Mahasiswa (Foto: Pexels)

Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) 2019, prevalensi stunting saat ini masih berada pada angka 27,67%. Melihat keadaan ini, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pun makin getol untuk menuntaskan persoalan stunting ini.

Salah satu upayanya yakni dengan memberikan edukasi kepada mahasiswa yang merupakan calon pengantin masa depan. Hal itu diwujudkan melalui kolaborasi dengan Forum Rektor Indonesia dan Tanoto Foundation dan bersama-sama menggelar Simposium Nasional 2021 “Praktik Baik Percepatan Penurunan Stunting Melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi”.

Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN, Prof. Rizal M. Damanik menyebutkan stunting adalah ancaman bagi sumber daya manusia di Indonesia. Upaya pemberantasan stunting ini diharapkan dapat merangkul kalangan muda seperti mahasiswa.

“Maka itu BKKBN menargetkan akan merangkul lebih dari 4.000 perguruan tinggi untuk turut serta menyosialisasikan pemberantasan stunting,” ujar dia.

Kepala BKKBN Dr (HC), dr, Hasto Wardoyo, Sp. OG (K) mengungkapkan program sosialisasi dan edukasi tersebut akan berisi program optimalisasi 1.000 hari pertama kehidupan anak, pendampingan pra nikah, edukasi mengenai sanitasi air bersih, dan pola konsumsi. “Salah satu bentuk kegiatannya adalah melalui program pengabdian masyarakat atau KKN Tematik, di mana para mahasiswa akan dilibatkan untuk melakukan pendampingan (coaching) pada masyarakat desa,” ujar dia.

Sementara, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan ada beberapa provinsi dengan tingkat stunting tertinggi di Indonesia di antaranya Aceh, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah & Sulawesi Tenggara.

“Pemberantasan stunting ini tidak hanya terletak pada pola konsumsi tetapi juga pembinaan keluarga mulai dari pembinaan pranikah kepada calon pasangan muda dan orang tua baru untuk membantu percepatan penurunan stunting harus semakin ditingkatkan,” ujar dia.

Dengan adanya landasan hukum Perpres No. 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, maka diperlukan langkah-langkah yang cepat dan efektif untuk memenuhi target Presiden untuk menurunkan angka stunting hingga 14% di tahun 2024.

CEO Global Tanoto Foundation J Satrijo Tanudjojo mengatakan stunting merupakan ancaman serius bagi Indonesia. Ia amat menyayangkan masyarakat, baik di daerah perkotaan, maupun daerah terpencil, tidak menyadari mereka atau anak-anak mereka mengalami stunting.

“Tri Dharma perguruan tinggi mengajak kita semua untuk terjun ke masyarakat, langsung dan tidak langsung, untuk kepentingan masyarakat agar mereka bebas stunting,” kata dia.

Persoalan stunting harus diberantas dengan melibatkan semua kalangan masyarakat demi terwujudnya angka penurunan yang signifikan.

Pada Simposium Nasional Stunting 2021 ini, BKKBN bersama Forum Rektor Indonesia dan Tanoto Foundation juga meluncurkan e-book yang berjudul Praktik Baik: Percepatan Penurunan Stunting Melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi. Buku ini berisikan berbagai model praktik baik yang sudah dikembangkan enam perguruan tinggi dalam upaya percepatan penurunan stunting.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
2
+1
1
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar