlukan konsumsi tablet tambah darah selama 90 hari. Begitu juga apabila calon pengantin perempuan mengalami kondisi under-nutrition seperti kurang kalori protein atau kekurangan vitamin yang lain maka dibutuhkan waktu minimal tiga bulan untuk perbaikan keadaan tersebut,” kata dia.

Sementara, untuk calon pengantin laki-laki, pada masa sebelum menikah diharapkan untuk mengurangi konsumsi rokok dan hal yang mengganggu kesehatan. Hal ini karena produksi sperma untuk persiapan pembuahan dan menghasilkan keturunan yang sehat, membutuhkan pra kondisi dan kebugaran bagi laki-laki minimal 75 hari sebelumnya.

Menurut Hasto, hal ini terus digencarkan melalui program Generasi Berencana (GenRe) yang merupakan kepanjangan tangan BKKBN untuk bisa menjadi sahabat remaja dan keluarga. Karena remaja menjadi kunci, melalui merekalah informasi dan pesan BKKBN bisa disampaikan.

“Melalui teman sebaya informasi dan pesan akan lebih mudah dipercaya oleh remaja, apalagi kalau yang berbicara tidak hanya seorang remaja tapi juga sekaligus public figure,” ujarnya.

Dokter Nadhira Afifa seorang dokter sekaligus konsultan kesehatan publik dan founder Limitless Indonesia menyampaikan anemia terjadi ketika kebutuhan tubuh akan zat besi sedang tinggi seperti sedang hamil atau ada infeksi kronik bisa juga karena menstruasi sehingga mengeluarkan zat besi lebih banyak. “Kasus anemia banyak sekali saya temui selama praktik dokter, hal ini tidak ada kaitannya dengan status ekonomi namun lebih pada perlunya awareness khusus mengenai anemia.”

Menurutnya hal ini juga terjadi pada stunting, bahwa ini tidak hanya karena faktor status ekonomi saja. Kalau melihat statistiknya stunting 60% terjadi pada kalangan menengah ke bawah dan 40% di kalangan menengah keatas. “Jadi stunting sebenarnya bisa terjadi pada kalangan manapun kalau kita tidak mengetahui dan memahami apa stunting itu sendiri.”

Nadhira menambahkan pentingnya asupan nutrisi makan gizi seimbang, aktifitas fisik, cuci tangan dan memantau berat badan. “Makan yang mengandung zat besi tinggi seperti daging, unggas, ikan atau hewan laut. Penting juga makanan yang membantu penyerapan zat besi seperti jus jeruk, sayuran hijau dan tentunya minum tablet tambah darah satu kali seminggu. Namun saat makan tablet tambah darah jangan diiringi minum susu, teh atau kopi yang akan mengganggu penyerapan zat besinya,” kata dia.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
2
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar