Lebaran: Saat Pertanyaan Terasa Menekan

Cover - Tips Membangun Hubungan Baik dan Harmonis dengan Orang tua

Table of Contents

Oleh
Retno Dewanti P., S.Sos., M.A.P., M.I.Kom

Lebaran seringkali selalu identik dengan kebersamaan. Rumah ramai, meja makan penuh, dan keluarga berkumpul setelah lama tidak bertemu. Namun di balik suasana hangat itu, ada satu hal yang hampir selalu muncul setiap tahun yakni pertanyaan-pertanyaan yang terdengar biasa, tetapi bisa terasa menekan.
”Bagaimana ujiannya, sama temen bagusan mana?”
“Kapan nikah?”
“Sudah punya pasangan belum?”

Bagi sebagian orang dewasa, ini mungkin hanya pertanyaan sederhana. Tapi bagi anak muda, pertanyaan seperti ini bisa terasa seperti “ujian sosial” yang harus dijawab dengan benar. Lebaran yang seharusnya menjadi ruang pulang dan bergembira, justru berubah menjadi ruang yang membuat tidak nyaman.
Sayangnya, dalam banyak keluarga, percakapan saat Lebaran seringkali bukan dialog, melainkan pertanyaan satu arah yang sarat ekspektasi. Tanpa disadari, pertanyaan yang terus berulang bisa membuat anak merasa tidak cukup baik, dibandingkan, bahkan dihakimi.

Dalam kajian komunikasi, Barnes dan Olson (1985) menekankan bahwa kualitas hubungan orang tua dan anak sangat dipengaruhi oleh keterbukaan (openness) dan komunikasi yang suportif. Artinya, hubungan yang sehat bukan dibangun dari banyaknya pertanyaan, tetapi dari bagaimana percakapan itu memberi rasa aman dan nyaman.
Ketika percakapan berubah menjadi tekanan, remaja cenderung memilih diam, menghindar, atau menjauh. Lebaran pun tidak lagi terasa hangat, melainkan sekadar momen yang ingin segera berlalu.
Mungkin yang perlu kita ubah bukan sekadar topik pembicaraan, tetapi cara kita berkomunikasi.
Alih-alih bertanya, “kapan nikah?”, bisa beralih, “Akhir-akhir ini kamu lagi fokus apa?”
atau “Apa yang lagi kamu jalani sekarang?”.

Alih-alih memberi nasihat panjang, kita bisa mulai dengan mendengar.
Karena percakapan yang baik bukan yang penuh tuntutan, tetapi yang memberi rasa aman. Anak termasuk remaja bahkan remaja dewasa tidak selalu membutuhkan solusi. Mereka lebih membutuhkan kehadiran, perhatian, dan penerimaan.
Lebaran dalah momen yang sangat berharga. Menjadi tempat yang paling hangat, bukan ruang yang membuat anak merasa dihakimi. Suasana yang lebih santai dan waktu kebersamaan yang lebih panjang bisa menjadi kesempatan untuk membangun kembali koneksi emosional dalam keluarga. Jika tahun ini bisa mengurangi satu pertanyaan yang menekan dan kemudian menggantinya dengan percakapan yang penuh empati, mungkin itu sudah cukup untuk membuat anak merasa lebih dekat dengan keluarganya. Karena pada akhirnya, yang paling diingat anak bukan pertanyaan yang kita ajukan, tetapi bagaimana membuat mereka merasa diterima yakni perasaan diterima apa adanya.

BACA JUGA ARTIKEL  Mau Menambah Momongan? Siapkan Dulu Si Kakak untuk Punya Adik
Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
0
+1
10
+1
0
+1
0
Scroll to Top