Pasangan Pengantin Baru (Foto: Pixabay)

Budaya di Indonesia selalu disebutkan pernikahan bukan cuma dua insan manusia, tapi juga menyatukan keluarga. Dari awal rencana pernikahan, minta restu hingga ke resepsi pernikahan, keluarga selalu terlibat. Lantas bagaimana jika mertua selalu ikut campur?

Menurut Dewi Mahastuti, S.Psi., M.Si. – IPPI, Psikolog Keluarga yang merupakan salah satu tim ahli pengasuh ribrik Tanya Jawab siapnikah.org, keluarga yang ikut campur segala urusan kita mungkin sangat menyebalkan, membuat kita tidak nyaman, membuat kita marah, tidak senang karena banyaknya aturan yang diberikan kepada kita.

Aturan yang diberikan ini membuat ruang gerak kita sangat terbatas hal ini yang membuat kita jengkel, namun kita juga dapat melihat maksud dan tujuan keluarga terutama orangtua kita yaitu sebagai bentuk perhatian dan kasih sayangnya pada kita. Perbedaan sudut pandang antargenerasi ini memang banyak terjadi sehingga harus diselesaikan dengan kepala dingin dan komunikasi yang efektif.

BACA JUGA: Cara Jitu Agar Hubunganmu dengan Mertua Harmonis dan Bebas Drama

Ada empat cara untuk mengatasi mertua yang selalu ingin ikut campur. Kuncinya, komunikasi yang utama. Berikut penjelasannya.

Pertama, pahami terlebih dahulu maksud dan tujuan orangtua atau keluarga melakukan seperti itu, mungkin ada makna atau maksud yang baik dibalik prilakunya itu. Ketika solusi atau bentuk penyelesaian ataupun tujuan keluarga itu baik dan bisa kita terapkan untuk masalah kita maka bisa kita jadikan acuan. Namun jika tidak sesuai maka anda dapat mengkomunikasikan dengan baik ketidak cocokan anda dan bagaimana pandangan anda. Karena keputusan akhir pada anda.

Kedua, bangunlah komunikasi yang baik dengan orangtua ataupun keluarga lainnya dengan cara saling menghormati satu dengan lainnya, tidak emosi, dan berpikir dengan jernih. Semua pendapat pasti punya latarbelakang pemikiran sendiri-sendiri, pahamilah dan carilah solusi yang paling sedikit resiko untuk pemecahan masalah anda. Berpikir positif karena bukan berarti pendapat kita yang paling benar, dan bukan pula pendapat keluarga pasti tidak sesuai.

Ketiga, tegas dan konsisten ketika mengambil keputusan. Setelah kita mendengarkan dan kita memaparkan pandangan kita maka hal selanjutnya adalah mengambil keputusan yang tepat untuk pemecahan masalah tersebut,dengan tegas dan berani mengambil serta menanggung resiko dari keputusan itu. Konsisten dengan apa yang kita sudah putuskan, janganlah cepet berubah ketika ditengahjalan ada hambatan yang merintangi. Ketika kita tegas dan konsisten maka orang lain akan melihat dan berpikir ulang untuk ikut campur dalam masalah kita karena kita punya prinsip.

Keempat, ketika orangtua ataupun keluarga yang lebih tua yang memberikan masukan, namun haltersebut tidak sesuai dengan kita maka jangan langsung frontal dalam menolaknya. Mintalah bantuan oranglain yang dapat memberikan masukan padanya biasanya orang yang dihormati atau disegani oleh orangtua kita, atau dengan memberikan psikoedukasi lewat media elektronik atau cetak ataupun lainnya dengan cara halus dan tidak membuat mereka tersinggung. Seperti mengajak dengan halus mendengarkan tausiah bersama di TV ketika pagi hari, dengan catatan anda tidak perlu membuka pembicaraan atau mengulas tentang masalah tersebut.

Leave a comment