10 Mitos Kesuburan Pria dan Wanita yang Ternyata Tidak Sesuai Fakta Medis

Mitos Kesuburan

Table of Contents

Merencanakan kehamilan sejatinya adalah bagian dari penerapan 8 Fungsi Keluarga dalam panduan BKKBN. Hal ini khususnya terkait dengan fungsi reproduksi. Namun, faktanya, perjalanan merencanakan kehamilan itu sendiri tidak selalu berjalan mulus bagi setiap orang. 

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, tantangan infertilitas (ketidaksuburan) dialami oleh sekitar 10-15% pasangan usia subur di Indonesia. Artinya, dari 39,8 juta pasangan, terdapat 4-6 juta pasangan yang membutuhkan dukungan medis untuk bisa memiliki anak. 

Sayangnya, di tengah upaya memperoleh keturunan, berbagai mitos kesuburan masih banyak beredar dan dipercaya masyarakat. Padahal, informasi yang tidak sesuai dengan fakta medis berisiko membuat pasangan suami istri salah mengambil keputusan, hingga menunda pemeriksaan medis yang penting. 

Mitos Kesuburan Pria dan Wanita yang Masih Banyak Dipercaya

Mitos Kesuburan
Sumber : Envato

Karena itu, sebelum memercayai berbagai anggapan tentang kesuburan pria dan wanita, pahami dulu fakta medis di baliknya. Dengan begitu, kamu dan pasangan tidak mudah terjebak dalam informasi yang keliru. 

Mitos Kesuburan 1# Infertilitas Hanya Dialami Wanita

Ini menjadi salah satu mitos kesuburan yang populer di masyarakat. Faktanya, infertilitas tidak hanya terjadi pada wanita. Kesulitan memperoleh kehamilan bisa disebabkan oleh faktor pria, faktor wanita, kombinasi keduanya, atau bahkan penyebab lain yang belum dapat dijelaskan.

Maka dari itu, saat istri mengalami kesulitan untuk hamil, pemeriksaan kesehatan reproduksi sebaiknya dilakukan oleh kedua belah pihak—bukan hanya pihak wanita saja. Dengan mengetahui penyebabnya sejak dini, dokter pun dapat menentukan penanganan yang paling sesuai untuk meningkatkan peluang kehamilan. 

Mitos Kesuburan 2# Pasangan Muda Pasti Gampang Punya Momongan

Ada mitos yang mengatakan bahwa pasangan yang menikah di usia awal 20-an akan langsung dikaruniai kehamilan pada bulan pertama setelah menikah. Usia muda memang memberikan keuntungan biologis yang optimal. Akan tetapi, usia bukanlah satu-satunya penentu kesuburan pria dan wanita. 

Terdapat banyak faktor lain yang bisa memengaruhi kesehatan reproduksi, terutama yang berhubungan dengan kondisi medis yang tidak disadari. Misalnya, Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), endometriosis, saluran tuba tersumbat, hingga kualitas sperma yang kurang baik pada pria muda akibat gaya hidup tidak sehat. 

Dengan kata lain, kesuburan tidak hanya bergantung pada faktor usia, melainkan pada kondisi kesehatan seseorang secara keseluruhan.

Mitos Kesuburan 3# Kualitas Sperma Jadi Lebih Baik setelah “Puasa” Ejakulasi 10 Hari

Sebagian pasangan sengaja “menabung” sperma dengan tidak berhubungan intim atau ejakulasi selama 10 hari hingga dua minggu. Dengan melakukan hal itu, harapannya jumlah sperma mereka akan melimpah saat masa ovulasi terjadi. 

Fakta kesuburan yang benar perihal mitos ini adalah, menahan ejakulasi terlalu lama justru akan menurunkan motilitas (pergerakan) sperma dan meningkatkan jumlah sperma yang mati. Secara medis, frekuensi ejakulasi yang ideal untuk menjaga kualitas dan pergerakan sperma yang baik, yaitu setiap 2-3 hari sekali.

Mitos Kesuburan 4# Stres Adalah Satu-Satunya Penyebab Sulit Hamil

Kamu sih terlalu stres, makanya susah hamil!” Kalimat ini mungkin sering kamu dengar dan tak jarang, membuat pasangan suami istri jadi merasa terbebani. 

Memang benar bahwa stres kronis dapat mengganggu hormon reproduksi dan siklus ovulasi. Namun, stres tidak menjadi satu-satunya penyebab utama pasangan sulit hamil. Pada akhirnya, pendekatan medis tetap perlu dilakukan untuk mencari akar masalah sesungguhnya. 

Mitos Kesuburan 5# Hanya Berhubungan Intim saat Ovulasi

Banyak pasangan yang terlalu fokus pada aplikasi pelacak masa subur, dan hanya mau berhubungan intim tepat di hari ovulasi. Namun, faktanya, sel telur wanita hanya dapat bertahan hidup selama 12-24 jam setelah dilepaskan. 

Sebaliknya, sperma dapat bertahan hidup di dalam saluran reproduksi wanita hingga lima hari. Artinya, jika pasangan suami istri hanya berhubungan pada hari ovulasi, mereka justru bisa melewatkan masa subur yang dimulai beberapa hari sebelumnya. 

Oleh sebab itu, jika merujuk pada fakta kesuburan terkait mitos ini, maka peluang kehamilan bisa menjadi lebih tinggi jika pasangan rutin berhubungan intim sejak beberapa hari sebelum ovulasi terjadi.

Mitos Kesuburan 6# Menggunakan Kontrasepsi Terlalu Lama Bikin Sulit Hamil

Ada kekhawatiran besar bahwa pil KB, IUD, atau implan akan meninggalkan bahan kimia di dalam tubuh dan membuat rahim menjadi “kering” atau bahkan mandul. Faktanya, alat kontrasepsi modern sangat aman dan tidak akan memicu infertilitas permanen.

Setelah istri menghentikan penggunaan pil KB atau melepas IUD, siklus ovulasinya biasanya akan kembali normal dalam waktu beberapa minggu atau paling lambat beberapa bulan. 

Namun, apabila setelah lepas KB seorang wanita jadi sulit hamil, kemungkinan besar ada kondisi medis lain yang perlu diperiksakan—bukan karena alat kontrasepsinya.

Mitos Kesuburan 7# Peluang Hamil Berhenti setelah Usia 35 Tahun

Usia 35 tahun sering dianggap sebagai “lampu merah” bagi wanita untuk bisa memiliki keturunan. Dari segi medis, memang benar bahwa kuantitas dan kualitas sel telur wanita mulai menurun secara signifikan di usia 35 tahun. 

Akan tetapi, penurunan tersebut tidak serta-merta membuat seorang wanita menjadi mustahil untuk hamil. Faktanya, banyak wanita usia 35 tahun ke atas yang berhasil hamil secara alami dan melahirkan bayi yang sehat. Menjaga pola makan, olahraga teratur, dan pemeriksaan rutin tentunya dapat membantu meningkatkan peluang kehamilan di usia ini.

Mitos Kesuburan 8# Kesuburan Pria Tidak Dipengaruhi Faktor Usia

Kamu pasti pernah melihat berita tentang public figure pria yang masih bisa memiliki anak di usia 60-an. Dari situ, muncul mitos bahwa kesehatan reproduksi pria kebal terhadap penuaan fisik. Fakta kesuburan pria tentu tidak demikian. Jam biologis juga berlaku pada kaum pria. 

Memasuki usia 40-45 tahun, pria akan mengalami penurunan kualitas sperma, mulai dari volume, kecepatan berenang, hingga bentuk selnya (morfologi). Selain itu, usia ayah yang lebih tua juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kelainan genetik dan mutasi DNA pada anak.

Mitos Kesuburan 9# Celana Ketat Bisa Membuat Pria Mandul

Penggunaan celana jeans ketat juga kerap disebut sebagai penyebab utama pria menjadi mandul. Faktanya, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Memang, testis berada di luar tubuh karena membutuhkan suhu yang sedikit lebih rendah daripada suhu inti tubuh agar produksi sperma berlangsung optimal.

Sementara itu, memakai celana atau pakaian dalam yang sangat ketat dapat menaikkan suhu di area tersebut dan menurunkan produksi sperma untuk sementara waktu. Namun, hal ini tentu tak langsung membuat pria mengalami kemandulan atau infertilitas permanen. 

Meski demikian, memilih pakaian dalam yang lebih longgar, seperti boxer, tetap dianjurkan. Ini penting untuk menjaga suhu ideal di area testis dan mendukung kesehatan reproduksi pria secara keseluruhan. 

Mitos Kesuburan 10# Ejakulasi Terlalu Sering Dapat Menurunkan Kualitas Sperma

Banyak pula yang percaya bahwa berhubungan intim setiap hari akan membuat sperma menjadi “encer”. Alhasil, sperma bisa kehilangan kemampuannya untuk membuahi sel telur. 

Namun, kenyataannya, selama pria tersebut memproduksi sperma dalam jumlah yang normal, ejakulasi setiap 1-2 hari sekali, kondisi tersebut tidak akan menguras cadangan sperma yang sehat. 

Sebaliknya, ejakulasi rutin dapat memastikan sperma yang dikeluarkan adalah sperma baru dengan kualitas DNA yang baik (bukan sperma lama yang sudah tidak aktif).

Pada akhirnya, keberhasilan merencanakan kehamilan tidak ditentukan oleh mitos yang beredar, melainkan oleh pemahaman yang tepat tentang kesehatan reproduksi. Dengan bekal informasi yang akurat, pasangan suami istri dapat menjalani program kehamilan dengan lebih tenang, percaya diri, dan penuh harapan. 

Butuh informasi lebih lanjut terkait kesehatan reproduksi, persiapan kehamilan, hingga pernikahan? Konsultasikan langsung dengan pakarnya di sini

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
BACA JUGA ARTIKEL  Sebelum Menikah, Ketahui Syarat Sah Perkawinan Berikut Ini
Scroll to Top