Sebagai orang tua, melihat anak betah berlama-lama dengan gawai rasanya tentu serba salah. Gawai memang bisa menjadi sarana belajar, hiburan, dan komunikasi yang efektif. Namun, jika tidak diatur dengan baik, aktivitas screen time ini dapat mengganggu waktu tidur, aktivitas fisik, konsentrasi belajar, hingga kedekatannya dengan keluarga.
Karena itu, mengatur screen time anak bukan berarti melarang anak memakai gawai sama sekali, melainkan membantunya memahami batasan dan menggunakan teknologi secara lebih bijak.
Dalam hal ini, orang tua perlu menerapkan digital parenting, yaitu cara mendampingi anak agar dapat menggunakan teknologi secara sehat, aman, dan sesuai usia.
Apalagi, ruang digital kini menjadi perhatian bersama. Pemerintah telah menerbitkan PP Tunas, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang perlindungan anak dalam penyelenggaraan sistem elektronik.
Kehadiran aturan ini menjadi pengingat bahwa anak perlu dilindungi saat memakai layanan digital, baik oleh pemerintah, platform, sekolah, maupun keluarga.
Mengapa Anak Susah Lepas dari Gawai?

Sebelum memarahi anak, orang tua perlu memahami dulu penyebab anak sulit lepas dari gawai. Beragam konten digital memang dirancang menarik. Video pendek, game, musik, warna cerah, serta berbagai notifikasi membuat anak ingin terus menonton atau bermain.
Selain itu, anak kadang memakai gawai karena bosan, lelah, ingin hiburan, atau belum punya pilihan aktivitas lain. Jika setiap kali anak rewel langsung diberi ponsel, ia bisa belajar bahwa gawai adalah cara paling cepat untuk merasa nyaman.
Dengan memahami hal ini, orang tua dapat melihat bahwa penggunaan gawai pada anak bukan hanya soal kemauan anak. Rutinitas di rumah, contoh dari orang tua, dan pola pendampingan keluarga juga ikut membentuk kebiasaan tersebut.
Screen Time Anak Perlu Diatur, Bukan Sekadar Dilarang
Larangan total sering kali membuat anak semakin penasaran atau justru memicu drama di rumah. Pendekatan yang lebih sehat adalah membuat aturan yang jelas, masuk akal, dan konsisten.
Orang tua dapat mulai mengevaluasi beberapa hal sederhana:
- Berapa lama anak memakai gawai setiap hari?
- Konten apa yang paling sering ditonton?
- Apakah gawai mengganggu waktu tidur, makan, belajar, atau ibadah?
- Apakah anak masih punya waktu bermain di luar layar?
- Apakah anak marah berlebihan saat gawai diminta berhenti?
Jika beberapa hal di atas mulai terasa mengganggu, itu tanda screen time anak perlu diatur ulang.
Cara Mengatur Screen Time Anak Tanpa Drama

Mengatur gawai tidak harus dimulai dengan aturan yang keras. Kuncinya adalah komunikasi, kebiasaan bertahap, dan contoh dari orang tua.
1. Buat Kesepakatan, Bukan Sekadar Larangan
Anak lebih mudah menerima aturan jika ia tahu alasannya. Hindari langsung berkata, “Pokoknya tidak boleh main HP!” Cobalah menggantinya dengan penjelasan yang lebih tenang.
Misalnya, “Kamu boleh menonton, tapi waktunya dibatasi supaya mata bisa istirahat dan tetap punya waktu bermain yang lain.”
Setelah itu, buat kesepakatan sederhana. Contohnya, gawai boleh digunakan setelah tugas selesai, tidak dipakai saat makan, dan tidak dibawa ke tempat tidur. Untuk anak yang lebih kecil, aturan bisa dibuat dalam bentuk gambar atau jadwal harian.
2. Kurangi Waktu Layar Secara Bertahap
Jika anak sudah terbiasa memakai gawai dalam waktu lama, pengurangan mendadak bisa memicu penolakan. Maka, lakukan secara bertahap.
Misalnya, jika biasanya anak menonton selama dua jam, kurangi sedikit demi sedikit. Ganti sebagian waktunya dengan aktivitas lain, seperti membaca buku cerita, menggambar, bermain bola, membantu memasak, atau jalan sore bersama keluarga.
Dengan begitu, anak tidak merasa “kehilangan” hiburan, tetapi mulai mengenal pilihan kegiatan lain.
Baca juga artikel: Membangun Kebiasaan Baru Langkah Kecil Untuk Perubahan Besar
3. Pilih Konten yang Sesuai Usia
Dalam digital parenting, durasi bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Isi konten juga penting.
Tidak semua konten yang terlihat lucu atau berwarna cerah cocok untuk anak. Orang tua perlu memperhatikan rating usia, isi video, komentar, iklan, dan fitur interaksi di dalam aplikasi.
Sesekali, tontonlah bersama anak. Setelah itu, ajak anak berbicara ringan. Misalnya, “Menurut kamu, bagian itu baik ditiru atau tidak?” Cara ini membantu anak belajar menilai konten, bukan hanya menjadi penonton pasif.
4. Tetapkan Zona Bebas Gawai
Agar screen time anak lebih terkendali, keluarga bisa membuat zona atau waktu bebas gawai. Contohnya saat makan bersama, menjelang tidur, waktu belajar, waktu ibadah, atau saat keluarga sedang berbincang.
Aturan ini sebaiknya berlaku untuk semua anggota keluarga. Jika anak diminta berhenti memakai gawai saat makan, orang tua juga perlu memberi contoh dengan tidak sibuk membuka ponsel.
Anak lebih mudah mengikuti aturan ketika ia melihat orang tua melakukan hal yang sama.
5. Jangan Jadikan Gawai Satu-satunya Penenang
Memberi gawai saat anak rewel memang terasa praktis. Namun, jika terlalu sering dilakukan, anak bisa kesulitan menenangkan diri tanpa layar.
Orang tua dapat mengenalkan cara lain, seperti memeluk anak, mengajak menarik napas, memberi minum, membacakan cerita, atau mengalihkan ke permainan sederhana. Cara ini mungkin tidak langsung berhasil, tetapi akan membantu anak belajar mengelola emosi secara perlahan.
Keamanan Digital Anak Tetap Harus Jadi Prioritas
Selain mengatur durasi, orang tua juga perlu menjaga keamanan digital anak. Anak belum selalu paham bahwa tidak semua orang di internet bisa dipercaya. Mereka juga belum tentu tahu bahwa informasi pribadi tidak boleh dibagikan sembarangan.
Ajari anak untuk tidak memberikan nama lengkap, alamat rumah, nama sekolah, nomor telepon, lokasi, foto dokumen, atau kata sandi kepada siapa pun di internet.
Jika anak sudah mulai memakai game online atau media sosial, ingatkan agar tidak membalas pesan dari orang asing. Beri tahu anak bahwa ia boleh langsung bercerita jika ada pesan, komentar, atau ajakan yang membuatnya tidak nyaman.
Kalimat sederhana seperti, “Kalau ada orang yang membuat kamu bingung atau takut di internet, langsung cerita ke Ayah atau Ibu, ya,” bisa membuat anak merasa aman untuk terbuka.
PP Tunas dan Momentum Orang Tua Lebih Peduli Ruang Digital Anak
PP Tunas menunjukkan bahwa perlindungan anak di ruang digital bukan lagi hal kecil. Anak perlu dilindungi dari konten yang tidak sesuai usia, penyalahgunaan data pribadi, dan risiko interaksi digital yang merugikan.
Namun, aturan pemerintah tetap perlu dimulai dari kebiasaan di rumah. Orang tua bisa mengambil langkah sederhana, seperti mengaktifkan kontrol orang tua, mengatur privasi aplikasi, mengenali platform yang digunakan anak, dan membuat kesepakatan digital keluarga.
Digital parenting bukan tentang menjadi orang tua yang serba tahu teknologi. Yang terpenting adalah mau hadir, bertanya, mendampingi, dan tidak membiarkan anak sendirian di dunia digital.
Penutup
Anak yang susah lepas dari gawai bukan berarti harus langsung membuat orang tua panik. Yang dibutuhkan adalah aturan yang jelas, komunikasi yang tenang, contoh dari orang tua, dan pendampingan yang konsisten.
Screen time anak dapat dikelola tanpa drama jika keluarga memiliki kesepakatan bersama. Gawai boleh menjadi bagian dari kehidupan anak, tetapi tidak boleh menggantikan tidur yang cukup, aktivitas fisik, interaksi keluarga, dan pengalaman belajar di dunia nyata.
Dengan digital parenting yang tepat, anak tidak hanya belajar memakai teknologi, tetapi juga memahami cara menjaga diri, mengatur waktu, dan bertanggung jawab di ruang digital.
Jika penggunaan gawai mulai membuat anak sering sulit tidur, mudah marah, menarik diri, sulit fokus, menolak aktivitas lain, atau memicu konflik berulang di rumah, orang tua dapat mempertimbangkan untuk mencari bantuan.
Untuk mendapatkan arahan awal yang lebih sesuai dengan kondisi keluarga, orang tua juga bisa memanfaatkan fitur konsultasi di Platform Siap Nikah dan berdiskusi dengan para ahli.