Cincin Kawin (Foto: Pexels)

Pernikahan menjadi salah satu momen yang membahagiakan, momen yang ditunggu-tunggu pasangan pengantin. Pada momen sakral ini, cincin sering sekali digunakan sebagai simbol suci untuk menyatukan ikatan sah pernikahan. Selain sebagai mahar atau syarat dalam pernikahan, cincin kawin juga berfungsi sebagai simbol status seseorang telah memiliki pasangan.

Cincin kawin memiliki sejarah dan filosofinya sendiri. Sejarah cincin kawin sebenarnya telah ada sejak zaman Romawi. Namun, ada juga yang mengatakan cincin kawin menjadi simbol keabadian dalam pernikahan di era Mesir Kuno.

1. Cincin sebagai simbol kepemilikan
Banyak yang meyakini cincin kawin awal mulanya berasal dari kebiasan para orang Yunani dan Romawi. Mereka percaya jari manis berisi urat nadi khusus yang mengalir langsung ke jantung. Tak heran jika saat ini cincin kawin sering sekali disematkan di jari manis.

Sebelum mengenal emas, bangsa Romawi dulunya mulai menggunakan besi untuk menggunakan cincin yang diberi nama ‘Anulus Pronubus’, yang artinya ‘Cincin Pengantin’. Dahulu para pria Romawi memberikan cincin bukan sebagai simbol cinta, melainkan simbol kepemilikan. Saat seorang wanita mendapatkan cincin, pria Romawi akan mengklaim wanita tersebut menjadi miliknya.

Tak hanya itu, orang Romawi juga menjadi yang pertama membuat ukiran pada cincin. Fede rings, yang menampilkan ukiran dua tangan saling menggenggam, menjadi ukiran yang paling populer pada saat itu.

Tradisi kekaisaran Romawi yang masih sangat kental juga membuat cincin kawin digunakan dalam ritual perkawinan agama Kristen. Bahkan, para gereja juga mulai memasukkan tradisi penyematan cincin kawin dalam tata pernikahan.

BACA JUGA: Jadi Ciri Khas Pernikahan, Ini Sejarah Buket Bunga yang Dibawa Pengantin Wanita 

2. Cincin sebagai simbol pernikahan abadi
Berbicara soal cincin kawin, beberapa orang percaya bahwa pertukaran cincin dalam momen pernikahan berasal dari Mesir Kuno. Sejak tahun 4.000 SM, bangsa Mesir Kuno telah bertukar cincin yang terbuat dari alang-alang atau semak. Bahan-bahan tersebut dibuat dengan bentuk lingkaran dan disematkan menjadi cincin oleh para wanita Mesir Kuno.

Adapun bentuk lingkaran pada cincin juga memiliki filosofi yang mendalam. Bangsa Mesir Kuno menganggap lingkaran sebagai simbol tanpa awal atau akhir, mewakili persatuan pernikahan yang tak pernah berakhir.

Selain itu, lubang di tengah cincin juga memiliki arti penting sebagai gerbang atau pintu terhadap suatu peristiwa. Oleh karena itu, memberi seorang wanita cincin merupakan simbol cinta yang tak kenal akhir dan abadi.

Seiring berjalannya waktu, bahan pembuatan cincin berganti menjadi kulit, tulang atau gading. Semakin mahal bahan utama cincin maka semakin banyak cinta yang ditunjukkan, bahkan nilai cincin juga menunjukkan kekayaan si pemberi cincin.

Cincin kawin pun terus berkembang. Sekarang emas sering sekali menjadi bahan dasar cincin kawin. Banyak orang yang juga mulai memadukan cincin kawin dengan berlian, permata, atau ruby. Hal ini dilakukan untuk memperindah cincin.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar