Perencaan Keuangan Keluaraga (Gambar oleh Pixabay.com)

Perbesar Dana Darurat dalam Pengelolaan Keuangan Keluarga di Masa Pandemi. Bagaimana Cara Hitungnya?

Fluktuasi kondisi ekonomi tak ada yang tahu. Siapa menyangka virus Corona bisa membuat ekonomi dunia lesu seperti saat ini. PHK terjadi di banyak usaha, yang lain mengalami pemotongan gaji, bahkan ada yang tidak digaji. Para wirausaha juga mengalami sepinya usaha dan banyak project yang ditunda.

Karena itulah, setiap orang, baik yang masih lajang atau sudah menikah, harus menyiapkan dana darurat. Ini adalah dana yang disiapkan khusus untuk bertahan di saat kondisi ekonomi sedang tidak menentu seperti saat ini.

Dana ini harus disimpan dalam bentuk instrumen yang aman atau rendah risiko dan mudah dicairkan sewaktu-waktu. Misalnya, tabungan atau deposito berjangka 3 bulanan yang sewaktu-waktu juga bisa diambil tanpa kena penalti. Beberapa bank memiliki produk seperti itu. Yang paling penting, dana ini jangan diutak-atik. Hanya boleh diambil dalam kondisi darurat.

Tapi, saat ekonomi terlanjur lesu seperti ini, saya belum menyiapkan dana darurat, apakah telat? Memang bisa dibilang telat. Tapi, tetap lebih baik jika mulai disiapkan segera.

Berapa Besar Dana Darurat?

Pada prinsipnya, makin besar dana darurat yang disiapkan akan makin baik. Besaran dana darurat dihitung berdasar kebutuhan bulanan. Misalnya, dalam satu bulan kebutuhanmu sebesar Rp 5 juta, maka jumlah minimal dana darurat adalah 6 x kebutuhan bulanan. Jadi, setidaknya kamu harus menyiapkan Rp 30 juta yang tidak boleh diutak-atik.

Saya masih lajang, apakah juga perlu menyiapkan dana darurat? Perlu. Untuk lajang, minimal siapkan dana darurat sebesar 4 x kebutuhan bulanan. Bagi yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, sebaiknya menyiapkan dana darurat lebih besar. Untuk keluarga dengan 1 anak, minimal 9 x kebutuhan bulanan. Jika memiliki 2 anak, minimal 12 x kebutuhan bulanan.

Harap diingat. Kebutuhan bulanan ini termasuk juga cicilan kredit seperti KPR atau kendaraan. Meskipun, dalam kondisi tertentu, kita bisa mengajukan restrukturisasi kredit ke bank, misalnya dengan memperkecil pembayaran cicilan atau meminta perpanjangan tenor/jangka waktu kredit.

Dana darurat ini sangat penting. Sebab, jika sampai kita di-PHK atau tidak ada lagi project yang jalan, maka setidaknya masih punya dana untuk mencukupi kebutuhan 6 – 12 bulan ke depan. Harapannya, di periode itu, kita bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain atau project sudah kembali jalan.

Bedakan Butuh, Ingin, dan Penting

Dalam kondisi saat ini, sebaiknya terapkan gaya hidup hemat secara disiplin. Misalnya, ketika ingin berbelanja, pastikan dulu, kita akan membeli produk yang memang dibutuhkan, atau sekadar karena ingin membeli saja.

Bedanya adalah, barang dibutuhkan karena memang kita perlukan untuk hidup. Misal, makan/minum, air, listrik, obat, biaya sekolah anak, pulsa/paket data (untuk urusan kerja) atau BBM/transportasi. Bagaimana dengan jajan, ngopi, baju, tas, sepatu, dan lain-lainnya? Itu masuk kategori keinginan. Sebab, bisa kita tunda dulu pembeliannya.

Adapun yang masuk kategori penting adalah produk yang keberadaannya bisa membuat hidup kita lebih baik. Misalnya, suplemen atau vitamin atau buah-buahan agar kita lebih fit dan tidak mudah sakit.

Karena itu, jika ingin berbelanja, maka urutan prioritasnya adalah Butuh, Penting, dan jika memang kondisi keuangan cukup longgar, bisa membeli produk kategori Ingin. Tapi, tetap usahakan untuk berhemat.

BACA JUGA:

Apakah Mungkin Menambah Penghasilan?

Di saat banyak usaha yang mengalami kesulitan, misalnya pusat perbelanjaan yang tutup atau acara-acara yang dibatalkan, tetap ada peluang untuk mencari penghasilan tambahan. Memang, kondisi sulit seringkali justru membuat orang lebih kreatif.

Lihat saja, sejak pandemi akibat covid-19 merebak mulai Maret lalu, bermunculan banyak sekali wirausahawan. Diantaranya bisa jadi kamu, keluargamu, dan teman-temanmu. Ada yang berjualan kurma online, masker/hand sanitizer online, jamu online, makanan online, jus buah online, atau jual kebutuhan sehari-hari di grup-grup WhatsApp. Omzetnya pun ada yang sampai belasan atau puluhan juta rupiah per bulan.

Bagaimana jika tidak punya modal? Jangan khawatir. Saat ini ada banyak sekali penjual yang mencari reseller untuk membantu jualan. Cari saja informasinya di Instagram atau Facebook. Jadi, jika kamu memiliki banyak relasi, atau teman di Facebook/Instagram, kamu bisa pelajari cara menjadi reseller dan memulainya.

Intinya, seperti dalam tulisan seri pertama kemarin, prinsip pengelolaan keuangan pribadi/keluarga adalah harus memiliki arus kas bersih yang positif atau surplus. Caranya hanya ada 2, tambah penghasilan dan hemat belanja.

Nah, sudah paham kan pentingnya pengelolaan keuangan keluarga dan bagaimana caranya. Yuk, share informasi ini ke pasangan, keluarga, dan teman-temanmu, agar makin banyak yang dapat ilmu. Follow juga akun Instagram @siapnikah_official dan Facebook fanspage @siapnikah.org biar kamu dapat update informasi bermanfaat dari www.siapnikah.org.

Leave a comment