Pengantin Palembang (Foto: Ig @vinara_wedding_gallery)

Karena sentuhan adatnya yang unik dan menyimpan filosofi sendiri, pernikahan tradisional memang selalu mampu menarik perhatian. Salah satunya pernikahan adat Palembang. Setiap rangkaian acara pernikahan suku Palembang memang begitu kental dengan simbol religi, begitu pula dengan busana adatnya yang menjadi lambang kebesaran dan falsafah hidup.

Pada upacara adat pernikahan Palembang, terdapat dua jenis pakaian adat tradisional Palembang yang kerap ditemukan. Jenis pakaian itu yaitu aesan gede dan pak sangkong.

Kedua busana ini umumnya dipakai pada upacara munggah yang merupakan acara puncak dari serangkaian prosesi pernikahan adat Palembang. Dipenuhi dengan ragam aksesori pelengkap berwarna kuning keemasan, seluruh aksesori yang menjadi bagian dari pakaian adat Palembang ini memiliki makna tersendiri.

1. Kesuhun atau mahkota
Mempelai pria dan wanita wajib mengenakan kesuhun atau mahkota khas adat Palembang. Kesuhun yang dikenakan pengantin laki-laki terdiri dari dua buah motif hias, yaitu cemen dan bunga mawar. Cemen (kelamin pria) melambangkan bahwa seorang laki-laki harus mempunyai sifat yang berani, sementara bunga mawar menyimbolkan kesucian dan keagungan.

Lain halnya dengan motif hias kesuhun pengantin wanita yang memadukan motif cen dengan bunga mawar. Cen (kelamin wanita) dianggap sebagai penghormatan terhadap perempuan sebagai pusat kehidupan, lalu bunga mawar di dalamnya menjadi lambang matahari dan bulan.

2. Gelung malang
Gelung malang merupakan sebutan untuk sanggul adat atau rambut yang digelung rapi. Sanggul ini dibentuk layaknya garis horizontal yang melengkung. Makna yang terkandung di dalamnya adalah pengharapan agar mempelai wanita mampu menjadi sosok yang anggun dan mengutamakan kerapian.

3. Cempako
Cempako atau bunga cempaka merupakan motif hias bunga yang memberi makna keanggunan dan keindahan. Ini adalah aksesori yang umumnya disematkan pada area gelung malang dan memiliki arti pengantin perlu senantiasa menjaga keindahan perilakunya.

4. Tebeng malu
Tebeng malu merupakan penutup kepala bagian samping yang bentuknya serupa dengan sabuk. Pemasangan tebeng malu memberi makna agar pengantin tidak saling lirik dan dapat menjaga pandangannya.

BACA JUGA: Menelisik Pernikahan Adat Suku Melayu yang Sarat Makna

5. Sumping
Untaian panjang berbentuk kreasi bunga melati yang disematkan pada kedua sisi telinga disebut dengan sumping. Aksesori ini menggambarkan sebuah kehidupan yang harus selalu mendengarkan segala hal-hal baik.

6. Busana dodot
Dodot merupakan bagian atas dari busana adat Palembang yang membentuk motif tumpal dengan garis zigzag. Pola tumpal pada baju dodot terdapat di area kanan dan kiri, yang kemudian ditutup menggunakan terate di bagian bahu.

Songket berwarna senada akan diaplikasikan demi keselarasan busana. Dodot menyimbolkan pengantin Palembang yang berbudi luhur, ramah, dan saling menghormati satu sama lain.

7. Terate
Aksesori penutup dada dan pundak yang dikenakan pengantin Palembang dinamakan sebagai terate. Bentuk terate menyerupai segi lima dan terdapat motif hias bunga teratai yang disepuh emas. Teratai menjadi simbol kesucian dan keagungan. Pasangan pengantin perlu menjunjung tinggi ketabahan dalam setiap tindak tanduknya.

8. Selendang sawit
Selendang sawit menjadi aksesori pengantin adat Palembang yang terbuat dari emas 22 karat dan diberi aksen intan pada bagian tengah. Dua buah selendang sawit nantinya akan disematkan secara menyilang dari bahu bagian kanan ke pinggang sebelah kiri dan sebaliknya. Selendang ini bermakna kedudukan mempelai laki-laki dan perempuan yang harus sejajar.

9. Kebo munggah atau tapak tajo
Kebo munggah atau tapak tajo merupakan aksesori berupa kalung yang membentuk lempengan 3 susun dan terbuat dari emas asli 24 karat. Aksesori ini sama-sama akan dikenakan pada kedua mempelai.

10. Pending
Terbuat dari lempengan emas 20 karat, pending adalah ikat pinggang yang berfungsi untuk mengencangkan seluruh komponen busana yang dikenakan. Ikat pinggang ini juga memiliki ukiran tumbuhan yang menjalar di setiap sudutnya. Pending mempunyai arti perempuan dan laki-laki siap untuk menjalani kehidupan baru.

11. Kain songket lepus
Kain songket dalam baju pengantin adat Palembang memiliki pola geometris abstrak murni berupa zigzag yang berdampingan dengan garis lurus. Ini adalah motif tertua yang telah dikenal sejak zaman prasejarah. Kain songket Palembang memberi makna ketertiban, keramahan, dan saling menghormati terhadap seluruh lapisan masyarakat.

12. Celano sutra
Celano sutra merupakan celana panjang yang dibuat dari material sutra. Terdapat bordiran berbentuk bunga dengan tangkai yang menjalar pada bagian bawah celana. Dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam Seni Rupa dan Desain, pola bordiran ini disebut dengan motif hias aka bapilin yang dibuat lebih abstrak mengikuti tradisi Islam. Aka bapilin dalam celano sutra menyimbolkan mentalitas masyarakat Minang yang gigih.

13. Saputangan segitigo
Saputangan segitigo terbuat dari bahan beludru berwarna merah yang dibubuhi taburan kelopak bunga melati dari emas. Mempelai wanita akan mengenakan saputangan segitigo di bagian kelingking kanan, sementara mempelai pria di telunjuk kanan. Aksesori ini mengartikan ketegaran dan ketenangan hidup.

14. Keris
Keris menjadi benda pusaka sebagai simbol penghormatan yang wajib dikenakan oleh mempelai pria pada busana pengantinnya. Meski demikian, letak pemakaian keris tersebut bisa berbeda-beda, tergantung dari bagaimana latar belakang keluarga sang mempelai pria. Bila ia datang dari kalangan bangsawan atau keturunan raja, maka keris itu harus diselipkan di area depan pinggang. Lain halnya dengan rakyat biasa yang harus disematkan di bagian belakang.

15. Cenela
Cenela adalah sandal yang dikenakan kedua mempelai di hari pernikahannya. Sandal ini mengartikan dalam mengarungi kehidupan, seseorang harus selalu berpegang teguh pada agama sebagai bentuk perlindungan diri.

Itulah beraneka macam aksesori pengantin adat Palembang beserta maknanya. Sebagian besar pasangan pengantin berdarah Palembang pun masih berusaha untuk melestarikan budayanya dengan mengenakan aksesori busana yang sesuai dengan pakem.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar