Calon Pengantin (Foto: Pixabay)

Pasangan calon pengantin (catin) haruslah memiliki kesehatan lahir dan batin yang baik. Oleh karena itu, menentukan kapan akan punya anak, jumlah anak dan jarak kelahirannya adalah hak dan tanggung jawab dari setiap catin. Selain itu, catin wajib memahami soal pola asuh yang tepat untuk mencegah lahirnya anak stunting.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr (HC), dr, Hasto Wardoyo, Sp. OG (K) mengatakan stunting bukanlah penyakit melainkan suatu kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kurang gizi terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 2 tahun. Oleh karena itu catin harus sehat lahir dan batin.

“Menentukan kapan punya anak, jumlah anak, dan jarak kelahirannya adalah hak dan tanggung jawab dari setiap catin. Selain itu, setiap catin juga berhak dapat informasi tentang pelayanan kesehatan, KB, dan pola asuh yang tepat. Hal ini untuk mencegah lahirnya anak stunting,” kata dia.

Ia mengungkapkan catin harus mengetahui tentang gejala stunting yaitu perkembangan otak yang tidak optimal pada anak, gangguan pada pertumbuhan fisik, dan metabolisme anak. Selain itu, stunting juga berisiko membuat anak lebih mudah sakit dan kurang produktif ketika dewasa nanti.

“Mengapa seperti itu? Karena bila ibunya kurang gizi, bayi yang dikandung juga tidak dapat berkembang optimal sehingga berpengaruh juga pada perkembangan organ-organ penting si bayi. Hal ini berakibat lahirnya bayi stunting,” ungkap dia.

BACA JUGA: Calon Pengantin, Hindari Merokok karena Bisa Sebabkan Stunting

Catin wanita merupakan seorang calon seorang ibu, mempunyai keinginan ketika hamil sehat sehingga dapat melahirkan anak yang sehat serta bebas stunting. Oleh karena itu, kamu jangan lupa untuk cek kesehatan sekaligus memeriksa status gizi di Puskesmas terdekat, supaya bisa melahirkan generasi bebas stunting.

Hasto mengatakan secara penampilan fisik, anak stunting akan lebih pendek dibandingkan anak-anak seusianya. Selain itu, anak yang stunting umumnya mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak, sehingga menjadi tidak optimal. Akibatnya anak stunting mempunyai kemampuan berpikir dan prestasi belajar yang rendah.

“Banyak faktor yang menyebabkan stunting, di antaranya kekurangan gizi pada sebelum maupun saat kehamilan. Maksudnya di sini adalah mulai dari catin wanita remaja yang kekurangan gizi, waktu menikah, dan hamil nanti berisiko mendapatkan anak stunting,” ungkap dia.

Kalau selama kehamilan asupan gizi si ibu memadai dan juga menerapkan perilaku hidup sehat, risiko menjadi semakin kecil. Sebaliknya, bayi yang lahir sehat tidak otomatis aman dari stunting, misalnya apabila bayi tidak diberikan ASI Eksklusif, bayi mengalami diare dan masalah kesehatan lainnya, maka bayi dapat berisiko menjadi anak stunting. Untuk itu, catin perlu sekali mengetahui status gizi dan cara merawat bayi dengan benar untuk menghindari risiko bayi stunting.

Status gizi yang buruk pada catin wanita merupakan salah satu penyebab stunting yang perlu di ketahui sejak dini ya. Status gizi yang buruk, dapat diketahui melalui pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) dan Indeks Massa Tubuh (IMT). Apabila angka LILA catin di bawah standar yang diharapkan, catin dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui bagaimana cara memperbaiki status LILA dan IMT. Biasanya tenaga kesehatan juga bisa memberikan tips dan info terkait pola makan gizi seimbang dan kebiasaan kebiasaan yang baiknya dilakukan catin secara rutin.

Selain itu catin yang berisiko melahirkan anak stunting yakni catin yang merokok; catin wanita dengan kondisi melahirkan terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak, dan terlalu dekat); serta catin wanita yang anemia.

Catin wanita yang terlalu kurus berisiko tidak mampu mencukupi gizi bagi janin yang dikandungnya kelak. Gemuk atau kurusnya seseorang ditentukan dari Indeks Massa Tubuh
Pengukuran LILA dilakukan untuk mengetahui risiko Kurang Energi Kronik (KEK) atau kekurangan gizi berkepanjangan pada catin wanita.

Hasto mengatakan hal yang tidak kalah penting dalam skrining dan pendampingan kepada Calon Pengantin/Calon PUS adalah membuatnya memahami dan menyadari pentingnya pencegahan stunting. “Pada akhirnya kita semua mengharapkan setiap Calon Pengantin/Calon PUS mau melakukan upaya-upaya pencegahan stunting yang dilandasi pemahaman dan kesadaran,” papar dia.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar