Toxic Parenting (Foto: Pixabay)

Sebagai orang tua tentunya kamu ingin mengasuk buah hati dengan penuh kasih sayang dan tidak ingin terjebak dalam pola asuh yang ternyata toxic parenting. Biasanya dalam toxic parenting, orang tua tidak memperlakukan anaknya dengan hormat sebagai individu. Hal ini memiliki dampak negatif dan mampu menimbulkan luka jangka panjang pada buah hati.

Perlakuan itu misalnya tidak memuji pekerjaan anak, sehingga tanpa sadar kamu meremehkan hal-hal yang sudah dilakukan anak dalam kesehariannya. Atau, bisa juga karena sering membanding-bandingkan anak yang satu dengan lainnya, sehingga menurunkan rasa kepercayaan diri salah satu dari mereka.

Psikoterapis Sherry Gaba LCSW mengatakan toxic parenting dapat ditandai dengan beberapa hal berikut ini:

1. Sangat reaktif negatif
Orang tua yang toxic secara emosional biasanya tidak terkendali. Orang tua ini cenderung mendramatisasi masalah kecil dan melihat kemungkinan kecil sebagai alasan untuk menjadi bermusuhan, marah, kasar secara verbal, atau destruktif.

2. Sangat mengontrol
Semakin toxic individu, semakin mereka ingin mengendalikan segalanya dan semua orang di sekitarnya. Ini berarti toxic parenting mengasuh anak secara berlebihan dan membuat tuntutan yang tidak masuk akal bahkan pada anak-anak dewasa.

3. Kurang empati
Orang tua yang toxic tidak dapat berempati dengan orang lain. Sebaliknya, semuanya tentang mereka dan kebutuhan mereka, dan mereka gagal untuk melihat apapun yang mereka lakukan dilihat oleh orang lain sebagai mengganggu, berbahaya, atau menyakitkan.

4. Menyalahkan orang lain
Ketidakharmonisan, ketidaksepakatan, permusuhan, dan kehancuran keluarga yang disebabkan toxic parenting selalu merupakan kesalahan orang lain. Orang tua ini tidak dapat bertanggung jawab atas masalah apa pun, tetapi menyalahkan anggota keluarga lainnya dan memutarbalikkan atau memanipulasi cara melihat peristiwa ini.

5. Sangat kritis
Toxic parenting tidak dapat atau tidak akan melihat prestasi anak-anaknya, terlepas dari seberapa berhasil sang anak. Orang tua toxic terus-menerus merendahkan orang-orang di sekitar mereka sambil menjadikan dirinya luar biasa atau berbakat.

Terapis keluarga dan pernikahan Darlene Lancer, JD, LMFT mengatakan, toxic parenting tidak akan berkompromi, bertanggung jawab atas perilakunya, atau meminta maaf.

“Seringkali orang tua ini memiliki gangguan mental atau kecanduan yang serius. Kita semua hidup dengan konsekuensi dari pengasuhan yang buruk. Namun, jika masa kecil kita traumatis, kita membawa luka dari pola asuh yang kasar atau tidak berfungsi,” kata Lancer.

BACA JUGA: Ingat! Bukan Cuma Materi, Anak Juga Butuh Kasih Sayang

Saat seseorang tumbuh dengan pola asuh disfungsional, mungkin tidak menyadarinya, rasanya akrab dan normal. Orang itu mungkin menyangkal dan tidak menyadari telah dianiaya secara emosional, terutama jika kebutuhan materi terpenuhi. Lancer menyadari hubungan anak dengan orang tua yang toxic bisa sulit untuk dihindari. Anak mungkin membutuhkan jarak dari orang tua untuk membuat batasan yang tidak dapat dibuat secara lisan.

Gaba mengatakan, faktor pertama dan terpenting yang harus disadari anak-anak dari orang tua yang toxic adalah bahwa anak-anak hanya dapat mengontrol perilaku mereka, anak-anak tidak memiliki kemampuan untuk mengubah atau mengontrol perilaku orang tua mereka atau orang tua yang memilih.

Namun, bukan berarti ini menjadi kesempatan bagi kamu untuk tidak berubah. Jika anak sudah mengalah dan mencoba memahami orang tua, ada baiknya kamu evaluasi diri, dan mengubah perilaku demi mental anak-anak yang lebih sehat.

Bertemu di ruang publik memungkinkan anak untuk pergi jika orang tua yang toxic tidak menghormati batasan anak, dan itu juga menciptakan tempat netral.

Perawatan diri dengan bersikap baik kepada diri sendiri juga bisa menjadi cara menghadapi toxic parenting. Anak tidak perlu menghabiskan setiap hari libur atau acara khusus bersama orang tuanya. Melainkan, habiskan waktu dengan orang-orang yang positif, membuat anak merasa hebat tentang diri sendiri, dan itu mendorongnya untuk terus menjadi orang yang luar biasa.

“Berbicara dengan terapis atau konselor juga dapat menjadi instrumen dalam membantu memahami dampak orang tua yang toxic terhadap hidup anak dan mengembangkan strategi manajemen yang efektif untuk hubungan di masa mendatang,” kata Gaba.

Bagaimana Tanggapan Anda Tentang Artikel Ini?
+1
0
+1
4
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar