Kepala BKKBN
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) menunjukkan keseriusannya dalam mewujudkan terciptanya generasi masa depan yang berkualitas bagi negara. Salah satu upaya yang dilakukan yakni mengejar capaian target ibu yang mengikuti program keluarga berencana (KB) pascapersalinan yakni sebanyak 70%.
Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) memaparkan ada 4,8 juta hingga 5 juta persalinan di Indonesia. Menurutnya, para ibu yang baru saja melahirkan, tidak akan berencana melahirkan lagi di tahun yang sama. Namun, kenyataannya banyak yang belum memakai kontrasepsi sehingga “kebobolan” atau terjadi kehamilan yang tidak direncanakan.
“Imbasnya banyak dan serius karena kehamilan di minggu pertama hingga minggu kedelapan itu proses pembentukan organ. Kalau enggak tahu lagi hami karena enggak KB, maka hal yang terjadi di peristiwa pembentukan organ, saya enggak tahu. Ada yang minum obat enggak jelas. Ada yang kekurangan asam folat karena enggak tahu kalau hamil sehingga ada kecacatan. Banyak hal yang disayangkan,” ujar dia.
Oleh karena itu, ujar Hasto, perlu digalakkan KB pascapersalinan. Mengatur jarak kehamilan menurutnya sangat menentukan kualitas bayi yang dilahirkan baik sekarang maupun yang akan datang.
Ia memaparkan ketika jarak kelahiran terlalu dekat, misalnya sebelum dua tahun bisa terjadi kecemburuan luar biasa dari si kakak dan akan stres. Sementara, saat ibu hamil akan banyak keluhan sehingga tidak bisa maksimal dalam merawat si kakak. Setelah adik lahir, si kakak juga bisa semakin cemburu dan stres.
Sedangkan, perkembangan anak di 1.000 hari kehidupan pertama adalah hal yang sangat penting. Hasto menyebutkan sifat dasar manusia diciptakan di 1.000 hari kehidupan pertama tersebut. Apabila kemampuan dasar ini gagal diciptakan, maka tahun-tahun berikutnya akan sangat terpengaruh.
“Dua tahun, ubun-ubun belum menutup. Begitu masuk ke-24 bulan, 96% ubun-ubun menutup. Artinya otak sudah tidak berkembang lagi. Kalaupun berkembang, sedikit. Intelektual si anak itu selesai. Jadi, kalau ibu dan bapak ingin beri nutrisi setelah itu agak berat karena volume otak sudah mendekati final. Maka, segala gangguan di kehidupan sebelum dua tahun sangat berpengaruh pada kualitas masa depan anak,” papar dia.
Selain intelektual, perkembangan fisik juga ditentukan di 1.000 hari pertama. Jika pada masa itu kondisi kesehatan, nutrisi, dan pengasuhan tidak optimal, bayi tumbuh tidak gembira, stres, bahkan bisa depresi. Tinggi badan pun bisa saja jadi tidak bisa maksimal. “Pentingnya 1.000 hari kehidupan pertama dan jarak kehamilan harus dijaga betul. Mari kita galakkan kontrasepsi dan persiapan sebelum hamil agar sehar dulu,” papar dia.
Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Eni Gustina mengatakan pihaknya tengah menargetkan 70% ibu hamil untuk mengikuti program KB pascapersalinan. Ia mengatakan program ini merupakan kunci yang harus dikejar.
“KB pascapersalinan adalah kunci untuk kita kejar. BKKBN menargetkan 70 persen KB pascapersalinan,” katanya dalam acara Ber-KB Secara Mudah dan Berkualitas Hanya dalam Satu Genggaman yang digelar secara daring di Youtube BKKBN Official.
Ia menjelaskan target itu ditetapkan untuk menciptakan generasi masa depan yang berkualitas bagi negara. Program ini juga untuk membantu menciptakan jarak kehamilan (birth to birth interval) dan sebagai salah satu upaya untuk melaksanakan percepatan penurunan stunting (anak lahir kerdil).
“Dimulai dengan melakukan pendampingan pada calon pengantin, ibu hamil hingga 1000 hari pertama kelahiran seorang bayi,” papar dia.
Ia mengatakan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia negara, diperlukan adanya upaya-upaya yang dapat mengubah pola pikir pasangan calon pengantin. Terutama calon pasangan yang masih beranggapan setelah melakukan pernikahan harus segera memiliki anak.
“Bukan berarti setiap pernikahan itu segera punya anak, tetapi kita lihat dulu apakah sudah layak untuk punya anak atau belum,” ujar dia.
Untuk dapat memastikan kelayakan tersebut, ia mengaku telah melakukan sejumlah upaya pendampingan yang dapat membantu calon pasangan pengantin mengetahui kondisi kesehatan calon ibu dan ibu hamil. Pendampingan itu akan dilakukan bersama para bidan, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan kader desa.
“Jadi di Indonesia, setiap tahun itu rata-rata ada 5 juta ibu hamil. Kita berencana menyiapkan 600.000 orang atau 200.000 tim yang akan mendampingi ibu hamil ini. Kita berharap semua ibu hamil yang memiliki risiko itu segera terdeteksi risikonya dan segera bisa teratasi. Tujuannya supaya lahir bayi-bayi yang betul-betul sehat,” jelas dia.
Eni menyatakan bagi ibu yang kondisinya masih belum memenuhi syarat kehamilan seperti memiliki penyakit anemia, maka setelah dilakukan pemeriksaan akan disarankan untuk menggunakan alat kontrasepsi terlebih dahulu. Oleh sebab itu, BKKBN sedang mengembangkan Gerakan Rumah Sakit Layanan Keluarga Berencana (Gema Kencana).
“Hal ini guna memberikan edukasi kepada masyarakat terkait dengan program Keluarga Berencana (KB) pascapersalinan, khususnya mengenai pemakaian alat kontrasepsi,” ujar dia.
Penyediaan alat kontrasepsi itu juga telah disiapkan secara lengkap dan berkualitas. Baik alat kontrasepsi yang dapat digunakan untuk jangka panjang, jangka pendek yang hormonal sampai dengan pil atau suntikan.
Ia menegaskan semua itu dilakukan untuk dapat mengawal ibu melahirkan bayi yang berkualitas sebagai penerus bangsa di masa depan. “Jadi pendampingan untuk mengawal semua kehamilan agar melahirkan bayi-bayi yang berkualitas,” papar dia.

Leave a comment